5 Penyebab Buta Warna, Pahami Risiko dan Jenis-Jenisnya

Penyebab buta warna bisa diakibatkan oleh beberapa faktor. Buta warna merupakan kondisi di mana seseorang tidak mampu melihat perbedaan antara warna-warna tertentu.

Billy Adytya Kurniawan
Oleh Billy Adytya Kurniawan - Reporter
5 Penyebab Buta Warna, Pahami Risiko dan Jenis-Jenisnya
Ilustrasi mata. ©2019 Merdeka.com/Pexels

Penyebab buta warna bisa diakibatkan oleh beberapa faktor. Buta warna merupakan kondisi di mana seseorang tidak mampu melihat perbedaan antara warna-warna tertentu.

Banyak orang yang biasanya menggunakan istilah buta warna dalam kondisi ini, namun sebenarnya kata buta warna itu diartikan dalam segala sesuatu terlihat dalam nuansa hitam dan putih dan memang sangat jarang terjadi.

Pada umumnya orang yang mengalami kondisi ini akan melihat sebuah warna yang berbeda dengan yang seharusnya terlihat.

Buta warna diturunkan dan pria lebih mungkin dilahirkan dengan kondisi buta warna. Kebanyakan seseorang yang mengalami buta warna tak bisa membedakan antara warna merah dan hijau tertentu.

Sebenarnya apa penyebabnya? Dirangkum dari Halodoc, Rabu (10/8), berikut adalah penyebab buta warna yang perlu dipahami lengkap dengan jenis-jenisnya.

Penyebab Buta Warna

Penyakit

Penyebab buta warna yang pertama diakibatkan oleh adanya penyakit seperti anemia sel sabit, diabetes, degenerasi makula, Alzheimer, glaukoma, penyakit Parkinson, multiple sclerosis, alkoholisme kronis hingga leukemia.

Salah satu mata akan lebih berpengaruh daripada yang lain. Defisit warna akan menjadi lebih baik apabila penyakit yang mendasarinya mendapatkan pengobatan dengan benar.

Gangguan yang Diturunkan

Penyebab buta warna selanjutnya adalah faktor gangguan yang diturunkan dan kekurangan warna ini jauh lebih terjadi pada pria daripada wanita. Definisi warna yang umum adalah merah dan hijau, dengan defiensi biru dan kuning lebih jarang.

Jarang yang tidak memiliki penglihatan warna sama sekali. Bagi Anda yang mendapatkan warisan tingkat gangguan ringan, Anda pun juga bisa mendapatkannya dalam kondisi sedang hingga berat pula.

Kekurangan warna yang diturunkan biasanya mempengaruhi kedua mata serta tingkat keparahan yang tak berubah sepanjang hidup.

Penuaan

Selanjutnya adalah penuaan. Kemampuan untuk melihat warna akan menurun secara perlahan karena bertambahnya usia. Hal ini merupakan hal yang lumrah apabila terjadi.

Bahan Kimia

Terlalu banyak terpapar bahan kimia juga akan menjadi salah satu penyebab buta warna. Paparan beberapa bahan kimia di tempat Anda bekerja, seperti misalnya karbon disulfida dan juga pupuk juga bisa menyebabkan hilangnya penglihatan warna.

Konsumsi Obat-Obatan Tertentu

Penyebab buta warna berikutnya adalah mengonsumsi obat-obatan tertentu. Beberapa obat diketahui akan mengubah penglihatan warna Anda, salah satunya adalah obat penyakit autoimun tertentu, masalah jantung, tekanan darah tinggi.

Atau bahkan disfungsi ereksi, infeksi, gangguan saraf dan juga masalah psikologis.

Faktor Risiko Buta Warna

Sebenarnya banyak sekali faktor risiko buta warna yang akan dialami seseorang. Berikut adalah beberapa faktor risiko buta warna yang berhasil dikutip dari Halodoc:

- Diturunkan dari orangtua;

- Mengidap penyakit tertentu;

- Mengonsumsi obat tertentu;

- Paparan bahan kimia;

- Usia.

Jenis Buta Warna Merah dan Hijau

Buta warna juga terdiri dari 3 jenis, yang pertama ialah jenis buta warna merah dan hijau. Ini adalah kondisi saat fotopigmen di kerucut merah atau kerucut hijau tak berfungsi dengan baik. Berikut adalah jenisnya seperti dilansir dari Halodoc:

- Deuteranomaly: Ini adalah bentuk buta warna yang paling umum dan mempengaruhi 5 persen pria, tetapi jarang terjadi pada wanita. Ini terjadi ketika fotopigmen kerucut hijau tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kuning dan hijau terlihat lebih merah, dan sulit membedakan biru dari ungu.

- Protanomali: Terjadi karena fotopigmen kerucut merah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Oranye, merah, dan kuning terlihat lebih hijau, dan warnanya kurang cerah. Biasanya ringan dan tidak menimbulkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Ini jarang terjadi pada wanita dan memengaruhi sekitar 1 persen pria.

- Protanopia: Seseorang tidak memiliki sel kerucut merah yang berfungsi. Warna merah hanya terlihat abu-abu gelap. Beberapa nuansa orange, kuning, dan hijau terlihat kuning. Ini jarang terjadi pada wanita dan mempengaruhi sekitar 1 persen pria saja.

- Deuteranopia: Seseorang tidak memiliki sel kerucut hijau yang berfungsi. Merah terlihat kuning kecoklatan, dan hijau terlihat krem. Ini mempengaruhi 1 persen pria dan jarang terjadi pada wanita.

Jenis Buta Warna Biru dan Kuning

Kemudian ada pula ketika fotopigmen kerucut biru hilang dan tidak memiliki fungsinya dengan benar. Ini merupakan jenis paling umum kedua yang mempengaruhi pria dan juga wanita secara setara.

- Tritanomaly: Sel kerucut biru bekerja hanya dengan cara yang terbatas. Biru terlihat lebih hijau, dan sulit membedakan merah muda dari kuning dan merah. Kondisi ini sangat jarang terjadi.

- Tritanopia: dikenal sebagai buta warna biru-kuning, saat seseorang tidak memiliki sel kerucut biru. Biru terlihat hijau, dan kuning terlihat abu-abu muda atau ungu. Kondisi ini juga sangat jarang.

Jenis Buta Warna Lengkap

Adapula jenis buta warna lengkap yang juga disebut dengan monokromasi. Yaitu seseorang tak melihat warna sama sekali dan penglihatan tidak begitu jelas.

- Monokromasi Kerucut: Ini terjadi ketika 2 dari 3 fotopigmen sel kerucut, seperti merah, hijau, atau biru tidak berfungsi. Ketika hanya satu jenis kerucut yang berfungsi, sulit untuk membedakan satu warna dari yang lain. Dan jika salah satu sel kerucut berwarna biru, penglihatan jadi tidak tajam, seseorang rabun jauh, dan ia akan memiliki gerakan mata yang tidak terkendali (nystagmus).

- Monokromasi Batang: Dikenal sebagai achromatopsia, ini adalah bentuk buta warna yang paling parah. Tak satupun dari sel kerucut memiliki fotopigmen yang berfungsi. Akibatnya, dunia tampak dalam warna hitam, putih, dan abu-abu. Cahaya terang dapat melukai mata, dan seseorang juga mengalami gerakan mata yang tidak terkendali (nystagmus).

Rekomendasi