Ketua DPP Partai Golkar Hadjriyanto Y Thohari menyarankan agar terdakwa kasus suap pengadaan laboratorium, Angelina Sondakh untuk tidak lagi mengancam-ancam atau membuat 'tsunami' di DPR. Menurutnya, Angie sedang memainkan tarian politik menarik diri."Dalam kajian politik barangkali itu yang namanya 'politik menarik diri' atau politik yang sedikit-sedikit mengancam," kata Hadjriyanto saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Kamis (11/10).Padahal dalam konteks hukum, menurut Hadjriyanto, untuk membantu pemberantasan korupsi akan jauh lebih baik jika disampaikan saja dalam sidang pengadilan. Daripada mengeluarkan ancaman-ancaman semacam itu, Hadjriyanto menegaskan, rasanya lebih positif langsung disampaikan saja dalam sidang."Dengan disampaikan dalam sidang maka informasi-informasi tersebut akan menjadi bagian dari fakta hukum. Dan itu sangat bermanfaat," tegas Hadjriyanto.Seperti diketahui, Dalam BAP yang dibacakan jaksa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (11/10), Rosa mengakui Angie, sapaan Angelina, pernah menjenguk dia di Rumah Tahanan khusus Perempuan Pondok Bambu, Jakarta Timur, tidak lama setelah dia ditahan KPK. Dalam pertemuan tersebut Angie meminta agar dirinya dikeluarkan, bila tidak maka mantan puteri Indonesia tersebut mengancam akan membuat 'tsunami' di DPR.Berikut transkrip percakapan Angie dan Rosa:Angie (A): "Aduh saya pusing sekali ini mbak."
Rosa (R): "Kenapa bu?"
A: "Saya kan tidak tau soal Wisma Atlet kok dibawa-bawa. Tolong dong mbak bantu saya"
R: "Saya juga bingung bu mau bantu seperti apa. Saya ditahan, hp saya disita, semua bukti percakapan ada di situ, orang kantor juga banyak kena."
A:"Tolonglah mbak, semoga setelah mbak keluar, kita sama-sama cari kerjaan yang benar saja."
A: "Saya baru dari rumah Anas (Urbaningrum) nih. Saya ga mau kena sendirian. Saya bisa marah besar. Saya bisa bikin tsunami lebih besar daripada Nazar (Muhammad Nazaruddin) di DPR."
R:"Habis gimana dong bu."
A:"Tolonglah bu, sebagai sesama ibu.