Menristekdikti Sebut Mahasiswa WNI Kerja Paksa di Taiwan Korban Penipuan Calo

Kamis, 3 Januari 2019 20:12 Reporter : Danny Adriadhi Utama
Menristekdikti Sebut Mahasiswa WNI Kerja Paksa di Taiwan Korban Penipuan Calo Menristekdikti M Nasir. ©Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir memastikan 300 mahasiswa Indonesia yang diduga kerja paksa di Taiwan ditipu calo yang menawari pendidikan di wilayah otonomi khusus China itu.

"Jadi sudah jelas mahasiswa itu lewat calo. Mereka berangkat sendiri kemudian ditawari masuk perguruan tinggi di sana, ternyata tidak bisa diterima. Untuk menghidupi sehari-hari ya kerja, itu sudah penipuan namanya," kata Mohamad Nasir saat meninjau produk kreasi mahasiswa di gedung Prof Sudarto, Undip, Semarang, Kamis (3/1).

Dia menyebut akan menindaklanjuti kasus 300 mahasiswa yang diduga ditipu selama tinggal di Taiwan. Untuk langkah selanjutnya akan berkoordinasi dengan Taipei Economic and Trade Office Indonesia (TETO) yang membawahi kamar dagang industri di Taiwan di Jakarta.

"Kami minta setingkat Dirjen Kelembagaan untuk segera berkoordinasi dengan TETO," jelasnya.

Ke depan, agar kejadian tidak terulang, ia mengimbau kepada mahasiswa Indonesia yang hendak menempuh pendidikan di luar negeri untuk koordinasi dengan Kemenristekdikti.

"Komunikasi harus dilakukan apakah tujuan pendidikan yang dituju sudah sesuai prosedur dalam hal ini proses pemberangkatannya," ungkapnya.

Dia menjelaskan pengiriman mahasiswa harus lewat jalur resmi dalam waktu Januari sampai Februari. Dalam hal ini Kemenristekdikti akan memberangkatkan 320 mahasiswa dengan tujuan menempuh pendidikan ke luar negeri.

Sedangkan bulan Maret sampai April 2019 nanti menyiapkan 1.000 mahasiswa yang akan dikirim ke delapan perguruan tinggi di luar negeri.Ia pun membuka opsi kerjasama pertukaran mahasiswa dengan Korea Selatan dan Jepang.

"Kami mengatur setahun kuliah di kampus dan laboratoriumnya. Setahun berikutnya ditempatkan di sektor industri. Biar ketika lulus dapat sertifikat kompetensi dan keahlian sekaligus. Untuk biayanya ditanggung dari sana. Kalau sudah lulus, tergantung pada mereka mau pulang atau bekerja di negara tempatnya kuliah. Itu sudah tanggungan yang bersangkutan," kata Mohamad Nasir. [bal]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini