Indonesia Waspada Dampak Resesi Ekonomi Amerika

Jumat, 1 Juli 2022 11:32 Reporter : Merdeka
Indonesia Waspada Dampak Resesi Ekonomi Amerika Raker Komisi II DPR dan pemerintah menetapkan daerah otonomi baru Papua. ©2022 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati menyebut, terdapat risiko baru yang dianggap bisa membebani pertumbuhan ekonomi global maupun nasional. Salah satunya yang berhubungan dengan geopolitik yakni masih berlangsungnya perang Rusia dan Ukraina.

Di hadapan DPR, Menkeu Sri Mulyani mengatakan pemulihan ekonomi yang berjalan sekarang ini dengan pelaksanaan dan penanganan covid-19 yang baik, semakin memberikan optimisme terhadap kepercayaan diri dari masyarakat untuk beraktivitas kembali.

"Berlangsungnya perang (di Ukraina) yang menimbulkan spillover terhadap kenaikan harga-harga komoditas pangan dan juga energi, termasuk pupuk," kata Menkeu dalam Rapat Kerja bersama Badan Anggaran DPR RI dan Gubernur Bank Indonesia, dalam rangka Pembahasan Laporan Realisasi Semester I dan Prognosis Semester II APBN TA 2022, Jumat (1/7).

Tak hanya itu saya, risiko lainnya adalah disrupsi suplai yang berkepanjangan diakibatkan juga oleh geopolitik sehingga menimbulkan tekanan inflasi. Oleh karena itu, peran Bank Sentral vital dalam menstabilkan dari sisi harga.

Kemudian, pada saat inflasi tinggi, Amerika Serikat memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR). Tentunya, hal itu bisa berpotensi menimbulkan gejolak volatilitas.

"Karena peranan US Dollar di dalam transaksi dunia itu lebih dari 60 persen. Jadi, ini akan dampak yang sangat signifikan kepada seluruh dunia," ujarnya.

Bahkan, kata Menkeu Sri Mulyani, semua pandangan dari ekonom dan policy maker menggambarkan resesi di Amerika Serikat sekarang menjadi suatu kemungkinan atau posibilitas yang tidak bisa dihindarkan.

"Dengan situasi ini, kita harus sekarang memusatkan level dan sumber risiko yang berasal dari volatilitas sektor keuangan, akibat perubahan dari kebijakan yang terjadi karena adanya tadi supply distraction inflation yang kemudian harus distabilkan," jelasnya.

2 dari 2 halaman

Dibutuhan Kebijakan Tepat

tepat rev1

Menurutnya, dengan adanya tekanan kenaikan inflasi tersebut, maka dibutuhkan respon yang tepat dari sisi kebijakan moneter dan fiskal.

"Namun kita juga memahami bahwa inflasi ini walaupun sebagian sangat besar adalah karena adanya sisi supply yang terdisrupsi, juga karena demand side dengan pemulihan ekonomi memberikan kontribusi. Jadi kita juga harus balance untuk mengelolanya pada hari ini dan ke depan," jelasnya.

Menkeu pun menyebutkan beberapa komoditas yang mengalami kenaikan tinggi secara global semenjak awal 2022, yaitu minyak, gas dan mineral, serta makanan.

Tidak berhenti disitu saja, ekspansi dari kegiatan ekonomi juga terlihat dari sisi manufaktur. Namun, pihaknya sudah melihat tanda-tanda stagnasi dari ekspansi tersebut.

"Namun sudah mulai leveling off atau dalam hal ini sudah mulai menunjukkan adanya saturasi karena adanya kenaikan harga-harga dan confidence dari masyarakat yang juga mengalami tekanan karena adanya inflasi yang tinggi," ujarnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6

Baca juga:
Anggaran PEN di 2021 Hanya Terserap 87,96 Persen
Jokowi Usulkan 3 Hal Cegah Ancaman Hilangnya Dekade Pembangunan
Menko Luhut: Kadin Harus Lebih Kuat Bantu Pemulihan Ekonomi
Per 17 Juni 2022, Penyerapan Anggaran PEN Capai Rp113,5 Triliun
Sri Mulyani Khawatir Lonjakan Kasus Covid-19 Kembali Hambat Pemulihan Ekonomi
Sri Mulyani: Muncul Risiko Baru yang Mengancam Pemulihan Ekonomi
Pemerintah Setujui Pengadaan 29 Juta Dosis Vaksin PMK Pakai Anggaran PEN

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini