Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah M Noer, Gubernur legendaris Jawa Timur

Kisah M Noer, Gubernur legendaris Jawa Timur M Noer. ©voa-islam.com

Merdeka.com - Nama lengkapnya Raden Panji Mohammad Noer atau cukup dipanggil M Noer. Tapi dulu, arek Jawa Timur (Jatim) lebih akrab memanggilnya Cak Noer. Dia menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur selama 9 tahun, periode 1967 hingga 1976. Mohammad Noer lahir di Sampang, Madura pada 13 Januari 1918 dan meninggal di Surabaya, Jawa Timur pada 16 April 2010 pada usia 92 tahun.

M Noer meniti karirnya dari bawah, mulai dari magang di Kantor Kabupaten Sumenep, Asisten Wedana, Patih (Wakil Bupati), Bupati Kabupaten Bangkalan, Residen (Pembantu Gubernur), Pejabat Sementara Gubernur Jawa Timur, hingga menjadi seorang Gubernur Jawa Timur. Dia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Paris, Perancis.

Sebagai Gubernur, Noer menggalakkan pertanian di Jatim. Ia kemudian membentuk Badan Usaha Unit Desa (BUUD) yang ditujukan untuk meningkatkan ekonomi para petani sebagai produsen pangan. Program intensifikasi dilakukan dengan cara menyalurkan bibit-bibit unggul dan pupuk kepada petani melalui BUUD tersebut. Hasilnya luar biasa, kenaikan produksi beras naik 36,36 persen dari masa pemerintahan sebelumnya.

Sebagai gubernur, M Moer memang dikenal dekat dengan rakyat. Dia kerap ikut andil menyelesaikan masalah dengan pendekatan religius. Contohnya saat melerai pertikaian antara masyarakat Bangkalan dengan Sampang. Waktu itu warga terlibat konflik carok pada 17 Mei 1974.

Cak Noer, tahu betul masyarakat Madura sangat menyanjung Sunan Ampel, mengingat pada bulan puasa mereka sering melakukan ziarah makam dan melakukan khatam Alquran di sana. Dia kemudian mengundang kedua pihak ke Masjid Sunan Ampel, Surabaya untuk melakukan ikrar damai. Hasilnya, konflik berhasil diredam.

Ketika menjabat sebagai gubernur, Noer pernah menjabat sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari fraksi utusan daerah. Salah satu ungkapan M Noer yang popular adalah 'Agawe Wong Cilik Melu Gumuyu' atau 'Membuat Rakyat Kecil Ikut Tertawa', yang dia sampaikan dalam pidatonya di sidang MPR pada Maret 1973.

Karena kedekatannya dengan rakyat itu, muncul guyonan di antara masyarakat Jatim soal kedekatan M Noer dengan masyarakat Madura. "Bila sekarang anda datang ke Madura, kemudian bertemu dengan orang tua di sana, coba tanya, siapa Gubernur Jatim sekarang? Mereka bakal menjawab, 'Gubernur Jatim adalah Mohammad Noer, gubernurnya orang Madura'."

Selain dikenal dekat dengan rakyat, M Noer juga dikenal sering mengeluarkan keputusan tidak populis, misalnya melakukan sosialisasi program Keluarga Berencana (KB) dengan kentongan. Tapi program itu berhasil. Selain itu, dia juga dikenal sebagai pemimpin yang mau mendengar kritik publik. Maka wajar bila semasa hidup, banyak tokoh Jatim yang berkunjung ke sana meminta petuah dan nasihat.

Namun demikian, selain prestasi-prestasi itu, bagi orang-orang tertentu, sosok Noer dianggap terlalu dekat dengan Soeharto dan keluarga Cendana. Seperti sepenggal kisah M Noer yang ditulis oleh George Junus Aditjondro dalam bukunya yang berjudul: Korupsi kepresidenan: reproduksi oligarki berkaki tiga: Istana, Tangsi dan Partai Penguasa.

Dalam buku itu, Junus menyebut M Noer sebagai antek Soeharto. Dia pernah menjabat sebagai Komisaris Stasiun Televisi SCTV milik anak Soeharto, Bambang Trihatmodjo bersama adik ipar Harmoko, Nyonya Yolla Zuraida Hasan. Junus juga menyebut M Noer disenangi keluar Soeharto, sehingga tak sungkan-sungkan memanfaatkan jabatannya untuk kepentingan bisnis.

Dia misalnya, disebut-sebut kerap mempengaruhi pengusaha di wilayahnya, sehingga mencantumkan namanya sebagai komisaris perusahaan-perusahaan itu. Nama M Noer misalnya, sempat tercatat sebagai komisaris pabrik sepatu PT Super Mitory Utama di Sidoarjo, pabrik plastik PT Berlina Co. Ltd. di Pandaan, pabrik barang-barang konsumen PT Unilever yang memiliki pabrik di Surabaya.

Selain itu, nama M Noer juga tercatat sebagai komisaris di perusahaan properti PT Mas Murni Indonesia yang memiliki Garden Palace Hotel di Surabaya, serta menjadi komisaris di PT Bank Tiara Indonesia.

Itulah sosok M Noer, bagi sebagian orang dia dikenal sebagai gubernur legendaris, merakyat, dan termasuk sebagai tokoh panutan bagi sebagian besar masyarakat Jatim. Dia juga disebut-sebut sebagai sosok ideal gubernur Jatim. Tapi bagi sebagian orang lagi, M Noer juga tetap memiliki kelemahan. (mdk/mtf)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP