Jokowi Mau Pindahkan Ibu Kota, Fahri Ingatkan Konsep DKI yang Digagas Soekarno

Selasa, 30 April 2019 19:38 Reporter : Randy Ferdi Firdaus
Jokowi Mau Pindahkan Ibu Kota, Fahri Ingatkan Konsep DKI yang Digagas Soekarno fahri hamzah. ©2018 Merdeka.com/dokumen pribadi

Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana memindahkan ibu kota dari Jakarta. Meski belum diketahui letaknya, tapi sudah disepakati pemerintah bahwa ibu kota nantinya tidak lagi berada di pulau Jawa.

Terkait hal itu, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai, pemindahan ibu kota tidak bisa di sembarang tempat. Dia menjelaskan konsep ibu kota yang digagas oleh Presiden pertama Soekarno.

Fahri mengatakan, konsep ibu kota Indonesia tidak bisa berubah dari konsep ibu kota yang digagas oleh Soekarno pada tahun 1960. Desainnya, lanjut dia, mengikuti ibu kota yang lebih pasti itu adalah ibu kota AS yaitu Washinton DC.

"Dimana Washington itu berada di distrik of Colombia makanya kata-kata DKI itu dalam UU-nya adalah daerah khusus ibu kota yang dimaksudkan sebagai ibu kota dalam desain tata kota yang dirancang oleh bung Karno," jelas Fahri kepada wartawan, Selasa (30/4).

Dia menjelaskan, ada sejumlah unsur yang harus dipenuhi untuk memilih letak ibu kota. Khususnya soal sejarah sebagai konsep dasar ibu kota dari Bung Karno.

"Yang di dalamnya ada pusat pemerintahan dan pusat sejarah, jadi ibu kota dalam desain Bung Karno pada waktu itu harus punya dua hal yakni pusat pemerintahan dan pusat sejarah," tambah politikus PKS tersebut.

Kata Fahri, Pusat pemerintahan dimaksudkan sebagai tempat bagi pengambilan keputusan terbaik bagi bangsa dan negara. Sementara pusat sejarah, itu maksudkan sebagai memori bersama anak-anak bangsa.

"Agar kita sebagai bangsa punya rujukan untuk mengingat tentang apa yang dialami bangsa kita, secara khusus dan dunia pada umumnya," terang Fahri lagi.

Itu sebabnya, lanjut dia, kalau melihat konsep-konsep seperti ini berkembang, misalnya Bung Karno pergi ke Brazil dan melihat kota Brazilia yang desainnya memang mengikuti konsep yang berkembang di AS. Jadi filosofi ibu kota itu berasal dari Bung Karno, sehingga pemerintahan ini tidak boleh keluar dari konsepsi pemikiran bung Karno tentang ibu kota.

"Kalau presiden sekadar hanya membangun kota, silakan membangunnya. Tetapi jangan mengubah landscape dan konsep yang sudah dibuat para pendiri bangsa kita. Kalau kita merubah itu, kita bisa mengubur sejarah kita, dan kita tidak tahu jati diri, dan kita bisa menjadi bangsa yang kebingungan karena tidak punya catatan masa lalu," tutup dia. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini