Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kenapa kawasan Blank 75 Semeru sering makan korban?

Kenapa kawasan Blank 75 Semeru sering makan korban? Ilustrasi Pendakian gunung. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Bagi para pendaki, puncak kepuasan menaklukkan Gunung Semeru tentu ketika mampu mencapai keindahan Mahameru. Namun para pendaki harus melewati jalur mencemaskan terlebih dahulu, yakni jalur Blank 75 namanya, atau kerap dijuluki 'zona tengkorak'.

Jalur Blank 75 ini tak asing bagi para pendaki. Sebab kerap menjadi biang bagi tersesat dan celakanya sebagian besar pendakian. Oleh karena itu, para pendaki harus mengantisipasi sejumlah hal.

Ketua Mapala Universitas Indonesia (UI) Mustofa Khoirul menjelaskan, di jalur tersebut ada tebing yang cukup ekstrim. Ceruk tersebut terbentuk karena aktivitas vulkanis Gunung Semeru.

"Beberapa aktivitas vulkanis Semeru membuat titik itu sering longsor," kata Mustofa saat dihubungi Merdeka.com, Jakarta, Senin (23/5).

Mustofa menambahkan, jalur tersebut paling umum dilalui. Bisa dikatakan sebagai jalur utama pulang dan pergi menuju Puncak Mahameru harus melalui jalur tersebut.

Kebanyakan kecelakaan pendakian terjadi ketika turun dan kemudian tergelincir.

"Kebanyakan kurang hati-hati ketika turun. Itu kan pasir, biasanya pendaki meluncur saja ke bawah seperti main ski. Enggak sempat kekuatan untuk menghentikan, terpeleset di pasir itu," ungkapnya.

Di samping barat dekat Blank 75 ada jurang, Mustofa memperkirakan dalamnya mencapai 75 meter. Dia juga menjelaskan dulu di titik tersebut hanya ada satu jalur. Namun karena semakin banyak pendaki, maka di buka jalur sampingnya.

Menurutnya, di luar dua jalur yang saling berdampingan tersebut, sebenarnya ada jalan. Namun karena sepi jarang dilalui pendaki.

"Cuaca cukup bersahabat cuma mungkin terganggu dinginnya. Itu kan jalur lintasan angin, jadi enggak jarang musim kemarau suhunya minus 10, bahkan bisa lebih," tuturnya.

Dari jalur bercabang tersebut, kata Mustofa, jalur kiri sempit dan terjal. Namun yang cukup ekstrim sebelah kanan dari arah keberangkatan.

Mustofa menegaskan, harusnya setiap pendaki memahami resikonya. Sehingga harus dipersiapkan betul mulai dari mental, kemampuan survival, maupun alat-alat pendakian.

"Kalau dari bawah, jalur kanan agak ekstrim. Kedua jalur itu ujungnya nanti sama," tandasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, dua orang pendaki asal Cirebon, Supriyadi (26) dan Zirli Gita Ayu Safitri (16), dikabarkan hilang di puncak Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sejak Jumat (20/5) kemarin. Hingga Minggu (22/5), kedua pendaki belum juga ditemukan petugas dari tim Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Sementara itu, Kepala TNBTS, John Kennedie mengatakan, pencarian dua pendaki hilang di jalur pendakian Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, hingga kini terus dilanjutkan. Pencarian dipusatkan di kawasan jurang sedalam 75 meter (Blank 75).

"Titik pencarian dua pendaki yang hilang difokuskan di jurang Blank 75, Sumber Mani, dan Watugedhe atau Watu Besar," kata John saat dihubungi dari Lumajang, Minggu (22/5) kemarin.

Menurut John, kedua pendaki dikabarkan hilang di puncak Gunung Semeru pada ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut, sejak Jumat (20/5). John mengatakan, hasil pencarian hingga hari ini pukul 08.00 WIB, petugas menemukan empat jejak kaki di blok Watugedhe dengan jarak 100 meter dari Watugedhe ke arah Sumber Mani.

(mdk/sho)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP