Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Profil

Ika Hartika Ismet

Profil Ika Hartika Ismet | Merdeka.com

Dalam bidang elektronika dan ilmu telekomunikasi di Indonesia, nama Ika Hartika Ismet sudah menjadi dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisah. Wanita asal Tasikmalaya telah membaktikan dirinya sebagai peneliti LIPI sejak 1970an dan masih terus menekuni bidang energi listrik, khususnya sel (tenaga) surya, hingga profil ini diunggah. Ismet juga sering memperoleh kesempatan belajar di mancanegara beberapa negara Eropa, Asia, dan juga Amerika Serikat.

Semasa Orde Baru, Ismet memenangi anugerah Satyalancana Pembangunan yang diberikan langsung oleh Kepala Negara, saat itu Presiden Soeharto, atas perannya dalam Lapangan Pembangunan Bidang Industri Strategis. Mega-proyek ini bertujuan memproses sekaligus memproduksi komponen sel dan energi listrik tenaga surya untuk sejuta rumah sebagai prototipe industri. Harapan Ismet terhadap munculnya industri sel surya di Indonesia sempat melambung tinggi ketika Istana Negara sempat memesan 50 panel sel surya rancangannya sebagai dasar rancangan rumah (bertenaga) surya pada 1996. Namun, asa tersebut harus pupus ketika pemerintah berhenti menindaklanjuti permintaan tersebut.

Beberapa waktu lalu, istri Ismet Adieb Mas'oed ini memaparkan kemajuan penelitian sel surya di Indonesia pada sebuah media. Pakar energi listrik ini menyebutkan bahwa Indonesia sebenarnya sudah mampu mencapai tingkat efisiensi transformasi sinar matahari menjadi energi sebesar 10%, atau terpaut dua angka saja dari standar minimal efisiensi produksi komersial, 12 - 14%. Peneliti senior yang telah menerbitkan lebih dari 70 judul karya ilmiah ini menjelaskan bahwa salah satu penghambat terbesar ketertinggalan Indonesia dari banyak negara tetangga, seperti Singapura atau Malaysia, adalah kurangnya keseriusan dan kemauan pemerintah untuk memaksimalkan potensi sel surya sebagai salah satu sumber energi terbesar dan tak terbatas di Indonesia.

Meski cita-cita Ismet mengembangkan sel surya belum juga terealisasi terlepas dari pengabdian puluhan tahun yang dilakukannya dalam bidang tersebut, setidaknya peneliti kelahiran 1946 ini juga menerima sedikit hiburan. Konsistensi dan dedikasi Ika Hartika Ismet mengukuhkan kepakarannya sebagai Guru Besar pada Juni 2007 sekaligus mengantarnya menerima Satyalancana Karya Satya 30 Tahun yang diberikan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Riset dan analisis: Swasti P. M. - Mochamad Nasrul Chotib

Profil

  • Nama Lengkap

    Prof. Ir. Ika Hartika Ismet M.A.

  • Alias

    No Alias

  • Agama

    Islam

  • Tempat Lahir

    Tasikmalaya, Jawa Barat

  • Tanggal Lahir

    1946-10-09

  • Zodiak

    Balance

  • Warga Negara

    Indonesia

  • Suami

    Ismet Adieb Mas'oed

  • Biografi

    Dalam bidang elektronika dan ilmu telekomunikasi di Indonesia, nama Ika Hartika Ismet sudah menjadi dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisah. Wanita asal Tasikmalaya telah membaktikan dirinya sebagai peneliti LIPI sejak 1970an dan masih terus menekuni bidang energi listrik, khususnya sel (tenaga) surya, hingga profil ini diunggah. Ismet juga sering memperoleh kesempatan belajar di mancanegara beberapa negara Eropa, Asia, dan juga Amerika Serikat.

    Semasa Orde Baru, Ismet memenangi anugerah Satyalancana Pembangunan yang diberikan langsung oleh Kepala Negara, saat itu Presiden Soeharto, atas perannya dalam Lapangan Pembangunan Bidang Industri Strategis. Mega-proyek ini bertujuan memproses sekaligus memproduksi komponen sel dan energi listrik tenaga surya untuk sejuta rumah sebagai prototipe industri. Harapan Ismet terhadap munculnya industri sel surya di Indonesia sempat melambung tinggi ketika Istana Negara sempat memesan 50 panel sel surya rancangannya sebagai dasar rancangan rumah (bertenaga) surya pada 1996. Namun, asa tersebut harus pupus ketika pemerintah berhenti menindaklanjuti permintaan tersebut.

    Beberapa waktu lalu, istri Ismet Adieb Mas'oed ini memaparkan kemajuan penelitian sel surya di Indonesia pada sebuah media. Pakar energi listrik ini menyebutkan bahwa Indonesia sebenarnya sudah mampu mencapai tingkat efisiensi transformasi sinar matahari menjadi energi sebesar 10%, atau terpaut dua angka saja dari standar minimal efisiensi produksi komersial, 12 - 14%. Peneliti senior yang telah menerbitkan lebih dari 70 judul karya ilmiah ini menjelaskan bahwa salah satu penghambat terbesar ketertinggalan Indonesia dari banyak negara tetangga, seperti Singapura atau Malaysia, adalah kurangnya keseriusan dan kemauan pemerintah untuk memaksimalkan potensi sel surya sebagai salah satu sumber energi terbesar dan tak terbatas di Indonesia.

    Meski cita-cita Ismet mengembangkan sel surya belum juga terealisasi terlepas dari pengabdian puluhan tahun yang dilakukannya dalam bidang tersebut, setidaknya peneliti kelahiran 1946 ini juga menerima sedikit hiburan. Konsistensi dan dedikasi Ika Hartika Ismet mengukuhkan kepakarannya sebagai Guru Besar pada Juni 2007 sekaligus mengantarnya menerima Satyalancana Karya Satya 30 Tahun yang diberikan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

    Riset dan analisis: Swasti P. M. - Mochamad Nasrul Chotib

  • Pendidikan

    • Sekolah Rakyat Latihan, Tasikmalaya, 1953-1959
    • SMP I Tasikmalaya, 1959-1962
    • SMA Tasikmalaya, 1962-1965
    • Institut Teknologi Bandung, 1964-1974
    • Lancaster University, Inggris, 1976-1977

  • Karir

    • Kepala Lab. Komponen dan Peralatan Listrik, LEN – LIPI (1977 – 1986)
    • Assisten Kapuslit. Bahan Komponen dan Alat-alat Listrik, LEN – LIPI (1983 – 1986)
    • Kepala Bid. Perencanaan dan Pengembangan, Pusat LEN – LIPI (1986 – 1990)
    • Kepala Div. Personalia, UP. LEN – BPIS (1990 – 1991)
    • Kepala Div. Pengembangan, PT. LEN Industri (1992 – 1995)
    • Ahli Peneliti Utama PPET-LIPI (2002 – sekarang)
    • Profesor Riset PPET-LIPI (2007 – sekarang)
    • Anggota Panelis Riset Unggulan Terpadu (RUT) IX, X, XI Bidang Mikroelektronika dan Informatika (2001 – 2003)
    • Anggota Panelis Program/Proyek LIPI Tahun Anggaran 2003.
    • Ketua Tim Penilai Jabatan Fungsional Peneliti Tingkat PPET-LIPI (2003 – sekarang)
    • Anggota TRME Kedeputian IPT-LIPI (2004)
    • Peneliti utama Program Riset Kompetitif Sub Bidang Energi Baru dan Terbarukan (2004 – sekarang)
    • Tim Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Program Riset Kompetitif Sub Bidang Kajian Pertahanan dan Keamanan (2006 – sekarang)
    • Narasumber penelitian ”Sel Surya untuk Aplikasi Portable Power System dalam Mendukung Mobilitas TNI” pada Program Riset Kompetitif Sub Bidang Kajian Pertahanan dan Keamanan (2006 – 2007)
    • Peneliti utama Program Insentif Kapasitas Iptek Sistem Produksi – KNRT (2007 – 2008)
    • Narasumber/Dewan Pakar Kegiatan Studi Analis Prioritas Penelitian dan Pengembangan LIPI (2008)
    • Narasumber Studi Pasar Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Dalam Rangka Mendukung Kelayakan Pembangunan Modul Surya – BPPT (2008)

  • Penghargaan

    • Penghargaan “Adhicipta Rekayasa” bidang Proses Sel Surya dari Persatuaan Insinyur Indonesia (1994)
    • Penghargaan “Satya Lancana Pembangunan” dan “Satyalancana Karya Satya XX Tahun” oleh Presiden Soeharto (1997)
    • Karyawan Berprestasi Terbaik PT. LEN Industri Tahun 1997 / 1998
    • Penghargaan “Satyalancana Karya Satya 30 Tahun” oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2007)
    • Penghargaan ”Ristek-Medco Energy” bidang Teknologi Energi (2008)

Geser ke atas Berita Selanjutnya
[aside] err with status code 500