Kedekatan Dita dengan Budi Satrio dan Anton sang peracik bom Gereja Surabaya

Rabu, 16 Mei 2018 22:04 Reporter : Fahmi Aziz
Dita dan keluarga. ©2018 Liputan6.com

Merdeka.com - "Lha ini kan sering ke rumah Dita (bomber gereja Surabaya) dulu," ujar Ebet (40) saat melihat foto terduga teroris yang ditembak mati Densos 88 di Sidoarjo, Budi Satrio.

Pernyataan Ebet diamini rekan di sebelahnya, saat mereka berada di sebuah warung kopi di dekat kediaman orang tua otak pengeboman tiga gereja Surabaya, Dita Oepriarto, di Tembok Dukuh, Surabaya, Rabu (16/5).

Ebet merupakan mantan pegawai pecetakan milik Dita. Percetakan itu didirikan Dita tahun 2000 di bekas rumahnya, Tembok Dukuh. Tapi tidak lama, setelah pindah ke Rungkut, usaha itu tutup.

Ebet menceritakan kedekatan antara Dita dengan terduga teroris Budi Satrio dan Anton Ferdiantono (47). Sejak Dita tinggal di Tembok Dukuh, mereka sudah dekat. Anton ternyata pernah menjadi pegawai percetakan milik Dita.

"Dia bekerja di sana lebih dahulu baru saya masuk. Tapi sekitar 3 bulanan Anton memutuskan keluar," ujarnya.

Setelah berhenti bekerja, Anton juga tetap berhubungan dan beberapa kali mengunjungi DT.

"Saya membenarkan keterangan kepolisian, bahwa mereka bertiga ini teman baik. Dekat sekali mereka itu," tambahnya.

Sedangkan Budi Satrio dikenal sebagai partner kerja Dita. Ebet yang juga tetangga Dita mengungkapkan, saat masih menjadi pegawai, dia sering melihat Budi datang berkunjung ke kediaman Dita.

"Kadang seminggu sekali, atau lebih Budi ini datang ke rumah Dita," tuturnya.

Ebet tidak tahu persis topik yang biasa dibicarakan Dita dan Budi. Dia mengira seputar masalah pekerjaan. Ebet mengaku tidak ada yang aneh selama 1,5 tahun dia bekerja pada Dita. Baik dari topik pembicaraannya maupun penampilan ketiganya.

"Jadi, menurut saya itu ketiganya saat itu, ikut jaringan seperti itu setelah Dita pindah," tambah dia.

Ada satu fakta lainnya yang diungkap Ebet. Budi Satrio dulu dipanggil dengan nama Rafael. Nama panggilan ini semenjak Budi masih duduk di bangku kuliah. Sehingga ketika ada keterangan kepolisian mengatakan salah seorang terduga teroris Budi Satrio adalah teman dekat Dita, dia merasa aneh dengan nama itu.

"Setahu saya Rafael panggilannya dulu," paparnya.

Diketahui, Budi dan Anton ditembak mati oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 di tempat yang berbeda. Budi Satrio (48), terduga pelaku teroris ditembak mati tim Detasemen Khusus 88 Antiteror di Perum Puri Maharani, Desa Masangan Wetan, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur. Budi selama ini dikenal warga memiliki keahlian meracik bahan kimia. Anton diduga berperan dalam pembuatan bahan baku bom. [noe]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini