Pasien Kanker Serviks Sebagian Besar Baru Merasa Gejala ketika Sudah Stadium Lanjut

Sabtu, 16 Maret 2019 08:22 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Pasien Kanker Serviks Sebagian Besar Baru Merasa Gejala ketika Sudah Stadium Lanjut Ilustrasi Kanker Serviks. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Sebagian besar pasien yang menderita kanker serviks (leher rahim) biasanya baru menyadari penyakit mereka dan datang ke dokter ketika telah berada pada stadium lanjut. Hal ini umumnya terjadi karena gejala umum kanker serviks yang berlangsung belasan tahun serta tak ditunjukkan gejala awalnya.

Dalam beberapa kasus, pasien bisa saja mengalami pendarahan atau rasa nyeri di panggul. Nyeri dapat terjadi selama hubungan seksual, selain itu menstruasi terasa berat dan tidak teratur serta pada area selangkangan terjadi pendarahan vagina atau keputihan abnormal.

Dokter Venita dari Yayasan Kanker Indonesia Provinsi DKI Jakarta mengatakan, rasa nyeri dan pendarahan biasanya sudah kanker serviks stadium lanjut.

"Kebanyakan pasien yang datang ke saya sudah stadium lanjut. Sedih memang. Ya, antara stadium 3 dan 4. Dan itu sudah nyebar ke mana-mana (organ tubuh lain) juga," kata Venita.

Pada stadium awal memang tidak ada gejala, kecuali wanita rajin periksa dan skrining. Venita menceritakan, ia pernah menemui pasien yang mengalami kanker serviks stadium awal.

Pasien tersebut rajin memeriksakan diri dengan pap smear. Setelah ketahuan, pengobatan dan perawatan langsung dilakukan. Pasien bisa menjalani radioterapi.

"Enggak perlu sampai kemoterapi kok," lanjut Venita.

Demi menemukan tanda awal kanker serviks, wanita perlu melakukan skrining. Namun, biasanya ada ketakutan soal skrining, misal takut ketakutan dan cemas memikirkan pengobatan yang dilakukan.

"Pasien biasanya takut periksa karena takut ketahuan. Nah,kalau ketahuan itu justru bagus. Bisa cepat diobati. Kalau alasannya, 'Nanti kepikiran lagi' Ya, bukan dipikirkan tapi diobati," Venita melanjutkan.

Skrining gratis seringkali dilakukan Venita dan tim. Mereka berupaya mengajak para ibu untuk skrining. Namun, beberapa tantangan harus dialami.

"Pernah juga, ada ibu sudah isi kertas formulir pendaftaran. Tapi tiba-tiba dia bilang pengen jemput anak dari sekolah dan masak (lantas tak kembali lagi untuk melakukan skrining). Kebanyakan ibu lupa buat menjaga diri sendiri. Prioritas pasti ada, tapi penting juga buat ibu buat memikirkan kesehatan dirinya," Jelas Venita.

Reporter: Fitri Haryanti Harsono
Sumber: Liputan6.com

[RWP]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini