KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Mengenal pil PCC yang buat 47 orang ngamuk seperti tak waras

Kamis, 14 September 2017 18:46 Reporter : Lia Harahap
Korban pil PCC. ©istimewa

Merdeka.com - Puluhan remaja di Kendari, Sulawesi Tenggara, mendadak mengalami hal aneh setelah mengonsumsi sebuah pil. Pil yang ditelan mendadak membuat tubuh mereka bereaksi tidak wajar.

Hasil penyelidikan sementara, kejadian yang dialami anak-anak itu karena mengonsumsi obat berlabel Paracetamol Cafein Carisoprodol (PCC). Informasi lain menyebut, mereka mengonsumsi PCC tersebut bersamaan pil jenis somadril dan tramadol.

Satu orang dinyatakan meninggal dunia akibat mengonsumsi obat-obatan tersebut. Sementara yang lainnya masih dalam perawatan di rumah sakit di Kendari.

Banyak kabar beredar pil yang dikonsumsi mengandung narkoba. Lantas kondisi apa yang sebenarnya dialami?

Ahli Kimia Badan Narkotika Nasional (BNN), Kombes Mufti Djusnir, memberikan penjelasannya.

"Pertama kita perlu tanamkan dulu dalam pikiran bahwa obat PCC itu mengandung Carisoprodol yang peredarannya sudah dilarang dan ditarik tahun 2008 oleh BPOM," katanya saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (14/9).

Sebab utama peredaran obat itu disetop karena kandungan zatnya yang sangat berbahaya.

"Efeknya bisa melemaskan otot dan menghambat rasa sakit antara saraf dan otak. Karena obat ini sifatnya menghilangkan rasa sakit (analgetik)."

"Nah zat aktif yang terkandung itu punya dampak buruk dan sangat tidak baik untuk tubuh karena bisa menyebabkan addict atau ketagihan. Makanya orang yang konsumsi pasti akan berulang dengan takaran yang ditingkatkan. Jadinya ingin terus menambah dosisnya," sambung Mufti.

Jika seseorang sudah sampai fase ketagihan, lanjut dia, maka kemungkinan terjadi overdosis sangat dekat. Artinya jika seseorang sudah mengalami overdosis, maka sudah dekat kematian.

"Karena dosis lazim dari carisoprodol dan dosis over itu sangat dekat. Sehingga jika sampai seseorang mengonsumsinya kelebihan akan sangat berisiko," kata Mufti.

Umumnya, ditambahkan Mufti, mereka yang mengonsumi PCC akan mengalami denyut nadi yang tidak teratur, badan panas dingin, suka berkeringat, batuk dan pusing, menjadi orang bingung sampai kejang. "Jika tetap berani mengonsumsi akan membahayakan nyawa orang tersebut," ujar dia.

Dia menekankan, untuk kasus yang dialami anak-anak di Kendari, sekali lagi harus benar-benar dipastikan apa yang sesungguhnya mereka konsumsi. Karena efek dari PCC dan Flaka, seperti banyak yang menyebutkan pula, sangat berbeda.

"Flaka itu masuk narkotika golongan satu. Efeknya, seseorang menjadi hyperaktif denyut jantung meningkat, tekanan darah meningkat, akhirnya paranoid kemudian sebabkan dia emosional, dia benturkan ke benda keras juga enggak berasa, karena itu jantungnya yang kena," jelas Mufti

Andai kata benar yang dikonsumsi itu adalah PCC, maka ada obat yang didapat tersebut ilegal karena peredarannya sudah ditarik. Seseorang mengedarkan obat yang dilarang, katanya, tentu dapat ditindak secara hukum.

Dia berharap kasus ini terang benderang. Sedangkan untuk anak-anak yang terlanjut pernah mengonsumsi obat PCC itu untuk sesegera mungkin direhabilitasi.

"Caranya dengan didetox, dikeluarkan racunnya," pungkasnya. [lia]

Topik berita Terkait:
  1. Pil PCC
  2. Kasus Narkoba
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.