Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

PBNU minta masyarakat waspada radikalisme yang ancam keutuhan NKRI

PBNU minta masyarakat waspada radikalisme yang ancam keutuhan NKRI said aqil siroj di malaysia. ©2017 Merdeka.com/imam mubarok

Merdeka.com - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta masyarakat Indonesia terutama warga Nahdliyyin (NU) mewaspadai bahaya radikalisme karena dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Radikalisme mengancam keutuhan berbangsa dan negara. Maka, warga NU harus menjadi garda terdepan menjaga ukhuwah, persatuan, dan kesatuan dengan berbagai elemen bangsa," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, di Jakarta, Rabu (21/2).

Said Aqil pun mengingatkan agar nasionalisme dijaga dengan baik, sehingga tidak ada yang bisa mengganggu keutuhan bangsa dan negara.

"Sejak 1915, ketika negara-negara Islam masih dipimpin Dinasti Ottoman Turki, Kiai Hasyim Asy'ari sudah merekomendasikan jargon 'hubbul wathon minal iman' atau nasionalisme bagian dari iman. Sejak itu pula persoalan nasionalisme di Indonesia sudah tuntas," kata Said.

Menurut dia, tujuan NU didirikan itu untuk membangun persaudaraan sesama manusia, mempertahankan Islam yang benar, Islam ahlus sunnah wal jamaah, menjaga keutuhan NKRI.

Oleh karena itu, kata Said dalam forum dialog kebangsaan bertajuk 'Menjaga NU Menjaga NKRI' di Bawean, Gresik, Rabu, warga NU harus menjadi warga yang menghormati keberagaman, menjaga kerukunan sebangsa, menjaga kerukunan sesama Muslim dan sesama manusia.

ketua umum pbnu kh said aqil siradj

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj ©2018 Merdeka.com

"Kita harus tetap menjaga ukhuwah Islamiyah (internal umat), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan," katanya.

Dalam kesempatan sama, Koordinator Nasional Nusantara Mengaji, Jazilul Fawaid menambahkan, di tengah-tengah gencarnya arus globalisasi dan digitalisasi sekarang, berbagai ideologi begitu mudahnya diserap masyarakat.

"Tidak peduli apakah ideologi tersebut bertentangan dengan empat pilar Indonesia yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Di sinilah dituntut komitmen bersama terutama NU untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara. Perjuangan ulama dan santri NU jangan sampai dilupakan," papar Ketua Umum Ikatan Alumni PTIQ Jakarta ini.

Menurut dia, ketidaksigapan dan kelengahan yang akhir-akhir ini melanda generasi muda, diakui atau tidak berdampak pada munculnya radikalisme agama baru ke permukaan.

Karena itu, hal itu mesti segera diantisipasi dengan segera sebab bagaimanapun anak muda NU dan Ansor harus bergerak sebagai garda terdepan menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara.

"Ansor tidak boleh lengah dan gagap dengan teknologi," tuturnya.

Jazilul mengatakan, peran nyata di era digital saat ini antara lain melalui dakwah di internet dan media sosial. Dibutuhkan upaya lebih aktif lagi dari para generasi muda NU tak terkecuali kader-kader GP Ansor agar mengisi media sosial dengan konten-konten positif yang menggemakan Islam moderat dan rahmatan lil alamin selaras dengan prinsip-prinsip Aswaja an-Nahdliyah.

"Penguasaan medsos mampu menyentuh domain dan dunia selama ini belum begitu kita sentuh," kata Ketua Fraksi PKB MPR-RI ini.

Ia pun menggarisbawahi kontribusi besar NU mendirikan NKRI secara bahu membahu bersama elemen masyarakat yang lain. Karenanya dia mengingatkan fungsi dan peran sebagai penjaga NKRI ini harus tetap dipertahankan ke depan. (mdk/ded)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP