Saksi ahli bahasa nilai buku 'Materi Tauhid' Aman Abdurahman sarat hasutan

Selasa, 24 April 2018 13:34 Reporter : Merdeka
Saksi ahli bahasa nilai buku 'Materi Tauhid' Aman Abdurahman sarat hasutan Terdakwa kasus bom Thamrin 2016 Aman Abdurrahman. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kembali menggelar sidang kasus bom Thamrin dengan terdakwa Aman Abdurahman. Sidang beragendakan mendengarkan keterangan saksi ahli bahasa dari badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam keterangannya, saksi ahli membenarkan ada sebuah hasutan yang terkandung dalam buku yang ditulis terdakwa. Hal itu terungkap saat Jaksa Anita membacakan salah satu dalil dalam buku Seri Materi Tauhid yang ditulis Aman Abdurrahman.

"Ada kata atau kalimat, bayangkan yang jadi sumber hukum adalah manusia penuh keterbatasan. Apa jadinya hukum diundangkan dan diibadati selanjutnya direvisi karena tidak relevan lagi, maka itu tidak ada beda dengan tuhan berhala dari adonan roti yang mereka buat dan ibadati tapi saat lapar merkea santap habis. Kalau dari bentuk kalimatnya, apa ini secara bahasa dikategorikan aktif atau pasif?" tanya Anita kepada ahli.

"Itu aktif, artinya si penulis mempengaruhi pembaca sesuai dengan pendapatnya bahwa aturan buatan manusia tidak beguna sama sekali karena manusia penuh kekurangan. Jadi ada ajakan yang mempengaruhi orang lain, mempengaruhi pikirannya. Karena aturan buatan manusia tidak ada guna, jadi buat apa ditaati?" jelas ahli menerangkan unsur dalam kalimat dibaca jaksa.

Kemudian, Ketua Majelis Hakim Akhmad Jaini mengonfirmasi kepada ahli terkait makna kata ibadat dan diibadati yang terdapat dalam kalimat tersebut. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), terang ahli, kata tersebut merujuk pada sebuah bakti yang ditujukan kepada Tuhan.

"Jadi di KBBI ada kata diibadati atau diibadahi, berarti sesutu yang harus ditaati adalah kegiatan bakti kepada Allah SWT, ketaatan menjalani perintah dan menjauhi larangan, kemudian dalam makna itu tersirat ketaatan," beber ahli.

Usai habis pertanyaan dari pihak penuntut umum, hakim pun melimpahkan kesempatan pada tim kuasa hukum terdakwa. Namum seperti biasa, tidak ada tanggapan dan sanggahan, atau pertanyaan kepada saksi ahli dilayangkan.

Sidang pun berjalan singkat, hakim majelis mengagendakan saksi meringankan dari terdakwa untuk persidangan selanjutnya. Namun hal tersebut ditolak, sehingga hakim langsung merujuk pada agenda pemeriksaan terdakwa.

"Baik, karena terdakwa tidak menghadirkan saksi maka agenda sidang selanjutkan pada Jumat 27 April 2018, adalah pemeriksaan terdakwa," kata Hakim Akhmad sambil menutup persidangan.

Reporter: Muhammad Radityo Priyasmoro
Sumber : Liputan6.com [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini