Canggih, Senjata Perang Asli Milik Indonesia Terbuat dari Potongan Tiang Listrik
Merdeka.com - Para pejuang kemerdekaan Indonesia tak kehilangan akal dalam mempersenjatai diri ketika menghadapi para penjajah yang melakukan serangan.
Sadar akan posisi dan ketersediaan amunisi terbatas, para pejuang kemerdekaan secara inisiatif mengubah barang-barang sekitar mereka menjadi senjata yang berguna untuk menyerang musuh.
Seperti di Museum Brawijaya di Kota Malang. Terdapat sebuah senjata sederhana namun mematikan buatan asli Indonesia. Senjata tersebut terbuat dari tiang listrik dan telepon. Bagaimana penampakannya? Simak berikut ini.
Keterbatasan Amunisi Tentara Kemerdekaan
Masa perang kemerdekaan Indonesia menyisakan sejarah panjang yang masih dapat diterima oleh para generasi muda saat ini.
Indonesia tak lebih dari sekedar negara yang sempat dianggap tak mumpuni dalam hal ketersediaan bahan amunisi untuk berperang. Banyak tentara yang gugur karena ketimpangan amunisi yang dibawa.
Melansir dari kanal Youtube Giri Mataya, Kamis (2/2), beberapa senjata yang biasa dipakai biasanya berupa alat tradisional dan belum banyak senjata modern yang dibawa.
"Ini (senjata api) banyak sekali memakan korban tak terhingga. Bangsa Indonesia menggunakan bambu runcing dan senjata lain yang sangat sederhana, sedangkan penjajah atau Belanda menggunakan senjata jenis ini (senjata api)," ucap pemandu Museum Brawijaya.
Senjata Berbahan Tiang Listrik & Telepon

Youtube Giri Mataya ©2023 Merdeka.com
Dalam video tersebut dipertontonkan sebuah senjata unik buatan asli Indonesia yang terbuat dari tiang listrik dan telepon.
"Inilah senjata asli Bangsa Indonesia, namanya mortir asli bikinan bangsa indonesia terbuat dari potongan tiang listrik dan tiang telepon.
Menurut informasi dari beberapa sumber, Mortir tersebut memiliki kaliber 50 milimeter dan 90 milimeter. Digunakan untuk amunisi membantu perjuangan kemerdekaan.
Mortir Tiang Listrik Buatan Kediri
Mortir tersebut buatan asli Indonesia, tepatnya produksi dari Pabrik Meritjan, Kediri pada tahun 1945. Sayangnya, saat ini, pabrik tersebut telah beralih menjadi pabrik gula.
"Jadi namanya mortir ini dibuat di pabrik Mrican Kota Kediri pada saat perang kemerdekaan," lanjutnya.
Keterbatasan bahan dalam membuat senjata membuat para pejuang memotong tiang listrik dan telepon dengan bahan seadanya. Kemungkinan mortir tersebut sudah digunakan di perang 10 November Surabaya.
(mdk/thw)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya