Sosok Diana Nasution, Diva Legendaris Indonesia Ibunda Marcelo Tahitoe Vokalis Dewa 19

Sosok DIana Nasution, penyanyi legendaris Indonesia ibunda dari Marcelo Tahitoe (Ello).

Adrian  Juliano
Oleh Adrian Juliano - Reporter
Sosok Diana Nasution, Diva Legendaris Indonesia Ibunda Marcelo Tahitoe Vokalis Dewa 19
Sosok DIana Nasution, penyanyi legendaris Indonesia ibunda dari Marcelo Tahitoe (Ello). (Kapanlagi © 2023 merdeka.com)

Diana Nasution, Sosok Diva Legendaris Indonesia Ibunda Marcelo Tahitoe Vokalis Dewa 19

Sosok DIana Nasution, penyanyi legendaris  berdarah Batak ibunda dari Marcelo Tahitoe (Ello).

Orang Batak cukup terkenal dengan pandai dalam dunia tarik suara. Banyak musisi dan penyanyi era 70 hingga 90-an yang lahir dan besar sebagai orang keturunan Batak.

Salah satu penyanyi solo favorit dan populer di masanya yaitu Diana Nasution. Sepanjang karir bernyanyi, Diana berduet dengan sang kakak, Rita Nasution pada tahun 1970-an. Karyanya selama berada di dunia tarik suara cukup populer dan mencuri perhatian pencinta musik Indonesia saat itu.

Simak profil Diana Nasution yang dihimpun merdeka.com berikut ini.

Profil Singkat

Diana Nasution lahir di Medan, Sumatra Utara pada 15 April 1958. Ia adalah anak keempat dari delapan bersaudara.

Diana lahir di keluarga berdarah Batak yang sebagian besar bertugas di angkatan bersenjata Indonesia atau ABRI.

Tahun 1978, Diana menikah dengan seseorang berdarah Maluku bernama Minggus Tahitoe. Menikah beda anggama hingga tahun 1999, akhirnya Diana memutuskan untuk pindah agama mengikuti kepercayaan sang suami.

Dari pernikahan mereka, lahir tiga orang putra Mario Tahitoe, Mercy Tahitoe, dan sosok penyanyi ternama Indonesia saat ini sekaligus vokalis Dewa 19, Marcelo Tahitoe atau dikenal dengan Ello.

Diana menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 2013. Dilansir dari Kapanlagi.com, Diana Nasution sudah mengidap penyakit kanker kanker payudara selama 4-5 tahun.

Namun, sebelum meninggal Diana Nasution kerap mengeluhkan sakit di lambungnya. Penyakit itu diderita cukup parah dan kronis sekitar sebulan terakhir sebelum ia wafat. 

Bentuk Nasution Sisters

Selama perjalanan karir Diana sebagai penyanyi Indonesia, ia berduet dengan sang kakak yaitu Rita Nasution yang pada akhirnya menjadi grup duo yang diberi nama Nasution Sisters.

Mengutip dari beberapa sumber, alasan Diana memilih nama Nasution Sisters atau Nassist itu karena mereka berasal dari keluarga Batak bermarga Nasution.

Nasution Sisters sempat merilis beberapa lagu cukup hits di masanya. Mulai dari Siapa Yang Salah, Abang Becak, Dilanda Cinta, dan Cinta Kilat. Namun, eksistensi Nassist pun terhenti begitu saja setelah Rita Nasution memilih bersolo karir.

Sempat Vakum

Setelah bubarnya Nassist, Diana sempat vakum beberapa saat. Ia kembali turun gunung saat berduet dengan Melky Goeslaw ayahnya Melly Goeslaw. Diana tampil di panggung lagi saat Festival Penyanyi Nasional 1977.

Festival bertajuk perlombaan itu harus dimenangkan oleh Hetty Koes Endang. Tetapi duet Diana dan Melky berhasil meraih juara dua dengan membawakan lagi "Bila Cengkeh Berbunga" dan "Malam Yang Dingin" karya sang suami, Minggus Tahitoe.

Pernah Solo Karir

Selain duet dengan sang kakak dan Melky Goeslaw, Diana juga sempat mencicipi penyanyi solo. Beberapa lagu solo karirnya seperti "Jangan Biarkan", "Ayah", dan "Benci Tapi Rindu" sempat populer dan terkenal di kalangan pecinta musik.

Perjalanan karir Diana sempat bergeser di dunia musik sempat tergeser menjadi dunia hiburan Indonesia. Pasalnya, Diana pernah bermain peran dalam film "Cintaku Tergadai" pada tahun 1977.

Sekitar tahun 2010, Diana Nasution kembali terjun ke dunia musik setelah bekerja sama dengan Titi DJ untuk membawakan lagu "Jangan Biarkan". Ia merilis beberapa album yaitu "The Best of Diana Nasution" dan beberapa album lainnya.

Rekomendasi