TekStory

Albert Einstein, keturunan Yahudi penentang Zionisme

Senin, 21 Oktober 2013 12:02 Reporter : Alvin Nouval
Albert Einstein, keturunan Yahudi penentang Zionisme Albert Einstein. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - "Saya lebih memilih melakukan perjanjian dengan orang Arab dengan tujuan agar bisa hidup berdampingan ketimbang harus membangun negara untuk orang Yahudi," Albert Einstein.

Pernyataan tersebut diucapkan salah satu pria paling jenius di muka bumi ini pada 17 April 1938 saat melakukan pidato di Commodore Hotel, New York City. Pernyataan ini sendiri kemudian menjadi bukti seperti apa pandangan pribadi sang profesor terhadap Zionisme.

Memang, meskipun terlahir dari keluarga Yahudi, Einstein tidak serta merta mendukung apa saja yang kaumnya lakukan, salah satunya untuk mendirikan negara Israel. Dalam beberapa kesempatan, seringkali Einstein menyatakan tak setuju dengan berdirinya Israel.

"Ide untuk membangun sebuah negara tidak sama dengan apa yang terlintas di hati saya. Saya tak paham kenapa harus didirikan negara tersebut. Pembangunannya masih berhubungan dengan pemikiran sempit dan halangan ekonomi. Saya yakin hal ini akan menjadi hal yang buruk. Saya selalu mencoba melawannya," katanya pada Januari 1946 pada Anglo-American Committee of Inquiry.

Apa yang dilontarkan Einstein ini memang mengejutkan mengingat dirinya adalah seorang Yahudi dan pernah menjadi korban kekejaman Nazi. Untuk diketahui, Nazi sangat benci dengan Yahudi sehingga menyiksa dan mengusir siapa saja yang berdarah Yahudi dari daerah jajahannya.

Namun, pertentangan Einstein terhadap zionisme ternyata dipertahankannya bahkan ketika dirinya mendekati ajal. Sebagai contoh, dirinya pernah menolak tawaran menjadi presiden dari negara yang ditentangnya, Israel.

Saat itu, Einstein pernah diminta presiden pertama Israel, Chaim Weizmann, untuk menggantikan posisinya saat meninggal. Einstein secara halus menolak permintaan tersebut karena memang tak sesuai dengan hati nuraninya.

Padahal, permintaan tersebut diberikan dengan embel-embel mewah, fasilitas penelitian lengkap dan izin sebebas-bebasnya untuk melakukan penelitian yang semuanya ditanggung oleh negara.

Hingga napas terakhirnya dihembuskan pada 1955, tak sekalipun Einstein mengindahkan tawaran ini. Karena, menurutnya melakukan pembicaraan damai antara Yahudi dengan Arab lebih penting dari itu semua.

Selain cerita ini, masih banyak hal menarik yang bisa diulas dari fisikawan nyentrik satu ini. Oleh karenanya, simak terus TekStory minggu ini yang akan membahas Albert Einstein di Tag #Albert Einstein atau #TekStory .

Sumber: History.com, Newdemocracyworld.org, Time.com, dan Newstatesman.com. [nvl]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini