Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bagaimana kondisi e-commerce di Indonesia saat ini?

Bagaimana kondisi e-commerce di Indonesia saat ini? Andry Suhaili-CEO dan founder PriceArea. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Persaingan e-commerce di Indonesia semakin memanas dengan hadirnya situs listing, B2C, dan C2C besar seperti Berniaga, Kaskus, Tokobagus, Tokopedia, Rakuten, Blibli, dan Rocket Internet. Selain itu ada juga vertical commerce seperti Bilna, Saqina, dan BerryBenka. Melihat kondisi itu, kami menghadirkan CEO dan founder PriceArea, Andry Suhaili, untuk menanyakan pendapatnya mengenai kondisi e-commerce di Indonesia. Andry diwawancara oleh Enricko Lukman dari Tech in Asia.Di Startup Asia Jakarta 2013 ini, Suhaili membicarakan tentang empat topik: kondisi e-commerce di Indonesia, pemerintah dan peraturan, kebangkitan marketplace dan UKM, dan peran mesin pencari e-commerce seperti PriceArea. Berikut adalah poin penting yang dijabarkan oleh Suhaili:

  • Ada 74 juta pengguna internet di Indonesia yang menjadikan negara ini sebagai pengguna terbanyak di Asia Tenggara.
  • Sekitar 4,6 juta orang berbelanja secara online pada tahun 2013 dan angka ini akan meningkat hingga 8,7 juta pada tahun 2016.
  • Terkait perputaran uang di e-commerce, nilai pada tahun ini mencapai USD 1,8 miliar dan akan meningkat hingga USD 4,49 miliar di tahun 2016.
  • Fashion adalah produk unggulan dan wanita adalah pembeli terbanyak. 77,1 persen wanita membeli pakaian secara online, sedangkan 11,1 persen membeli tas.
  • Terkait hambatan bagi e-commerce, kepercayaan merupakan masalah terbesar. 34,6 persen orang takut terhadap penipuan online, sementara 21,5 persen perlu mencoba atau menyentuh produk sebelum membeli.
  • Terkait metode pembayaran, 57 persen menggunakan transfer bank, 28 persen menggunakan layanan COD, dan 7 persen menggunakan kartu kredit.
  • Indonesia mempunyai 2 peraturan yang dapat mempengarugi e-commerce di negara ini. Pertama, hamper semua aktivitas elektronik dikategorikan sebagai e-commerce oleh pemerintah. Kedua, tentang sulitnya investasi. Bisnis e-commerce harus mempunyai domain .co.id, dan Anda perlu mendapat sertifikat jika ingin menjalankan bisnis e-commerce di Indonesia (dan hanya sedikit orang yang tahu caranya). Investor asing harus mempunyai toko atau warehouse seluas 2.000 meter persegi untuk berinvestasi, atau mempunyai mitra lokal.
  • Pertumbuhan e-commerce di Indonesia didorong oleh konsumsi kelas menengah, smartphone yang murah, dan internet yang terjangkau. Kini, persaingan e-commerce di Indonesia semakin memanas dengan hadirnya Blanja milik eBay, Elevenia milik SK Planet, dan Lamido milik Rocket Internet. Dan menurut Suhaili, marketplace yang membedakan dirinya dengan segmentasi pasar akan keluar sebagai pemenang.

    Artikel ini pertama kali muncul di Tech in Asia Indonesia (mdk/ega)

    Geser ke atas Berita Selanjutnya

    Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
    lihat isinya

    Buka FYP