Kementan sebut penyebaran virus Antrax lewat 3 cara

Senin, 23 Januari 2017 17:35 Reporter : Syifa Hanifah
Kementan sebut penyebaran virus Antrax lewat 3 cara hewan kurban. ©2012 Merdeka.com/dok

Merdeka.com - Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita mengatakan penyebaran virus antraks pada sapi sangat mudah dikendalikan. Caranya, pemberian vaksin kepada sapi terlebih secara rutin enam bulan sekali.

"Antraks ini penyakit yang sulit untuk diberantas, tapi mudah dikendalikan karena penyebabnya bakteri, bukan penyebabnya virus. Tapi bakteri yang namanya bakteri Bacillus Anthracis. Nah, kenapa saya katakan mudah dikendalikan? Karena dia bisa terkendali karena vaksin, asal dinas-dinas tersebut rajin melakukan vaksin pada sapinya, dombanya, kambingnya saya jamin clear," ujarnya di Jakarta, Senin (23/1).

Lebih lanjut, I Ketut menjelaskan saat ini Indonesia sedang memasuki musim hujan. Hal ini yang membuat virus antraks menjadi bekembang dikarenakan tidak adanya sumber panas dari matahari. Untuk itu, dia mengingatkan agar tak mengkonsumsi sapi yang mati karena virus antraks.

"Matahari jarang muncul spora-spora antraks itu kan naik keatas. Kalau dia (sapi) tidak tervaksin, tidak ada kekebalan sapinya. Untuk sapi yang mati akibat apapun, itu enggak boleh dipotong, apalagi sapi yang ada antraksnya jangankan dipotong dibuka saja enggak boleh, karena sporanya kan terbang dan kita hirup jadi kita kena paru- paru," jelasnya.

Dia juga menjelaskan terdapat tiga penyerangan virus antraks yaitu kulit, pernapasan dan pencernaan. Sementara, kasus yang terjadi di Kulonprogo, menurutnya, masyarakat kurang informasi soal penyakit ini, sehingga masih mengkonsumsi sapi yang sudah mati.

"Iya saya rasa, jadi kemarin kita kerja sama dengan dinas kesehatan. Saya maunya yang manusia oleh Kemenkes, yang hewan di kita (Kementan). Jadi walau kita punya uang sedikit tetap jalan. Dan juga kalau bisa wartawan memberikan peringatan bahwa memakan daging sapi mati bukan hanya disalahkan dalam ilmu pengetahuan tapi disalahkan oleh ilmu agama," pungkasnya. [sau]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini