Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sejak ditinggal orangtua, Ryan sering melamun

Sejak ditinggal orangtua, Ryan sering melamun Ignatius Ryan Tumiwa. ©2014 Merdeka.com/benny

Merdeka.com - Nama Ignatius Ryan Tumiwa tiba-tiba menjadi buah bibir di kalangan praktisi hukum. Hal itu menyusul langkahnya mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi untuk merevisi pasal 344 KUHP tentang eutanasia atau upaya mengakhiri hidup seseorang dengan tenang. Warga Jakarta Barat itu mengaku sudah tak kuat hidup karena tak mendapatkan pekerjaan dan hidup dalam kemiskinan.

Menurut Candra, kakak kandung Ryan, kondisi depresi yang dialami oleh adiknya tersebut terlihat sejak sang Ayah, meninggalkannya karena sakit pada 2012 lalu. Sementara sang ibu telah meninggal dunia 2005 lalu juga karena sakit. Sebelumnya, Ryan juga pernah hendak dibawanya ke psikiater. Namun, usahanya tersebut belum berhasil.

"Dia suka bengong dan melamun. Makanya saya khawatir, dan mau bawa ke psikiater," kata Chandra di RSKD Durensawit, Sabtu (9/8).

Lebih lanjut Chandra mengatakan, Ryan memang sering curhat terkait kondisinya saat ini. Menurutnya, adiknya tersebut kerap kali mengeluh karena tidak mendapatkan pekerjaan yang menetap.

"Dia sering ngeluh karena nggak punya pekerjaan. Saya mau carikan juga enggak ada relasi dengan orang lain. Saya ajak tinggal bareng rumah saya, dia enggak mau. Makanya dia menyendiri di rumah. Paling saya tanya kabar seminggu sekali dan kirim uang sebulan sekali," tandasnya.

Chandra mengatakan, Ryan merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Menurutnya adiknya tersebut memang memiliki kecerdasan saat masih sekolah dulu.

"Saya berharap kondisinya cepat membaik. Mudah-mudahan dia juga mau tinggal sama saya nanti," katanya. (mdk/has)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP