8 Amalan Saat Peringatan Maulid Nabi 2025, Penuh Berkah dan Pahala Berlimpah

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 2025 akan menjadi kesempatan penting bagi umat Islam untuk menerapkan ajaran dan mencontoh akhlak beliau.

Edelweis Lararenjana
Oleh Edelweis Lararenjana - Reporter
8 Amalan Saat Peringatan Maulid Nabi 2025, Penuh Berkah dan Pahala Berlimpah
Ilustrasi masjid bercahaya (Foto: AI) (© 2025 Liputan6.com)

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun 2025 menjadi sebuah peristiwa yang sangat berarti bagi umat Islam di seluruh dunia. Momen ini bukan hanya sekadar perayaan tahunan, melainkan juga merupakan kesempatan berharga untuk merenungkan makna kelahiran Rasulullah SAW. Umat Muslim diharapkan dapat mengamalkan ajaran dan meneladani akhlak mulia beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriah. Pada tahun 2025, tanggal tersebut akan jatuh pada hari Jumat, 5 September 2025, menurut perhitungan kalender Hijriah yang ditetapkan oleh Kementerian Agama RI dan Nahdlatul Ulama (NU). Namun, Muhammadiyah mengumumkan bahwa 12 Rabiul Awal 1447 H akan jatuh pada hari Kamis, 4 September 2025. Meskipun terdapat perbedaan dalam penetapan tanggal, hal ini tidak mengurangi makna dari peringatan Maulid Nabi.

Melalui berbagai amalan pada Maulid Nabi 2025, umat Islam diharapkan dapat memperoleh berkah dan pahala yang berlipat. Oleh karena itu, berikut ini beberapa amalan yang dapat menjadikan Maulid Nabi 2025 sebagai momentum untuk meraih pahala yang berlipat ganda serta keberkahan dalam hidup. Dengan melaksanakan amalan tersebut, diharapkan umat Muslim semakin dekat dengan ajaran Rasulullah SAW dan mendapatkan petunjuk dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Makna dan Tujuan Peringatan Maulid Nabi

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memiliki arti yang sangat penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Momen ini menjadi kesempatan untuk merenungkan ajaran-ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah serta memperkuat iman kepada Allah SWT. Selain itu, perayaan ini merupakan ungkapan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang dianggap sebagai anugerah terbesar bagi umat manusia. Tujuan utama dari peringatan Maulid Nabi adalah untuk mengenang perjalanan hidup dan meneladani sifat-sifat mulia Rasulullah SAW. Umat Islam diajak untuk meningkatkan rasa cinta kepada beliau, karena mencintai Nabi merupakan sebuah kewajiban. Peringatan ini diharapkan dapat mendorong umat Muslim untuk lebih giat dalam beribadah dan bertakwa, melalui pembacaan Al-Qur'an dan memperbanyak selawat.

Selain itu, Maulid Nabi juga berfungsi sebagai media dakwah dan pendidikan bagi umat Islam. Melalui ceramah dan pembacaan sirah Nabi, umat dapat memperluas wawasan agama dan memperkuat akidah. Peringatan ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat tali persaudaraan di antara sesama umat Islam, sehingga tercipta kebersamaan dalam kebaikan. Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga sarana untuk memperkuat iman dan meningkatkan solidaritas antar umat Islam.

Amalan Utama yang Bisa Dilakukan saat Maulid Nabi

Ilustrasi Masjid
Ilustrasi Masjid Photo by Abdullah Inam on Unsplash

Berbagai amalan penting dapat dilakukan saat memperingati Maulid Nabi untuk memperoleh berkah dan pahala yang berlipat. Berikut adalah beberapa amalan yang sangat dianjurkan:

Memperbanyak Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk bershalawat kepada Nabi, sebagaimana yang tercantum dalam firman-Nya dalam QS. Al-Ahzab ayat 56: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya." Keutamaan dari shalawat ini sangat besar, termasuk mendapatkan pahala berlipat ganda, syafaat Nabi di akhirat, serta sebagai penghapus dosa.

Membaca dan Mengkaji Al-Qur'an juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan dan dapat mendatangkan pahala yang melimpah. Al-Qur'an adalah mukjizat terbesar yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Rasulullah bersabda, "Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya di hari kiamat." (HR Muslim). Dengan membaca, memahami, dan menghayati Al-Qur'an, kita dapat menghormati risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sekaligus memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Bersedekah dan Berbagi dengan Sesama adalah amalan yang mencerminkan kedermawanan Nabi Muhammad SAW. Maulid Nabi adalah waktu yang tepat untuk memberikan sedekah kepada fakir miskin, anak yatim, atau mereka yang membutuhkan. Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad). Amalan ini tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menunjukkan rasa kepedulian sosial yang diajarkan oleh Nabi.

Mengkaji Sirah Nabi dan Menghadiri Majelis Ilmu juga sangat dianjurkan. Membaca atau mendengarkan kisah hidup Nabi Muhammad SAW (Sirah Nabawiyah) membantu umat untuk lebih mengenal perjuangan dan teladan beliau. Menghadiri majelis ilmu dapat menambah pengetahuan tentang agama, menguatkan iman, dan memberikan ketenangan batin. Kajian yang diadakan saat Maulid Nabi biasanya membahas riwayat hidup, perjalanan dakwah, dan akhlak mulia Rasulullah.

Meneladani Akhlak Rasulullah SAW adalah inti dari peringatan Maulid Nabi. Rasulullah SAW merupakan teladan sempurna bagi umat Islam, baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21: "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia. Contoh akhlak yang bisa diteladani mencakup kejujuran (Shiddiq), amanah, kesabaran, kepedulian sosial, kasih sayang, dan rendah hati.

Berpuasa Sunnah juga dapat menjadi amalan dalam rangka memperingati Maulid Nabi. Nabi Muhammad SAW sendiri memperingati kelahirannya dengan berpuasa pada hari Senin. Ketika ditanya mengapa beliau berpuasa pada hari Senin, beliau menjawab, "Hari itu merupakan hari dimana aku telah dilahirkan." (HR. Muslim). Ini menjadi isyarat bagi umat Islam untuk melakukan perbuatan baik pada hari kelahiran Rasulullah, termasuk berpuasa sebagai bentuk syukur dan ibadah.

Menghadiri Majelis Maulid dan Dzikir. Menghadiri majelis ilmu atau dzikir dalam rangka Maulid Nabi juga merupakan amalan yang penuh berkah. Dalam majelis tersebut biasanya dibacakan shalawat, sirah Nabi, serta tausiah yang menambah pengetahuan agama. Selain menambah ilmu, hadir di majelis Maulid juga mempererat ukhuwah Islamiyah. Umat berkumpul dalam satu ikatan cinta kepada Rasulullah, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan memperkuat iman bersama.

Menyebarkan Dakwah dan Kebaikan. Amalan lain yang dianjurkan di bulan Maulid adalah menyebarkan dakwah serta kebaikan kepada orang lain. Dakwah bisa dilakukan dengan cara sederhana, seperti mengingatkan tentang shalat, mengajak bershalawat, atau berbagi kisah teladan Rasulullah. Rasulullah SAW bersabda, “Sampaikan dariku walau satu ayat” (HR. Bukhari). Artinya, setiap muslim bisa menjadi penyambung risalah Nabi dengan cara yang sesuai kemampuan masing-masing.

Pandangan Ulama tentang Maulid Nabi

Ilustasi Mengaji
Ilustasi Mengaji (Photo by Aldin Nasrun on Unsplash)

Tentang hukum peringatan Maulid Nabi, terdapat berbagai pandangan di kalangan para ulama. Sebagian besar ulama dari empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali) berpendapat bahwa memperingatinya diperbolehkan, bahkan dianggap sunnah, asalkan diisi dengan aktivitas yang baik. Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Al-Hawi lil Fatawi menyatakan bahwa Maulid termasuk dalam kategori bid'ah hasanah, yaitu hal baru yang positif, selama diisi dengan pengagungan terhadap Nabi, pembacaan sirah, dan sedekah.

Selain itu, Ibnu Hajar Al-Asqalani juga menegaskan bahwa peringatan Maulid dapat bernilai positif jika diisi dengan membaca Al-Qur'an, memberi makanan kepada orang-orang yang membutuhkan, atau bershalawat. Salah satu dalil yang mendukung kebolehan ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim: "Barang siapa yang memulai (merintis) dalam Islam sebuah perkara baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan baiknya tersebut, dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikuti setelahnya, tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun." (H.R. Muslim).

Namun, ada sebagian ulama dari mazhab Maliki yang menganggap peringatan ini tidak diperbolehkan, karena dianggap sebagai bid'ah yang tidak memiliki dasar dari salafus sholeh. Perbedaan pandangan ini mencerminkan kekayaan tradisi keilmuan dalam Islam, di mana umat Islam dapat memilih pandangan yang sesuai dengan keyakinan masing-masing, selama tetap berpegang pada prinsip-prinsip kebaikan dan syariat.

Rekomendasi