Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Bekantan, Monyet Berhidung Panjang Endemik Pulau Kalimantan

Bekantan, Monyet Berhidung Panjang Endemik Pulau Kalimantan Bekantan. ©2021 Merdeka.com/Pranata

Merdeka.com - Tak seperti monyet yang lainnya, primata yang satu ini punya ciri khas yang unik di wajahnya. Yaitu hidungnya yang panjang. Bekantan, begitulah namanya. Si hidung panjang ini merupakan satwa endemik dari Pulau Kalimantan.

Meski dikenal sebagai si monyet berhidung panjang, namun nyatanya tak semua jenis bekantan memiliki hidung yang panjang. Hidung panjang dan besar pada hewan dengan nama latin Navalis larvatus ini hanya dimiliki oleh spesies jantan.

Hingga saat ini, belum tahu pasti mengapa hanya spesies jantan saja yang memilikinya. Dan apa fungsi hidung panjang tersebut. Namun, nampaknya hidung panjang ini disebabkan oleh seleksi alam. Uniknya, hidung besar yang dimiliki sang jantan ini juga menjadi daya tarik sendiri bagi kera betina. Kera betina lebih memilih jantan dengan hidung besar sebagai pasangannya loh!

bekantan©2021 Merdeka.com/Pranata

Untuk ukuran badan, Bekantan jantan memiliki tubuh yang lebih besar dari betina. Ukurannya dapat mencapai 75 cm dengan berat mencapai 24 kg. Kera Bekantan betina berukuran sekitar 60 cm dengan berat 12 kg. Baik bekantan jantan atau betina, memiliki rambut yang sama yang didominasi coklat kemerahan.

Jika diamati, bekantan juga memiliki perut yang buncit. Dilansir dari tnsebangau, perut buncit ini sebagai akibat dari kebiasaan mengonsumsi makanannya yang selain mengonsumsi buah-buahan dan biji-bijian mereka juga memakan dedaunan yang menghasilkan banyak gas pada waktu dicerna.

Selain mengonsumsi sumber pakan asal tumbuhan, Bekantan kerapkali mengonsumsi beberapa jenis serangga. Saat musim surut, Bekantan sering turun ke tanah untuk mencari serangga tanah.

bekantan©2021 Merdeka.com/Pranata

Meski gemar sekali bergelantungan di pohon dan menghabiskan banyak waktunya di pohon atau yang lebih dikenal sebagai satwa arboreal. Namun, Bekantan rupanya jago berenang loh!

Jika diamati, pada bagian telapak kaki dan tangannya memiliki selaput kulit seperti katak. Selaput ini lah yang membuat bekantan menjadi perenang ulung yang mampu menyeberangi sungai. Bahkan, hewan ini mampu berenang dari pulau satu ke pulau yang lain.

Selain mahir berenang bekantan juga bisa menyelam dalam beberapa detik, sehingga pada hidungnya juga dilengkapi semacam katup.

bekantan©2021 Merdeka.com/Pranata

Hewan yang sering disebut Kera Belanda, Pika, Bahara, Bentangan, Raseng dan Kahau ini hidup secara berkelompok. Masing-masing kelompok dipimpin oleh seekor Bekantan jantan yang besar dan kuat. Biasanya dalam satu kelompok berjumlah sekitar 10 sampai 30 ekor.

Habitat Bekantan (Nasalis larvatus) masih dapat dijumpai di beberapa lokasi antara lain di Suaka Margasatwa (SM) Pleihari Tanah Laut, SM Pleihari Martapura, Cagar Alam (CA) Pulau Kaget, CA Gunung Kentawan, CA Selat Sebuku dan Teluk Kelumpang. Juga terdapat di pinggiran Sungai Barito, Sungai Negara, Sungai Paminggir, Sungai Tapin, Pulau Bakut dan Pulau Kembang.

bekantan©2021 Merdeka.com/Pranata

Bekantan saat ini keberadaannya mulai terancam punah. Lantaran habitatnya rusak atau terganggu akibat maraknya alih fungsi lahan dan kerusakan hutan. Maraknya perburuan ilegal juga menjadi salah satu faktor berkurangnya populasi Bekantan.

Berdasarkan Redlist IUCN (the International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), Bekantan termasuk dalam kategori Genting (Endangered). Bekantan juga termasuk primata yang terdaftar di dalam Appendix I dari CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang berarti tidak boleh diperdagangkan. (mdk/Tys)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP