Setiap suku di Indonesia memiliki berbagai macam bentuk kesenian yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang. Di Sumatra Utara terdapat satu jenis kesenian yang sayangnya sudah hampir punah bernama Sinandong Asahan.
Bagi sebagian masyarakat Sumatra Utara, Sinandong Asahan cukup familiar di telinga. Bahkan namanya terkenal hingga Ibukota Jakarta saat masa kejayaannya di tahun 1950 sampai 1970-an.
Kesenian dari Tanjungbalai ini dulunya kerap ditampilkan pada acara resmi Pemerintah Provinsi Sumatra Utara maupun pemerintah pusat. Salah satu pesenandung Sinandong Asahan, Cik Nasti pernah diundang ke Istana Negara saat Presiden Soeharto sedang menjamu para tamu dari luar negeri.
Sekarang semua itu hanyalah menjadi cerita untuk anak dan cucu. EksistensiSinando Asahan seiring berjalannya waktu mulai hilang bak ditelan bumi. Namanya sudah jarang disebut dan berada di ambang kepunahan.
Penasaran dengan kesenian yang satu ini? Simak rangkumannya yang dihimpun dari beberapa sumber berikut ini.
Advertisement
Perkembangan Sinandong Asahan
Melansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, pada tahun 1965 kesenian ini sempat hilang dari permukaan karena adanya kesenian serupa yang dibentuk oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Pada tahun 1970, Sinandong Asahan kembali hidup namun hanya sampai pada tahun 1980-an saja.
Kesenian ini berbeda dengan kesenian Qasidah yang biasa kita dengar setiap ada acara hajatan. Hingga kini Qasidah juga masih sering ditampilkan.
Sementara itu Sinandong Asahan hampir tidak ada penerusnya sehingga menuju ambang kepunahan. Padahal, peluang kesenian ini untuk dijadikan hiburan sangatlah terbuka lebar dan sangat layak untuk dijual kepada masyarakat lokal.
Advertisement
Mirip Syair Qasidah
Karakteristik dari Sinandong Asahan tak jauh berbeda dari Qasidahan, salah satunya yaitu syair-syair yang dilantunkan. Yang membedakan hanyalah bahasa saja, jika Sinandong Asahan menggunakan bahasa asli daerah, sedangkan Qasidah menggunakan Bahasa Arab.
Biasanya orang yang mahir melantunkan syair-syair tersebut mampu melakukan alih bahasa dari Arab menjadi bahasa Melayu Asahan. Hal ini bertujuan bagi pendengar yang tidak mengerti bahasa Arab bisa memahami makna yang disampaikan oleh pesenandung.
Pada intinya, Sinandong Asahan tetap memiliki makna yang mendalam dan petuah-petuah dalam menjalani kehidupan di dunia dan di akhirat nanti.
Advertisement
Nyaris Punah
Nasib Sinandong Asahan tidak seberuntung Qasidah. Pasalnya saat ini para anak muda setempat masih memiliki keinginan untuk mempelajari ilmu-ilmu Qasidah. Sedangkan Sinandong Asahan tidak adanya regenerasi, sehingga tidak berkembang.
Dengan tidak adanya regenerasi, para pegiat Sinandong Asahan sudah cukup tua dan bahkan sudah meninggal dunia. Parahnya lagi, para seniman-seniman muda seakan enggan untuk mencoba untuk melestarikan kesenian yang satu ini.
Kabar baiknya, pada tahun 2018 Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh (BPNB Aceh) telah menetapkan Sinandong Asahan menjadi salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sebagai bentuk upaya pelestarian nilai-nilai budayanya.