Caca Tengker Akui Tak Selalu Tahu Kebutuhan Anak Meski Jadi Psikolog, Ini Alasannya

Adik Nagita Slavina ini mengaku belum bisa sepenuhnya memahami tingkah laku dan kebutuhan anaknya.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Caca Tengker Akui Tak Selalu Tahu Kebutuhan Anak Meski Jadi Psikolog, Ini Alasannya
Akui Tak Selalu Tahu Akan Kebutuhan Anak, Caca Tengker Ungkap Alasannya. ©2023 Merdeka.com/ Instagram @cacatengker

Dalam peranannya, orang tua memang seringkali dianggap sebagai sosok yang paling mengerti seputar anak. Padahal tak semua orang tua sebenarnya tahu dengan apa yang dibutuhkan oleh anak.

Hal itu ternyata juga dirasakan oleh Caca Tengker. Adik Nagita Slavina ini mengaku belum bisa sepenuhnya memahami tingkah laku dan kebutuhan anaknya.

"Aku juga manusia, aku punya kemauan untuk belajar psikologi dari dewasa sampai ke anak-anak. Untuk memahami anak aku bisa, tapi bukan berarti 100 persen setiap hari bisa seperti itu. Aku punya tantangan dan masalah lain juga," ujar Caca Tengker dilansir dari Dream.co.id.

Akui Kelelahan

Caca Tengker mengungkap bahwa kelelahan merupakan salah satu faktor baginya tidak bisa memahami kebutuhan anak. Bahkan, kesalahannya terkadang justru dilampiaskan kepada sang anak.

Kendati demikian, ibu dua anak ini masih saja sering menyalahkan diri sendiri meski telah melampiaskan kekesalannya pada anak. Rasa bersalah itu justru semakin besar karena profesinya sebagai psikolog.

"Setiap ada kesalahan, aku selalu berusaha mikir, apa yang salah atau aku lagi kenapa. Kalau aku salah pilih sesuatu buat anak, mungkin aku lagi capek, nggak bisa pilih sesuai kebutuhan anak dan larinya ke anak. Namanya juga manusia, walaupun profesinya psikolog," ungkap Caca Tengker.

"Aku tahu aku seorang psikolog, aku suka menyalahkan diri sendiri waktu nyalahin anak. Kenapa aku masih salah, kan aku psikolog? Tapi hal itu nggak baik juga buat anak," sambungnya.

Fokus Mencari Solusi

Maka dari itu, Caca saat ini cenderung lebih fokus mencari solusi agar tidak terus merasa bersalah saat mengajari anaknya.

Baginya, memberi nasihat kepada anak terkadang harus dilakukan karena sang anak mengerti bagaimana cara bersikap yang baik dan tidak mengulangi kesalahannya.

"Nggak apa-apa merasa bersalah, tapi kita harus memproritaskan apa yang harus dilakukan terhadap kesalahan tersebut. Jadi kita nggak harus sempurna terus. Anak juga harus belajar jadi manusia, bukan wonderwoman," tutupnya.

Rekomendasi