Hilangnya Penciuman Secara Mendadak Bisa Jadi Tanda Awal COVID-19

Selasa, 24 Maret 2020 13:00 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Hilangnya Penciuman Secara Mendadak Bisa Jadi Tanda Awal COVID-19 Ilustrasi hidung tersumbat. ©2017 cdn2.stylecraze.com

Merdeka.com - Sebuah gejala terbaru diketahui mengenai infeksi virus corona atau COVID-19. Tanda-tanda ini merupakan gejala awal yang muncul bahkan sebelum gejala umum seperti batuk dan demam muncul.

Diketahui bahwa hilangnya penciuman seseorang secara tiba-tiba bisa menjadi tanda infeksi virus corona secara diam-diam pada seseorang. Hal ini tentu bisa cukup berbahaya karena seseorang bakal jadi carrier tersembunyi dari COVID-19.

Dilansir dari Science Alert, diketahui bahwa sekitar sepertiga pasien di Korea Selatan, China, dan Italia yang terinfeksi COVID-19 dikabarkan kehilangan penciuman. Hal ini dikenal juga sebagai anosmia atau hyposmia.

"Di Korea Selatan, di mana pengetesan telah lebih meluas, 30 persen pasien yang positif mengalami anosmia sebagai gejala utama pada kasus ringan," terang Clare Hopkins presiden dari the British Rhinological Society Professor, Clare Hopkins, serta professor Nirmal Kumar, presiden dari British Association of Otorhinolaryngology.

1 dari 2 halaman

Kedua pakar ini dalam keterangan bersamanya mengungkap bahwa banyak pasien yang positif COVID-19 hanya menunjukkan gejala hilangnya penciuman serta perasa. Mereka tak menunjukkan gejala lain yang lebih umum seperti demam tinggi dan batuk.

"Terdapat peningkatan jumlah laporan yang pesat terakit peningkatan signifikan jumlah pasien yang mengalami anosmia tanpa gejala lain," terang pernyataaan tersebut.

"Iran telah melaporkan peningkatan kasus secara tiba-tiba terkait anosmia terisolasi. Banyak kolega dari Amerika Serikat, Prancis, dan Italia Utara juga mengalami hal yang sama,"

Kurangnya gejala umum lain pada kasus ini mungkin membuat mereka tidak dites dan diisolasi. Secara langsung, hal ini membuat mereka menjadi penyebab COVID-19 yang membahayakan.

2 dari 2 halaman

Pada pasien usia muda, Kumar mengungkap bahwa mereka mungkin hanya tampak kehilangan penciuman atau perasa. Mereka mungkin tak menampilkan gejala yang lebih umum seperti demam tinggi atau batuk terus-menerus.

"Pada pasien usia muda, mereka tak mengalami gejala signifikan seperti batuk dan demam, namun mereka mungkin kehilangan penciuman dan perasa yang berarti virus ini bersarang di hidung," terang Professor Kumar.

Kumar menyarakan seseorang yang mengalami hilangnya penciuman dan perasa ini untuk mengisolasi diri selama tujuh hari. Cara ini penting dilakukan untuk mencegah persebaran penyakit secara lebih lanjut. [RWP]

Baca juga:
Membiarkan dan Meninggalkan Bayi Menangis Tidak Berdampak Buruk bagi Buah Hati
Obesitas Bisa Menular pada Remaja dengan Lingkungan yang Cenderung Gemuk
Pada Anak, Infeksi Virus Corona Tidak Bakal Parah Tapi Bisa Menyebar
Intermittent Fasting Bisa Tingkatkan Metabolisme Lemak dan Mencegah Penyakit Tertentu
Peneliti Kembangkan Lensa Kontak Baru yang Bisa Bantu Atasi Masalah Buta Warna
Bertingkah Macho Bisa Buat Pria Kesepian dan Rawan Sakit pada Usia Senja

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini