LPT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI optimis target pertumbuhan kredit sebesar 9 sampai 11 persen pada tahun ini tercapai. Meski ketidakpastian perekonomian global masih tinggi akibat perang Rusia dan Ukraina serta masih belum selesainya pandemi Covid-19.
"Saya ulangi lagi, kita masih optimis untuk menumbuhkan kredit (2022) 9 sampai 11 persen," kata Direktur Utama BRI Sunarso dalam Konferensi Pers Laporan Kinerja Kuartal I-2022, Senin (25/4).
Sunarso menjelaskan, optimisme itu didasarkan atas sejumlah faktor. Pertama, terus berlanjutnya tren pemulihan perekonomian nasional serta menggeliatnya aktivitas pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang merupakan core business BRI.
"Kondisi UMKM yang mulai pulih saat ini mendorong penyaluran kredit BRI tumbuh 7,43 persen secara year on yoy menjadi sebesar Rp 1.075,93 triliun," ujarnya.
Selanjutnya, BRI juga menyediakan pencadangan yang cukup untuk mengantisipasi risiko kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) Coverage sebesar 276,0 persen. Angka ini meningkat dibandingkan dengan NPL Coverage pada akhir Maret 2021 sebesar 231,17 persen.
"Alasan BRI menyiapkan pencadangan yang sangat memadai tersebut dilakukan untuk mengantisipasi risiko ketidakpastian kondisi perekonomian kedepan, karena adanya perang Rusia – Ukraina, inflasi, serta potensi kenaikan suku bunga yang akan terus dilanjutkan oleh The Fed," jelasnya.
BRI juga berhasil mencatatkan kinerja positif dalam hal penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK). Hingga akhir Kuartal I 2022, DPK BRI Group tercatat tumbuh 7,39 persen.
Dana murah (CASA) menjadi pendorong utama pertumbuhan DPK BRI, dimana secara year on year meningkat sebesar 15,99 persen. Apabila dirinci, Giro tercatat tumbuh 30,86 persen dan Tabungan tumbuh 10,17 persen.
Secara umum, saat ini proporsi CASA BRI tercatat 63,63 persen, meningkat dibandingkan dengan CASA pada Kuartal I tahun lalu yakni sebesar 58,91 persen. Kemampuan BRI untuk meningkatkan proporsi dana murah tersebut berdampak positif bagi bisnis perseroan yang semakin efisien.
Faktor pendukung lainnya, BRI memiliki likuiditas yang memadai hingga kuartal I-2022. Hal ini tercermin dari LDR bank secara konsolidasian yang tercatat sebesar 86,96 persen, dengan CAR 24,61 persen.
"Itu yang membuat kita bisa optimis menyalurkan kredit (2022) 9 sampai 11 persen," tutupnya.