Pembangunan Pabrik Baterai Nissan Rp 16 Triliun di Jepang Dibatalkan Akibat Krisis Keuangan Memburuk

Nissan membatalkan proyek pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik (EV) yang bernilai US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp16 triliun di Kitakyushu, Jepang.

Arief Aszhari
Oleh Arief Aszhari - Reporter
Pembangunan Pabrik Baterai Nissan Rp 16 Triliun di Jepang Dibatalkan Akibat Krisis Keuangan Memburuk
Pabrik Nissan terpaksa ditutup sementara akibat kelangkaan microchip (CNET) (© 2025 Liputan6.com)

Nissan Motor Co. secara resmi membatalkan proyek pembangunan pabrik baterai untuk kendaraan listrik (EV) yang bernilai US$ 1,1 miliar (sekitar Rp 16 triliun) di Kitakyushu, Jepang. Keputusan ini merupakan bagian dari strategi restrukturisasi yang lebih besar untuk mengatasi kerugian finansial yang terus meningkat.

Sesuai dengan informasi yang disampaikan oleh ArenaEV, pabrik Nissan tersebut awalnya direncanakan untuk memproduksi baterai lithium iron phosphate (LFP) dengan kapasitas tahunan mencapai 5 gigawatt-hour. Fasilitas ini dijadwalkan untuk mulai beroperasi pada bulan Juli 2028 dan diharapkan dapat menciptakan sekitar 500 lapangan kerja baru.

Pemerintah Jepang sebelumnya telah berkomitmen untuk memberikan subsidi hingga 55,7 miliar yen atau sekitar Rp 5,3 triliun guna mendukung proyek tersebut. Namun, setelah melakukan evaluasi mendalam mengenai efisiensi investasi, Nissan memutuskan untuk membatalkan rencana pembangunan ini akibat tekanan keuangan yang signifikan.

Keputusan ini merupakan langkah strategis dalam upaya pemulihan kinerja perusahaan yang saat ini menghadapi berbagai tantangan. Dalam laporan keuangan terbaru, Nissan melaporkan kerugian bersih sebesar 670,9 miliar yen untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2025. Sebagai langkah responsif, perusahaan juga mengumumkan rencana pemangkasan sekitar 20.000 pekerjaan secara global, yang setara dengan 15 persen dari total tenaga kerjanya.

Produksi fasilitas mengalami penurunan

Nissan memiliki rencana untuk mengurangi jumlah pabrik produksinya dari 17 menjadi 10 fasilitas hingga tahun fiskal 2027.

CEO baru Nissan, Ivan Espinosa, menekankan bahwa reformasi struktural sangat penting untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat di industri otomotif, terutama dari produsen kendaraan listrik asal China seperti BYD dan Geely. "Kami perlu membangun kembali kekuatan kami agar dapat beralih ke arah yang lebih positif," ujar Espinosa.

Infografis Esemka dan Program Mobil Nasional. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Esemka dan Program Mobil Nasional. (Liputan6.com/Triyasni)
Rekomendasi