Kompor Listrik Tak Cocok untuk Masyarakat Miskin, Lebih Murah LPG 3 Kg

Senin, 26 September 2022 13:55 Reporter : Sulaeman
Kompor Listrik Tak Cocok untuk Masyarakat Miskin, Lebih Murah LPG 3 Kg Kompor listrik. ©2021 Istimewa

Merdeka.com - Direktur Center Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyatakan, program konversi kompor listrik tidak cocok diterapkan pada kelompok masyarakat miskin dengan daya listrik 450 sampai 900 volt ampere (VA). Alasannya, penggunaan kompor induksi membutuhkan listrik dengan daya besar.

"Kompor listrik kurang pas untuk daya 450 va dan 900 VA, karena butuh daya listrik yang besar," kata Bhima kepada Merdeka.com di Jakarta, Senin (26/9).

Sehingga, pelanggan kelompok ekonomi bawah tersebut harus menambah daya di atas 900 VA agar bisa lebih optimal menggunakan kompor listrik. Ironisnya, hal tersebut justru akan membebani biaya tagihan masyarakat kelompok miskin yang ujung-ujungnya akan lebih mahal dibandingkan penggunaan kompor gas LPG 3 kilogram.

"Kalau orang miskin disuruh memilih kompor listrik dengan naik daya, atau beli LPG 3 kg jelas lebih murah menggunakan LPG 3 kg," ucapnya.

Pun, tidak semua alat memasak cocok digunakan untuk kompor listrik. Oleh karena itu, masyarakat harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli peralatan memasak baru. "Alat masak kompor listrik khusus, mahal dan memberatkan orang miskin," tutupnya.

2 dari 2 halaman

Tujuan Lain dari Program Konversi Kompor Listrik

Sebelumnya, Direktur Center Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menilai ada tujuan lain dari pemerintah dalam program migrasi penggunaan kompor listrik dari kompos gas LPG. Salah satunya untuk mengurangi ketergantungan negara terhadap bahan bakar fosil.

"Pemerintah ingin kurangi ketergantungan bahan bakar fosil, tapi di hulu pembangkit listrik masih dominan batubara dan BBM," kata Bhima saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Sabtu (24/9).

Hanya saja, cara ini dinilai Bhima sangat tidak tepat. Mengingat hulu pembangkit listrik juga masih menggunakan batu bara untuk menghasilkan energi listrik. "Jadi sama saja konsumsi listrik naik maka PLTU yang butuh batu bara semakin tinggi," kata dia.

Alhasil, Bhima mengatakan strategi yang digunakan ini hanya memindahkan beban penggunaan energi. Semula bebannya di hilir kini akan dipindahkan di hulu. [azz]

Baca juga:
Program Konversi Kompor Listrik Ditunda, Beban PLN Bakal Makin Membengkak
Terungkap, Ini Tujuan Lain dari Program Konversi Kompor Gas Elpiji ke Kompor Listrik
Ini Faktor Buat Sulitnya Penerapan Kompor Listrik di Indonesia
Daya Watt Terlalu Besar, Program Konversi Kompor Listrik Sulit Terealisasi

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini