Polisi: Kadiv Pas Riau Tak Terima Reward Rp50 M, Meski Top Up Rp50 Juta di MeMiles

Rabu, 15 Januari 2020 22:32 Reporter : Erwin Yohanes
Polisi: Kadiv Pas Riau Tak Terima Reward Rp50 M, Meski Top Up Rp50 Juta di MeMiles Barang bukti investasi ilegal aplikasi MeMiles. ©2020 Merdeka.com/Erwin Yohanes

Merdeka.com - Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadiv Pas) Kementerian Hukum dan HAM Riau Maulidi Hilal yang sempat viral diakun youtube MeMiles, dipastikan telah menerima hadiah dari aplikasi bodong tersebut. Tidak hanya itu, Ia bahkan telah menanamkan investasi atau top up lagi sebesar Rp50 juta, dengan harapan akan mendapatkan hadiah atau reward yang dipromokan sebesar Rp50 miliar.

Hal ini diketahui dari hasil pemeriksaan yang dilakukan polisi, pada Selasa (14/1) kemarin di Riau.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Jatim Kombes Gidion Arif Setyawan mengatakan, Hilal telah lama bergabung dengan MeMiles. Ia menyubut angka, 5 bulan berjalan bersama dengan investasi bodong tersebut. Hilal disebutnya cukup aktif melakukan top up di MeMiles, bahkan sudah mendapatkan reward yang cukup menggiurkan.

"Sudah 5 bulanan (bergabung di MeMiles). Sudah melakukan beberapa kali top up," ujarnya, Rabu (15/1).

Ia menambahkan, pejabat lembaga pemasyarakatan tersebut bahkan tercatat sebagai member VIP. Dengan status itu, ia pun dapat melakukan top up uang Rp50 juta agar bisa mendapatkan reward sebesar Rp50 miliar.

"Dia sudah pernah top up Rp50 juta dengan reward Rp50 miliar. Tapi dia belum dapat (rewardnya)," katanya.

MeMiles Mainkan Psikologi Massa

Dikonfirmasi soal reward berupa 4 mobil mewah yang viral di Medsos, Gidion memastikan jika hal itu tidak benar. Meski Hilal memang telah menerima reward mobil, tapi hanya berjumlah dua unit saja. "Tidak 4, tapi cuma dua saja," ujarnya.

Lalu mengapa sampai tersebut 4, Gidion mengatakan, jika hal tersebut bagian dari memainkan psikologi massa agar lebih tertarik untuk ikut MeMiles.

"Secara keseluruhan mobil saja yang di media sosial dia bilang dapat empat ternyata hanya dua. Jadi sistem ini lebih memainkan psikologi massa, ketika ini yang namanya mengendorse untuk menarik massa," lanjutnya.

Hal ini, tambahnya, tidak terjadi pada Hilal saja. Namun, nyaris semua member yang sudah mendapatkan atau yang sengaja diendorse untuk memberikan testimoni berlebihan, disengaja untuk menarik member lainnya.

"Yang dibayar juga ada. Intinya ini memainkan psikologi massa agar lebih menarik," tandasnya.

Sebelumnya, seorang pejabat Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dibawah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) diduga telah menerima 4 mobil mewah hasil dari investasi ilegal MeMiles PT Kam and Kam.

Pejabat tersebut diketahui viral di sebuah media sosial Youtube dengan akun Trenz Indonesia. Ia bahkan memberikan testimoni terkait dengan pemberian hadiah dari aplikasi MeMiles tersebut.

Dalam kasus ini polisi telah menangkap 4 orang tersangka investasi ilegal MeMiles PT Kam and Kam. Keempatnya yakni Kamal Tarachan atau Sanjay sebagai direktur, Suhanda sebagai manajer, Martini Luisa (ML) atau Dokter Eva sebagai motivator atau pencari member dan Prima Hendika (PH) sebagai ahli IT.

Sementara itu modus perusahaan ilegal itu bergerak di bidang jasa pemasangan iklan dengan menggunakan sistem penjualan langsung melalui jaringan keanggotaan.

Dari modus ini, para tersangka dapat merekrut setidaknya 240 ribu anggota. Untuk memperlancar perekrutan, setiap anggota yang berhasil merekrut anggota baru mendapatkan komisi atau bonus dari perusahaan.

Dari pengungkapan kasus ini, polisi menyita barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp122 miliar lebih, 18 unit mobil, 2 sepeda motor, dan beberapa barang berharga lainnya. [ded]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini