Uniknya perayaan Galungan di Desa Tenganan Karangasem

Rabu, 10 Februari 2016 19:19 Reporter : Gede Nadi Jaya
Perayaan Galungan. ©2016 merdeka.com/gede nadi jaya

Merdeka.com - Kemeriahan Galungan di Bali yang dirayakan setiap 6 bulan sekali, identik dengan pemasangan penjor dan masakan lawar. Namun beda halnya dengan yang dilakukan umat Hindu di wilayah Desa tua Tenganan Karangasem, Bali.

Di desa ini tidak ada yang namanya pasang penjor di hari raya Galungan apalagi memasak masakan lawar babi. Mereka memiliki kepercayaan persembahan untuk Dewa Perang.

Menurut adat warga Bali pada umumnya, rangkaian hari raya Galungan dimulai dari pelaksanaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kemudian pada hari seninnya, ibu-ibu membuat jajanan untuk upacara yang disebut hari Penyajaan Galungan. Kemudian Selasa giliran kaum laki-laki memasak bumbu dan potong hewan untu dimasak, acara ini disebut Penampahan Galungan.

Pada hari Rabu perayaan Galungan, persembahyangan pertama kali akan dilaksanakan di area lingkungan rumah, dilanjutkan dengan persembahyangan di Sanggah (pura keluarga besar) yang lebih besar hingga persembahyangan di Pura Dadia (pusat keluarga leluhur) dan di Pura Jagatnatha. Hingga hari Manis Galungan pada hari kamis, warga bersenang-senang dengan saling berkunjung ke tetangga atau keluarga jauh.

Namun yang unik adalah perayaan Galungan di desa Tenganan Pegrisingan, Karangasem. Di desa tua ini perayaan Galungan terlihat berbeda pada warga Sekte Dewa Perang. Bagi warga di desa yang terkenal dengan tenunan songket ini, hari raya Galungan bukan merupakan hari raya besar, karena warga di desa ini hanya mengenal satu hari besar yakni Usabha atau Aci Sambah, yang jatuh pada bulan kelima dalam penanggalan kalender adat desa ini.

Perayaan Galungan di desa yang terkenal dengan tradisi perang Pandang ini, tetap dilaksanakan. Hanya saja tidaklah semeriah seperti nuansa di desa lainnya di Bali.

Di desa ini merayakan Galungan dengan bersembahyang ke Pura Anyar yang berlokasi di lereng bukit. Sesaji atau persembahan dihaturkan ke tiga pura utama di desa tua tersebut, yakni Pura Bale Agung, Pura Ulun Swarga dan Pura Sembangan yang berada jauh ditengah hutan di kaki bukit.

Kelian Adat Tenganan Pegringsingan, I Wayan Yasa, menyebutkan jauh sebelum Hindu masuk ke Bali, warga di Desa Tenganan Pegrigsingan sudah beragama Hindu dan sebagai penganut Sekte Dewa Indra yang dikenal sebagai Dewa Perang, sehingga hari raya dan ritual di desanya ini juga berbeda dengan ritual umat Hindu secara umum.

"Warga di desa ini juga mengenal Galungan, tetapi kami tidak memasang penjor, selain itu untuk persembahyangan di tiga pura adat hanya diwakilkan oleh lima orang yang ditunjuk oleh adat," urainya.

Selain itu kata dia jenis sesaji yang dihaturkan juga sangat berbeda dengan sesaji yang dihaturkan umat Hindu secara umum pada saat Galungan.

"Kalau Galungan seperti sekarang ini kami menghaturkan Banten atau Sesaji Uduan," tegasnya.

Dijelaskannya Banten Uduan (persembahan) tersebut terdiri dari lima jenis buah-buahan Bali seperti jeruk Bali atau jeruti, pisang, jeruk, dan beberapa jenis buah lainnya.

Selain itu dalam Banten Uduan tersebut juga ada beberapa jenis jajan yang terbuat dari beras dan ketan dalam ukuran besar yang dibentuk persegi empat. Dan yang paling menarik adalah tumpengan besar setinggi setengah meter.

Sarana Banten Uduan tersebut kemudian dirangkai oleh tiga orang wanita di atas sebuah dulang raksasa dengan urutan dan posisi tertentu. Setelah siap, tiga dulang yang berisi Banten Uduan itu kemudian dihaturkan oleh lima orang warga yang ditunjuk adat ke tiga pura yakni Pura Umun Swarga, Pura Bale Agung dan Pura Sembangan.

"Menariknya setelah proses upacara usai. Kita tutup dengan tradisi megibung (makan bersama dalam satu nampan). Megibung kita lakukan di Bale Banjar desa adat diikuti oleh seluruh warga," Tutup [cob]

Topik berita Terkait:
  1. Hindu
  2. Bali
  3. Karangasem
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini