Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad), Brigjen TNI Tatang Subarna menceritakan kisahnya saat menjadi Dandim. Tatang kemudian bertugas di Nabire, daerah pedalaman yang memiliki 7 wilayah Kabupaten.
Ada yang menarik dari cerita Tatang. Dia sempat berpikir menjadi Dandim nantinya bisa duduk santai sembari memberi perintah. Namun semua itu tidak benar. Tatang masih tetap selalu membawa senjata api dan mengenakan rompi anti peluru.
Lantas bagaimana cerita Brigjen TNI Tatang saat menjadi Dandim? Melansir dari akun YouTube TNI AD, Senin (5/7), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
Komandan Kodim 1705 Nabire
Kadispenad Brigjen TNI Tatang Subarna menceritakan kisahnya saat menjadi Dandim. Tatang mendapat tugas di Nabire, sebuah pedalaman yang mempunyai 7 wilayah.
Tatang sempat mengira, saat menjadi Dandim dirinya bisa duduk bersantai. Dia juga bisa duduk sembari memberikan perintah ke anak buahnya. Namun, pemikiran dan bayangannya itu tidak benar.
"Saya dari Dandim di Nabire, Komandan Kodim 1705 Nabire. Pedalaman, 7 wilayah Kabupaten," kata Brigjen TNI Tatang Subarna, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat.
"Saya menjadi Dandim, tidak sama seperti orang lain juga. Saya kira setelah saya Danyon, saya bisa begini Mas santai sambil kasih perintah, ternyata tidak," sambungnya.
Advertisement
Selalu Bawa Senpi & Rompi Anti Peluru
Tatang ternyata masih harus mengenakan rompi anti peluru dan helm. Selain itu, Tatang juga masih selalu membawa senjata api (senpi).Hal ini karena dia tetap harus waspada. Tatang menjelaskan, musuh tidak akan melihat siapa. Jika lengah sedikit, musuh bisa menyerangnya. Untuk itu, dia tetap selalu waspada dan membawa senpi.
"Saya masih pakai rompi anti peluru, masih pakai helm, Dandim ini, masih bawa senjata. Jadi saya juga harus waspada mas, kenapa? Ya kalau namanya musuh, tidak melihat siapa kan. Dia lengah, ya di sikat. Alhamdulillah berjalan satu tahun dengan dinamika-dinamika nya dan barulah ke Mabesad," ungkap Brigjen Tatang.
Advertisement
Ditugaskan di Batalyon yang Hancur
Sebelumnya, Tatang sempat dipercaya menjadi Komandan di Batalyon 751. Saat itu di Batalyon 751 Sentani, Jayapura, Papua sedang tidak kondusif. Hal ini bermula dari rasa tidak puas bawahan kepada sang atasan. Terlebih terkait biaya pengiriman jenazah prajurit. Anggota pun mengamuk sehingga terjadi kerusakan parah.
"Waktu itu kami di Batalyon 751 BS, di Kodam Cendrawasih, Papua tahun 2009. Waktu itu 2004 ada keributan, yang intinya kekecewaan anggota terhadap sosok pimpinan. Kejadian anarkis dari anggota menembak, melempar batu. Sehingga Mako yang ada di Batalyon 751 hancur. Bisa dibilang 80 persen hancur. Bahkan ruangan Komandan rusak," cerita Sertu Abidin, personel Batalyon 751 (2003-2016). "Wah saya bilang, enggak main-main ini. Yang saya hadapi ini Batalyon yang kurang jelas. Baru selesai demo, banyak kerusakan yang diakibatkan anak buah itu fisik ya, belum yang non-fisik. Ini Batalyon terjelek mas, bukan yang adem ayem gitu, enggak ada. Ini Batalyon yang hancur lebur. Mungkin 751 ranking terbawah dari seluruh Batalyon di Angkatan Darat. Masuklah Tatang Subarna di situ," ujar Tatang.
Advertisement
Bawa Perubahan Besar
Personel Batalyon 751 tahun 2010, Mayor Inf Harry mengungkapkan kehebatan Tatang dalam memimpin. Ia membuat peraturan baru dan mensejahterakan para personelnya."Banyak perubahan yang telah dilakukan oleh beliau (Tatang). Mulai dari pangkalan, organisasinya, personelnya, prajuritnya sendiri. Dia menerapkan reward dan punishment. Ada prajurit berprestasi, pasti diupacarakan, diberi penghargaan. Kesejahteraannya begitu diperhatikan," ungkap Harry.
Seluruh personel diminta terjun ikut membangun. Semua harus bergotong royong, baik dari prajurit muda hingga senior."Dulu lapangan, lapangan tembak itu rawa, mungkin orang bilang itu untuk jin buang anak. Tapi masuknya beliau, lapangan tembak diubah. Dari orang-orang kita yang bekerja, beliau (Tatang) mengajak seluruh perwira, tamtama, bintara, semua. Kemudian outbond untuk anak-anak prajurit yang sangat lengkap," paparnya.
Advertisement
Video Cerita Brigjen TNI Tatang saat Jadi Dandim
Berikut video cerita Brigjen TNI Tatang saat menjadi Dandim, selalu membawa senpi.