Petaka Kehamilan Novi Karena Obat Kedaluwarsa dari Puskesmas

Rabu, 21 Agustus 2019 21:03 Reporter : Ronald
Petaka Kehamilan Novi Karena Obat Kedaluwarsa dari Puskesmas Novi Sri Wahyuni. ©2019 Merdeka.com/Ahdania Kirana

Merdeka.com - Malang benar nasib Novi Sri Wahyuningsih. Niatnya menjaga kehamilan dengan baik malah berujung petaka.

Wanita 21 tahun itu tidak menyangka akan menelan vitamin yang ternyata telah kedaluwarsa. Sebab dia percaya, petugas Puskesmas Kamal Muara orang-orang profesional dan berpengalaman.

Peristiwa itu bermula saat Novi melakukan kontrol kedua kehamilannya pada Senin 13 Agustus lalu. Pada resep yang didapat, Novi dianjurkan mengonsumsi Vitamin B6.

Dia langsung mengonsumsi setibanya di rumah. Kondisi tubuhnya yang semula baik-baik saja jadi tak menentu. Novi merasa begitu mual dan perutnya menjadi kaku. Saat sakit melanda, dia tak sengaja melihat coretan garis biru di kemasan obat.

Saat diperhatikan, ternyata garis tersebut dicoret di tanggal kedaluwarsa, yaitu 04/2019 atau bulan April 2019. Artinya, obat itu sudah tidak bisa dikonsumsi sejak 4 bulan lalu.

Novi awalnya sempat bingung. Dia coba memastikan keraguannya pada seorang bidan di dekat rumah. Singkat cerita Novi kemudian mendapat kabar dari pihak apoteker Puskesmas dan meminta maaf. Puskesmas mengonfirmasi garis biru di kemasan menandakan vitamin itu seharusnya dimusnahkan.

"Katanya kalau ada garis biru itu berarti harus dimusnahkan. Anehnya, apotekernya nulis aturan minum di bawah garis biru, harusnya dia bisa lihat garis itu pas mau kasih obatnya ke saya," kata Novi saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (21/8).

Vitamin B6 kedua yang dia konsumsinya saat itu adalah pembelian kedua. Sebelumnya, dia juga sudah membeli sebanyak 36 butir dari Puskesmas yang sama. Ditambah dengan vitamin yang dikonsumsi hari itu, lebih kurang sudah meminum 38 butir vitamin B6 sudah dia konsumsi.

"Saya sudah pernah beli waktu itu, udah abis sekarang. Seingat saya di kemasan itu juga ada garis birunya, tapi saya kira bukan apa-apa waktu itu. Perut saya udah sakit waktu itu, jadi mau kontrol kehamilan lebih cepat. Tapi pas ke Puskesmas kata satpam jangan dulu karena belum jadwalnya, jadi saya balik lagi ke rumah," cerita dia.

Secepat mungkin Novi langsung mendapatkan perawatan. Perlahan kondisinya mulai membaik meski merasakan kesakitan di bagian perut.

©2019 Merdeka.com/Ahdania Kirana

Terpisah, Kepala Puskesmas Kecamatan Penjaringan Dr. Agus Ariyanto Haryoso meminta maaf dan mengakui petugas farmasi telah melakukan kelalaian.

"Saya mengucapkan minta maaf kepada keluarga pasien bahwa telah terjadi kesalahan pemberian obat yang ternyata kedaluwarsa. Harusnya sudah dilabel bahwa (obat) ini sebentar lagi kedaluwarsa, ini masih lama kedaluwarsanya. Terus dia kemudian mengecek lagi tanggalnya terus disampaikan kepada pasien," kata Agus.

Dia menduga petugasnya saat itu sedang tidak konsentrasi. Padahal sebelum obat diserahkan, pada kemasan vitamin sudah terdapat coretan spidol biru yang menandakan obat tersebut sudah kedaluwarsa.

"Tandanya sudah ada, namun sepertinya petugasnya sedang tidak konsentrasi pada hari itu," ujar Agus.

Novi Melapor ke Polisi

Setelah peristiwa itu, Novi dan suaminya semula ingin menyelesaikan secara kekeluargaan. Namun sebagai korban, keluarganya malah mendapat perlakuan tak enak oleh Puskesmas.

Novi malah diminta menandatangani sebuah surat yang menyatakan pihak Puskesmas tidak lagi bertanggung jawab setelah mereka membawa Novi ke rumah sakit.

Hal ini membuat suami novi, Randi (19) tidak terima. Akhirnya mereka melaporkan kasus ini ke pihak berwajib di Polsek Penjaringan. Beberapa saat kemudian, pihak Puskesmas meminta maaf dan menyatakan bertanggung jawab hingga proses persalinan Novi. Namun laporan yang sudah dibuat dipastikan tidak akan dicabut.

"Kata pengacara saya, kalau tindak pidana umum gak bisa dicabut, jadi bakal lanjut proses hukumnya," ungkap Novi.

Sepengetahuannya, Polsek Penjaringan sedang dilakukan penyidikan pada Kepala Puskesmas beserta Apoteker yang memberi Novi vitamin kedaluwarsa hari ini.

©2019 Merdeka.com/Ahdania Kirana

"Tadi kita dari sana, sampai sekarang kayaknya masih disidik kepala Puskesmas sama apotekernya," ucap Randi.

Saat dikonfirmasi soal pemeriksaan tersebut, pihak kepolisian membenarkan telah meminta keterangan apoteker Puskesmas Kelurahan Kamal Muara yang memberikan obat kedaluwarsa pada Novi. Pemeriksaan dilakukan di Polsek Penjaringan.

"Sampai saat ini kita sudah memeriksa terhadap beberapa orang saksi di antaranya suaminya, kemudian pihak dari rumah sakit maupun dari Puskesmas itu sendiri. Untuk korban sendiri sampai saat ini belum bersedia diambil keterangannya," kata Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Budhi Herdi Susianto saat dikonfirmasi, Rabu (21/8).

Dalam kasus ini, Polisi menduga adanya kelalaian yang dilakukan oleh petugas Puskesmas dalam memberikan obat kepada pasien.

"Obat itu diberikan pada korban ini adalah memang obat yang sudah kedaluwarsa dan akibat dari korban yang menggunakan atau konsumsi obat kedaluwarsa itu, membuat mual-mual yang dialami korban," katanya.

"Tapi kami masih menunggu hasil dari pemeriksaan resmi dari rumah sakit, apakah ada pengaruhnya dengan janin di kandungnya atau tidak," jelas Budhi.

Reporter Magang: Ahdania Kirana [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini