Kesedihan istri penyelam Syahrul Anto ingat pesan terakhir suami tentang takdir

"Sepertinya sudah firasat, tapi saya baru sadar sekarang," tutur Lian, istri Syahrul, usai pemakaman suaminya di Surabaya kepada Liputan6.com.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Kesedihan istri penyelam Syahrul Anto ingat pesan terakhir suami tentang takdir
Pencarian Lion Air JT 610. ©2018 Merdeka.com/Imam Buhori

Syahrul Anto, penyelam Basarnas meninggal dunia saat melakukan misi kemanusiaan mencari korban Lion Air JT610 jatuh di perairan Karawang. Lian Kurniawati (39) hanya bisa pasrah melepas kepergian suami tercinta.

Kemarin, Sabtu (3/11), saat ditemui usai pemakaman, Lian mengenang hari-hari terakhirnya bersama Syahrul. Bahkan saat suaminya memulai evakuasi korban di Tanjung Karawang, pasangan suami istri itu masih sempat beberapa kali berbincang lewat sambungan telepon.

Satu hal yang paling diingat Lian adalah pesan Syahrul sehari sebelum dikabarkan meninggal dunia. Mengingat itu, Lian seolah menyadari itu memang menjadi pesan terakhir suaminya.

"Sepertinya sudah firasat, tapi saya baru sadar sekarang," tutur Lian, usai pemakaman suaminya di Surabaya kepada Liputan6.com.

Pesan itu masuk aplikasi WhatsApp milik Lian. Pada Lian, Syachrul Anto menulis pesan tentang takdir.

Berikut isi pesan Syahrul pada istrinya:

"Pagi itu, satu demi satu penumpang mendekat ke pintu keberangkatan di Soekarno Hatta. Petugas check in menyambut mereka dengan senyum.

Sekitar 180 orang mendekati takdirnya. Ada yang tertinggal karena macet di jalan, ada yang pindah ke pesawat lebih awal karena ingin cepat sampai. Dan ada juga yang batal karena ada urusan lain yang tiba-tiba.

Tak ada yang tertukar. Allah menyeleksi dengan perhitungan yang tak pernah salah. Mereka ditakdirkan dalam suatu janjian berjemaah. Takdirnya seperti itu tanpa dibedakan usia, proses pembelian tiket, check in, terbang dan sampai akhir perjalanan hari ini, hanya sebuah proses untuk jalan pulang, menjumpai Allah yang tertulis di Lauhul Mahfuz.

Sebuah catatan yang tidak pernah kita lihat, tapi kita jumpai. Takdir sangatlah rapih tersusun, kehendak Allah tak terjangkau dengan akal manusia. Allahu Akbar.

Lalu, kapan giliran kita pergi? Hanya Allah yang tahu. Kesadaran iman kita berkata Bersiap setiap saat. Kapanpun dan dalam keadaan apapun. Mari kita benahi ketaqwaan kita untuk bekal pulang ke kampung abadi. Hanya itu jalan terbaik".

Reporter: Dian Kuniawan

Sumber: Liputan6.com

Halaman
Rekomendasi