Pangkalan Brandan merupakan sebuah wilayah pelabuhan yang terletak di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatra Utara. Daerah yang memiliki populasi kurang lebih 21.000 jiwa itu juga wilayah perbatasan antara Sumatra Utara dengan Provinsi Aceh. Kawasan ini juga termasuk kawasan strategis, karena dilalui Jalan Raya Lintas Sumatra dan terkenal sebagai salah satu ladang minyak tertua yang ada di Indonesia.
Mungkin bagi sebagian orang, masih asing mendengar wilayah Pangkalan Brandan. Namun, bagi masyarakat setempat, itu menjadi pemicu untuk terus mengharumkan nama daerahnya. Salah satunya lewat karya seni yaitu Batik.
Di sebuah desa kecil terdapat galeri yang bernama Kampung Batik Brandan. Beralamatkan di Jalan Arnan Paya Kiri, Kelurahan Pelawi Utara, Kecamatan Babalan, tempat itu menjadi sentra pembuatan Batik khas Melayu. Penasaran dengan tempat sentra pembuatan batik dan sejarah berdirinya? Simak rangkumannya yang dihimpun dari beberapa sumber berikut ini.
Advertisement
Pekerja Wanita
Melansir dari kanal Youtube Info Sumut, galeri Kampung Batik Brandan telah mempekerjakan sebanyak 13 wanita yang merupakan warga lokal. Di tempat tersebut, para ibu-ibu mengerjakan batik tulis dengan teliti dan rapi.
Dalam sebulan, para wanita perkasa itu bisa membuat minimal 50 lembar batik cap dan 10 lembar batik tulis. Tak hanya itu, untuk ukurannya cukup bervariasi, mulai dari 2 meter hingga 3 meter.
Untuk harganya masih cukup ramah di kantong, hanya dibanderol mulai Rp250 ribu dan yang paling mahal Rp2 juta untuk harga batik tulis.
Advertisement
Miliki Koleksi 100 Corak Batik
Dengan seiringnya berjalan waktu, Kampung Batik Brandan sudah memiliki koleksi 100 corak batik khas Melayu. Untuk corak batik yang menjadi andalan adalah corak Batik Brandan.
Untuk corak Batik Brandan ini sangat ikonik. Pasalnya, terdapat motif bergambarkan kilang minyak (simbol daerah Pangkalan Brandan) dan juga diselipkan dengan gambar kuda laut.
Dengan warna dasar kain berwarna biru, corak Batik Brandan semakin terlihat indah dengan balutan warna putih. Tak heran jika produk batik yang satu ini menjadi andalan masyarakat Pangkalan Brandan.
Advertisement
Buka Lapangan Pekerjaan
Di Kampung Batik Brandan ini, para pembatik mayoritas dilakukan oleh wanita yang merupakan Ibu Rumah Tangga (IRT). Setiap harinya, sebelum mereka membatik biasanya menyelesaikan pekerjaan di rumahnya terlebih dahulu.
Pemilik Kampung Batik Brandan, Dhany Rose mengatakan, dengan adanya galeri dan sentra pembuatan batik ini untuk meningkatkan produktivitas dan membuka peluang lapangan pekerjaan di sektor ekonomi kreatif masyarakat.
"Saya ingin memberdayakan mereka agar berguna secara ekonomi. Mereka bisa mendapatkan pekerjaan, bisa berdaya guna, dan bisa mempunyai skill dalam membatik," ucap Dhany Rose dikutip dari Kanal Youtube Info Sumut.
Advertisement
Berawal dari Sejarah
Menurut Dhany Rose, pendirian Kampung Batik Brandan ini ternyata memiliki latar belakang cerita terkait sejarah di daerah Pangkalan Brandan. Berdiri pada 13 Agustus 2021, rupanya penentuan tanggal tersebut bertepatan dengan Brandan di bumi hanguskan.
"Pada tanggal 13 Agustus bertepatan dengan Brandan di bumi hanguskan. Tepatnya pada 13 Agustus 1945, telah di bumi hanguskan oleh para pejuang kita yang menginginkan agar kota minyak tidak jatuh ke tangan para penjajah," katanya.
Tak hanya itu, Dhany Rose mengatakan bahwa beberapa corak batik yang diproduksi di Kampung Batik Brandan bercerita tentang tambang minyak.