Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Apresiasi penundaan kenaikan Premium, Sandi harap bukan karena pertimbangan politik

Apresiasi penundaan kenaikan Premium, Sandi harap bukan karena pertimbangan politik SPBU. Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Langkah pemerintah menunda kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium diapresiasi Calon Wakil Presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno. Sandiaga menilai keputusan pemerintah menunda kenaikan harga Premium sudah tepat.

Ditemui usai bertemu Sultan HB X di Kraton Kilen, Sandiaga mengapresiasi langkah Presiden Jokowi menunda kenaikan harga premium. Sandiaga menyadari tren harga minyak dunia memang sedang melambung.

"Saya mengapresiasi kebijakan pemerintah untuk menunda kenaikan premium," ucap Sandiaga.

Sandiaga menerangkan melonjaknya nilai tukar dolar membuat harga minyak dunia mengalami lonjakan. Sehingga perlu penanganan yang tepat. Namun pasokan tetap harus terjaga.

"Ketersediaan pasokan BBM jenis Premium harus dijaga. Ini perlu dilakukan supaya ketersediaan BBM jenis Premium tetap bisa diakses masyarakat," terang Sandiaga.

Mantan Wagub DKI ini berharap kebijakan penundaan kenaikan premium dilakukan atas perhitungan yang matang. Bukan karena pertimbangan kepentingan politik.

"Kedua, bahwa jangan sampai juga kebijakan ini (penundaan kenaikan premium) dilakukan hanya untuk pertimbangan politik. Tapi harus ada pemikiran kebijakan jangka menengah, jangan panjang," ucap Sandiaga.

Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hendrawan Supratikno menilai, penundaan rencana kenaikan harga BBM jenis Premium bukan untuk menjaga elektabilitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019. Dia meyakini, keputusan menunda kenaikan harga Premium semata-mata untuk menjaga stabilitas data beli masyarakat.

"Untuk menjaga daya beli masyarakat," kata Hendrawan saat dihubungi merdeka.com, Kamis (11/10).

Untuk diketahui, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Agung Pribadi, mengatakan penundaan kenaikan BBM jenis Premium menjadi Rp 7.000 untuk wilayah Jawa, Madura dan Bali (Jamali) dan Rp 6.900 di luar Jamali karena PT Pertamina (Persero) selaku penyalur Premium belum siap menyesuaikan harga.

"Ditunda mungkin karena menurut kita Pertamina-nya belum siap," kata Agung, di Jakarta, Rabu (10/10).

Pertamina membutuhkan waktu lebih banyak untuk melakukan penyesuaian harganya di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

"Kami perlu waktu juga untuk bagaimana men-setup itu semua itu dan SPBU. Tidak bisa langsung efektif bagaimana mekanisme antrean. Yang pasti hari ini Premium tidak naik, tidak perlu dibahas ke sana kemari," ujar Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati di Bali, kemarin.

Menurut dia, dibatalkannya kenaikan harga Premium ini juga tidak menjadi masalah bagi Pertamina. Sebab, sebagai BBM penugasan, maka harga Premium memang ditetapkan oleh pemerintah.

"Bukan masalah siap dan tidak siap. Ada yang perlu disiapkan karena kan Premium merupakan khusus penugasan. Jadi penetapan harganya oleh menteri yang dilakukan berkoordinasi dengan tiga menteri. Penerapan harganya ada beberapa variabel yang perlu dipertimbangkan," kata dia.

Namun selain menunggu keputusan pemerintah, Pertamina juga melakukan survei terkait harga BBM yang dijualnya terhadap daya beli masyarakat. Hal ini turut dilaporkan kepada pemerintah untuk menjadi pertimbangan.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP