Indonesia Dinilai Sulit Cari Peluang dari Perang Dagang AS-China

Senin, 17 Juni 2019 12:06 Reporter : Dwi Aditya Putra
Indonesia Dinilai Sulit Cari Peluang dari Perang Dagang AS-China perang dagang. ©2018 liputan6.com

Merdeka.com - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China masih menjadi tantangan untuk ekonomi global. Saat ini banyak negara-negara lain justru cemas karena perseteruan kedua negara ini. Namun Vietnam berhasil meraup peluang ekonomi atas situasi yang terjadi.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core), Piter Abdullah mengakui Indonesia masih cukup sulit untuk mencuri peluang dari perang dagang antara AS-China. Sebab, di tengah gesekan antar kedua negara tersebut Indonesia harus memacu ekspornya untuk tetap tumbuh.

"Jujur saja kita sangat sulit memanfaatkan perang dagang. Peluang dari perang dagang tidak mudah bukan tidak mungkin," katanya saat dihubungi merdeka.com, Senin (17/6).

Piter menyebut salah satu peluang yang bisa diambil Indonesia yakni memacu laju ekspor. Sementara, yang diperlukan di tengah bergulirnya perang dagang menurut dia adalah dengan menggenjot produk-produk manufaktur. Sedangkan, pertumbuhan manufaktur secara nasional masih jauh dari harapan.

"Kita harus jujur bahwasanya manufaktur itu kita tinggalkan selama ini, pertumbuhan manufaktur kita selama beberapa tahun terakhir di bawah 5 persen. kontribusi manufaktur kita terus turun," katanya.

Oleh karenanya, dia meminta pemerintah tidak menjadikan produk manufaktur sebagai ujung tombak di tengah kondisi perang dagang saat ini. Sebab tidak mungkin memacu manufaktur dalam waktu singkat.

"Pun tidak bisa itu dalam waktu singkat kita ubah (manufaktur) menjadi itu andalan kita. Itu harus kita sadari. Ujug-ujug kita lompat menjadi negara ekspor barang-barang manufaktur tidak mungkin itu," ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah justru perlu mewaspadai dampak dari adanya perang dagang ini. Karena dengan jumlah penduduk yang besar Indonesia justru dijadikan sasaran empuk untuk dimasuki barang-barang impor dari berbagai negara.

Dia menambahkan selama ini pasar Indonesia kian terbuka lebar dengan banyak melakukan kerja sama perdagangan nasional maupun internasional. Pemerintah bahkan membuka dengan tarif nol persen, sementara non tarifnya tidak dipersiapkan dengan baik.

"Di tengah kondisi perlambatan perang dagang ini semua negara itu berusaha melakukan penetrasi untuk masuk ke pasar-pasar baru. Kita itu menjadi sasaran empuk sekarang ini. Justru ini harus dipikirkan ke depan," jelasnya.

"Kalau saya seharusnya pemerintah fokusnya adalah bukan untuk memacu ekspor, boleh untuk pertahankan ekspor kita meningkatkan pasar-pasar yang sudah ada mungkin penetrasi pasar baru, tapi jangan lupa yang terlalu penting lagi melindungi pasar dalam negeri jangan menjadi sasaran empuk bagi negara negara produsen," pungkasnya. [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini