Pembalakan Liar dan Karhutla Ancam Rehabilitasi Orangutan di Ibu Kota Baru

Sabtu, 28 September 2019 21:32 Reporter : Saud Rosadi
Pembalakan Liar dan Karhutla Ancam Rehabilitasi Orangutan di Ibu Kota Baru Area Rehabilitasi Orangutan di Ibu Kota Baru Terancam. ©2019 HO/BOSF

Merdeka.com - Aktivitas pembalakan liar kembali terjadi di kawasan pusat rehabilitasi Orangutan Yayasan BOS di Samboja Lestari, Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu (25/9). Aksi pembalakan mengancam kelangsungan rehabilitasi orangutan di Samboja, salah satu kawasan calon ibu kota negara baru.

Aktivitas meresahkan itu ditemukan Rabu (25/9) lalu. Saat tim yayasan BOS berpatroli. Di lokasi, ditemukam sebidang lahan dari wilayah kerja di Samboja Lestari yang telah dibuka dengan sejumlah batang kayu yang tertumpuk rapi dan siap untuk diangkut. Lahan yang telah terbuka itu diperkirakan seluas setengah hektare atau 5.000 meter persegi.

Penemuan berawal dari suara gergaji mesin atau chainsaw, yang terdengar oleh tim keamanan Samboja Lestari saat berpatroli di pagi hari. Setelah pemeriksaan lebih jauh, tim menemukan 4 orang pria tengah memotong kayu yang telah ditebang untuk diangkut ke luar Samboja Lestari.

"Menyadari bahwa ini adalah tindakan pelanggaran wilayah yang serius, tim keamanan kami segera menghubungi kepolisian setempat untuk menindaklanjuti temuan. Dari upaya pendalaman kasus ditemukan informasi bahwa pelaku mengaku terkait dengan kelompok tani setempat. Mereka juga bertanggungjawab atas kebun nanas dan kelapa sawit di lahan Samboja Lestari yang telah ditemukan sebelumnya," kata CEO Yayasan BOS Jamartin Sihite dalam keterangan tertulis diterima merdeka.com, Sabtu (28/9).

©2019 HO/BOSF

Sehari sebelumnya, api melanda sebagian kecil lahan di Samboja Lestari. Lokasi kebakaran sekitar 2 kilometer dari tempat penemuan pembalak liar sehari sebelumnya.

"Api teridentifikasi menjelang tengah hari, dan tim teknisi lapangan kami di Samboja Lestari segera meluncur ke lokasi untuk memadamkan api. Setelah bekerja keras selama hampir empat jam, api berhasil padam sepenuhnya. Lahan seluas 0,59 hektare, bersama sekitar 210 batang pohon, yang telah kami tanam sejak awal tahun 2000-an lalu, habis terbakar," ujar Jamartin.

Jamartin menerangkan, musim kemarau tahun ini, memang berlangsung cukup panjang dan berisiko terhadap upaya rehabilitasi orangutan untuk bisa dilepasliarkan.

"Selama beberapa tahun terakhir, kami cukup kewalahan menghadapi kasus pembukaan lahan kami tanpa izin, oleh oknum-oknum yang mengaku masyarakat setempat. Sudah berbagai cara kami tempuh, namun situasi ini masih belum juga bisa dituntaskan," ungkap Jamartin.

"Hal itu diperparah dengan munculnya api di wilayah kerja kami. Kami berusaha memastikan agar kejadian tahun 2015 tidak terulang kembali. Di mana setidaknya 266 hektare dari lahan Samboja Lestari terbakar habis. Kami pada saat itu bekerja keras siang-malam selama 2 minggu untuk mencegah api menyebar," jelasnya.

Jamartin juga menerangkan, apabila ancaman ini tidak diantisipasi sebaik mungkin oleh pemerintah daerah dan aparat hukum, hal ini bisa mencederai konsep city forest yang digaungkan sebagai visi pemerintah dalam membangun ibu kota baru.

"Aksi spekulan tanah tampaknya tidak sejalan dengan ide dan visi pemerintah terhadap ibu kota baru ini, dan dalam prosesnya, mengganggu kegiatan sehari-hari pusat rehabilitasi orangutan," tandas Jamartin. [ray]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini