Kesetiaan Ali bin Abi Thalib kepada Rasulullah hingga akhir hayat

Kamis, 16 Juni 2016 08:44 Reporter : Adriana Megawati
Kesetiaan Ali bin Abi Thalib kepada Rasulullah hingga akhir hayat Fenomena Halo Matahari di Venezuela. ©AFP PHOTO/JUAN BARRETO

Merdeka.com - Ali bin Abi Thalib merupakan menantu Rasulullah karena menikah dengan Fatimah. Dia mempunyai julukan Haidar yang berarti seekor singa. Ayah dan ibu Ali berasal dari Bani Hasyim, dia merupakan putra dari paman Rasulullah, Abu Thalib.

Nabi Muhammad tumbuh besar di pelukkan orang tua Ali. Berbagai penganiayaan dilakukan kaum musyrik Quraisy untuk memboikot Abu Thalib dan keluarganya, karena terlalu membela Nabi Muhammad. Hingga akhir hayatnya Abu Thalib tetap membela Muhammad untuk menyebarkan agama Islam. Namun Abu Thalib meninggal tetap menganut ajaran nenek moyangnya.

Setelah kematian Abu Thalib, istrinya yang bernama Fatimah binti Asad, menyambut Muhammad dengan tangan terbuka dan dianggap anak kandung sendiri. Fatimah pun menerima Islam dan ikut berhijrah ke Madinah. Ketika Fatimah wafat, Rasulullah mengirimkan baju miliknya untuk digunakan sebagai kain kafan yang membungkus dirinya.

Ali yang menjadi sebatang kara semenjak ditinggal ayah ibunya, akhirnya dirawat oleh Rasullulah. Semenjak itu hubungan antara Ali dengan Rasulullah semakin akrab.

Suatu hari, Ali melihat Rasulullah dan istrinya Khadijah sedang beribadah. Ali yang penasaran akan aktivitas yang dilakukan Rasulullah pun bertanya kepada Rasul, mengenai aktivitas yang dijalankannya. Setelah mendapat penjelasan, Ali menginginkan informasi yang lebih tentang Islam. Ali pun menerima ajaran agama Islam di saat umurnya masih terbilang kanak-kanak.

Menurut buku Best Stories of Ali bin Abi Thalib, karangan Sayyid Sulaiman Nadwi menjelaskan, bahwa setelah Ali masuk Islam dia menjalani kehidupan bersama Rasulullah selama tiga belas tahun. Saat itu Ali selalu mendampingi Nabi Muhammad untuk berdakwah.

Rasulullah mengetahui niat orang-orang musyrik yang akan melawannya, setelah Allah memberitahukannya. Rasulullah diperintahkan untuk berhijrah, kemudian memanggil Ali untuk diminta tidur di tempatnya. Saat itu usia Ali bin Abi Thalib sekitar 23 tahun. Rasulullah pergi ke rumah Abu Bakar dan bergerak dari Mekah.

Pada saat itu Ali tidak berfikir panjang dan langsung saja masuk ke ruang tidur Rasulullah. Para pemuda Quraisy akan melakukan sebuah tindakan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Para pemuda yang telah berkumpul di rumah Rasulullah, menemukan Ali tertidur di ranjang Nabi Muhammad. Mereka pun sadar jika penantiannya sepanjang malam sia-sia dan meninggalkan Ali.

Ali tinggal di Mekkah selama tiga hari dan menjalankan tugas yang dilimpahkan Rasulullah. Selanjutnya, Ali pun ikut hijrah ke Madinah dengan berjalan di malam hari dan bersembunyi di siang hari. Hal itu merupakan tekad dan kecintaan Ali bin Abi Thalib terhadap Rasulullah, dan rela berkorban untuk beliau. [hhw]

Baca juga:
Bencinya Abu Jahal kepada Rasulullah sampai melarang salat
Kisah Maryam dilahirkan hingga punya anak tanpa suami

Rasulullah rela potong jubah agar tak ganggu tidur kucing kesayangan

Sebelum Rasulullah wafat, malaikat Izrail izin bakal mencabut nyawa

Warna-warni persahabatan Nabi Idris dengan malaikat pencabut nyawa

Kesabaran Nabi Ayub ditimpa penyakit hingga ditinggal oleh istri

Cerita Nabi Luth diancam kaum LGBT saat mengajak tobat

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Ramadan 2016
  3. Kisah Nabi
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini