Mengenal Nandong, Seni Tutur Ungkapan Isi Hati dari Kepulauan Simeulue

Nandong sendiri merupakan kesenian tutur dari hasil budaya diaspora antara Minangkabau dan Simeulue.

Adrian  Juliano
Oleh Adrian Juliano - Reporter
Mengenal Nandong, Seni Tutur Ungkapan Isi Hati dari Kepulauan Simeulue
Kesenian Nandong khas Kepulauan Simeulue. ©2023 Merdeka.com

Negara Indonesia kaya akan dengan kesenian tradisionalnya yang beragam. Bahkan, kesenian tradisional saat ini terus dilestarikan agar tidak punah akibat termakan oleh zaman yang modern.

Salah satu kesenian yang menarik untuk di bahas yaitu bernama Nandong. Kesenian ini lahir di Kepulauan Simeulue terletak di tengah Samudera Indonesia bagian Barat Sumatera. Nandong sendiri adalah seni tutur dari hasil budaya diaspora antara Minangkabau dan Simeulue itu sendiri.

Melalui kesenian ini, para orang tua di Kepulauan Simeulue mengajarkan budaya lokal itu kepada anak beserta cucunya. Tak dipungkiri kesenian Nandong sangat populer di kalangan masyarakat.

Penasaran dengan seni tutur khas Simeulue ini? Simak ulasannya yang dihimpun dari beberapa sumber berikut ini.

Syair Penuh Makna

Melansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, Nandong merupakan seni tutur dalam mengeluarkan isi hati yang diutarakan menggunakan syair-syair atau pantun yang berisikan pesan moral, ungkapan, hingga nasihat.

Dalam pelaksanaannya, Nandong dimainkan oleh dua orang atau lebih dengan menggunakan alat musik bernama Kedang. Alat musik ini adalah sejenis gendang yang ditabuh dengan sedimikian rupa di antara bait-bait pantun secara berbalas-balasan.

Nandong sering dimainkan pada saat perayaan hari-hari besar dan upacara adat Simeulue seperti perkawinan, sunatan, dan sebagainya. Biasanya, pertunjukan Nandong di waktu siang atau malam hari dan bisa berlangsung berjam-jam. Hal ini tergantung dari balas-balasan pantun dari dua atau lebih pemainnya.

Membaca Tanda Alam

Syair atau pantun yang dilantunkan oleh masyarakat Simeulue tak hanya sekedar kesenian tradisional saja, melainkan juga mengenal adanya tanda-tanda alam seperti tsunami ataupun gempa bumi.

Melansir dari indonesia.go.id, warga Simeulue sendiri sudah mengenal tsunami sejak beberapa abad silam. Bukti ini terjadi pada tahun 1907 di daerah salut, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue diturunkan melalui syair nyanyian Nandong. Kesenian ini dikenalkan untuk membaca tanda alam dengan cermat.

Tak hanya itu, dalam kandungan syair tersebut dijelaskan ciri-ciri gejala bencana alam, seperti guncangan gempa yang kuat, air laut yang tiba-tiba surut dan kemudian gelombang besar yang datang setelahnya atau biasa dikenal dengan tsunami.

Pada gempa Aceh tahun 2004 silam, terbukti warga Simeulue yang tinggal di bagian pesisir justru tercatat sebagai wilayah dengan korban paling sedikit.

Bagian dari Warisan Budaya Tak Benda

Pada tahun 2016, kesenian Nandong sudah disahkan atau ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTB Indonesia) oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kembdikbud RI.

Maka dari itu, kesenian Nandong saat ini sudah tidak lagi milik masyarakat Pulau Simeulue saja, melainkan menjadi milik bersama bangsa Indonesia.

Dengan ditetapkan Nandong sebagai salah satu warisan budaya, kita sebagai masyarakat Indonesia bersama-sama menjaga dan melindungi keberlangsungan budaya lokal agar terus lestari dan dikenal hingga anak dan cucu kelak.

Rekomendasi