"Kami masih ada"

Pembajakan menyulitkan produksi lagu anak.

Aryo Putranto Saptohutomo
"Kami masih ada"
Kak Nunuk. ©istimewa

Merindukan lagu anak di Indonesia bagai mengharap bertemu oase di tengah gurun. Berbagai upaya dilakukan, tetapi belum membuahkan hasil.Dianggap tidak menguntungkan membuat para produser dan perusahaan rekaman enggan melirik pasar lagu anak. Penyebabnya cuma satu, pembajakan. Menggarap lagu populer saja mereka terengah-engah. Sebagian besar bahkan gulung tikar.Di tengah suasana itu, beberapa mantan penyanyi cilik menggalang kekuatan membuat pergerakan. Mereka tidak rela masa kecil generasi saat ini hampa dari lagu anak-anak. Namun hal itu tidak mudah. Berikut petikan wawancara merdeka.com dengan pencipta lagu, Nugroho Setiadi atau biasa disapa Kak Nunuk, Sabtu (22/10) lalu.

Lagu anak saat ini sulit sekali menembus perusahaan rekaman?

Kami ingin memperlihatkan kalau kami masih ada, masih concern.
Problemnya adalah kenapa lagu anak sekarang susah untuk masuk, bukan enggak ada. Pertama awal mulanya sekali adalah pembajakan. Itu yang membuat runtuh bukan hanya dunia musik, tapi film, semua habis. Hari ini mereka produksi, besok launching, lusa atau besok sudah ada di tempat penjualan bajakan. Sekarang beda sama dulu. Kalau dulu kaset digandakan kualitasnya turun. Sekarang kalau kita kasih master, digandakan, hasilnya master juga. Bahkan bisa utak-atik bisa lebih bagus. Itu yang jadi problem. Jadi produser enggak mau memproduksi.

Para produser khawatir tidak balik modal?Ya iyalah. Memproduksi biayanya sekian ratus juta. Begitu dia pasarkan, boro-boro kembali kan. Enggak balik modal. Akhirnya produsernya kolaps.Aku kontrak untuk enam album, baru empat album. Itu terakhir 2010 atau 2011. Habis itu sudah, jadi gantung. Produsernya bilang, 'Kita sorry enggak bisa bergerak.' Karena memang pembajakan itu yang membuat semuanya jadi terhenti. Akibatnya sekarang toko-toko CD yang bertahan cuma satu, yang di Jalan Sabang (Jakarta Pusat). Sisanya tutup. Sekarang memang era digital, tapi berapa banyak sih orang yang akses internet? Tetap bagaimanapun juga hard copy masih bisa laku.Sekarang masyarakat teriak, 'kemana nih penyanyi, kemana nih pemusik.' Please jangan kita. Aku masih bikin lagu anak. Pokoknya masih banyak yang berkarya di bidang lagu anak.Enggak vakum, tapi mereka mau masukin ke mana? Paling ke indie, paling ke Youtube dengan ala kadarnya. Kan mereka enggak semuanya mampu. Bikin lagu pakai gitar saja, nyanyi entah siapa, masukin. Tapi kualitasnya kan enggak sebaik kalau digarap oleh satu label yang memang mereka mengharapkan ada keuntungan. Jadi mereka berani menghasilkan lebih baik karena mereka punya uang. Sebenarnya kalau kita browsing di Internet lagu anak banyak lho. Ada teman saya orang Yogya. Dia bilang, 'Kasih saya ide mau lagu apa.' Besok atau lusa sudah muncul di websitenya. Dia bikin pakai organ biasa. Tinggal kasih saja idenya mau lagu apa, dia bikin. Dia masukin di Youtube. Gratis. Tapi tidak pakai video. Tapi niat menggarap lagu anak tetap ada.Kita harus masuk ke pemerintah, menyadarkan mereka menertibkan pembajakan ini. Menurut saya yang paling inti itu. Sebab kalau itu selesai, itu kurang, produser melihat ini saatnya bisa mendapat keuntungan, maka akan booming dengan lagu-lagu anak lagi.
Kalau memilih jalan melalui Internet ketimbang membuat kaset atau CD bagaimana?Kita bandingkan. Kalau lewat Youtube, satu kali hit paling royaltinya paling Rp 1 perak, paling mahal Rp 2 perak. Di bawah Rp 10, pokoknya di bawah Rp 5 perak.Sekarang kalau jualan CD. Zaman dulu, kalau bisa jual CD 500 ribu sampai 1 juta keping, itu pencipta lagu dikasih bonus mobil sama produser. Berarti bisa tahu dong berapa keuntungan si produser. Dari satu keping misalnya bisa untung sepuluh persen, kali 1 juta. Beda sekali. Jauh sekali.Kalau efektif didengar orang, ya kaya Lelaki Kardus, langsung seluruh Indonesia tersebar dan seluruh Indonesia tahu. Kalau efektif dalam penyebaran, sangat efektif. Kalau keuntungan enggak. Sedangkan pencipta lagu butuh makan. Kalau dia cuma ciptain lagu, dimasukin saja, terus dia makan apa? Kasihan juga kan. Pemusik juga butuh makan. Terus mengharapkan dari Youtube, enggak sebanding. Mereka enggak tahu harus ke mana supaya mereka bisa hidup.
Kak Nunuk masih bikin lagu buat anak-anak?Aku enggak punya label, aku di bawah label tertentu. Tapi aku di rumah ada studio dan tetap bikin musik. Ini mau bikin album baru juga. Produser aku bilang, 'Udah deh kita bikin, meskipun ke depannya enggak jelas gimana, kita bikin album baru'. Bulan depan kita mau bikin.


Kalau bikin lagu anak-anak yang abadi itu masih memungkinkan?Kalau dalam pengertian everlasting, saya enggak tahu apakah akan menjadi everlasting seperti eranya Pak Kasur, Bu Kasur. Tapi kan tahun 1990-an ada eranya Eno Lerian. Sampai sekarang yang namanya (lagu) 'Nyamuk Nakal', 'Dudidam', 'Marah-marahnya' Trio Kwek-Kwek kalau diputar ulang, orang-orang yang pada zaman itu akan senang. Tapi anak-anak sekarang mana kenal. Kenapa? Karena enggak pernah dinyanyikan di TK. Matinya lagu-lagu setelah itu karena berkurang dipromosikan di televisi.Saya pernah ke salah satu sekolah di Kota. Itu sekolah berkelas. Sebelum anak-anak SD-TK masuk, yang diputar tahu lagu apa? Lagu-lagu dangdut koplo. Yang diputar lagu-lagu seperti itu di sekolah. Itu kan parah. Kenapa dia enggak putar lagu anak-anak? Itu pakai speaker sekolah.
Kak Nunuk pernah merasakan masa-masa booming lagu anak dan mendapat materi?Iya lah. kan dapat BASF Award, dapat AMI Award. Merasakan. Materi iya dong, pasti. Dengan boomingnya lagu anak, banyak acara anak-anak off air. Job-nya masuk. Itu dampak tidak langsung dari lagu anak. Kemudian televisi. Acara lagu anak banyak, aku masuk di acara-acara televisi, berarti dampaknya ada ke situ. Ngalamin banget. Lumayan banget.
Kalau sekarang?Jauh sekali. Jauh banget. Sekarang aku di televisi dipakai bukan untuk acara anak-anak. Acara dewasa. Sekarang off air, acara launching apartemen, perumahan. Enggak ada acara anak-anak lagi.Kalau istilah saya mengatakan sekarang 'showroom'-nya enggak ada. Dengan showroom enggak ada, anak-anak mau lihat apa? Sedangkan showroom yang tumbuh film India, film Korea, film Turki.Ini juga yang membuat lagu anak dan acara anak tidak mendapatkan tempat di televisi. Acara anak-anak di televisi kan sangat jarang. Televisi tidak tertarik memproduksi in house acara anak-anak. Biaya produksi untuk bikin satu episode program anak-anak berkualitas misalnya butuh Rp 20 juta sampai Rp 25 juta satu episode. Acara baru, enggak tahu ratingnya bagus atau enggak, enggak tahu sponsornya ada apa enggak.Terus datang acara luar. Banyak film-film baru. Masuk, beli 500 episode misalnya. Satu episode harganya cuma Rp 2 juta. Begitu hari itu tayang, tiga hari kemudian ratingnya langsung naik. Dia enggak produksi, tinggal beli dengan harga relatif murah dibanding in-house production. Televisi itu ngejar rating dengan harapan sponsor masuk. Yang penting sponsor masuk, televisi bisa hidup, bisa bayar karyawan, bisa untung. Enggak salah.Saya enggak ngomong salah atau betul. Tapi jadinya dampaknya ya kaya gitu. Ruang buat anak-anak enggak ada. Engga ada yang dilihat di televisi. Masih ada beberapa, tapi enggak seperti dulu.
Lagu anak ini bisnis atau idealis?Lagu anak itu adalah lagu anak. Bukan bisnis, bukan idealisme. Lagu anak itu sebuah karya seni. Kalau saya bikin lukisan bisa enggak dibilang bisnis atau idealis? Tergantung. Kalau saya mau menjual, jadilah dia bisnis. Kalau saya mau ini menjadi dilihat sama orang-orang, ini menjadi idealis.Sama dengan anak-anak. Di situ belum timbul masalah. Baru akan timbul masalah pada saat seorang anak disuruh bernyanyi oleh orang tuanya untuk dibisniskan. Yang salah niat dari orang tuanya. Itu yang membedakan.Kemudian ada lagi. kalau itu dibisniskan, apakah itu menjadi sesuatu yang baik atau tidak baik. Dulu waktu saya masih sama Joshua, saya lihat dia kasihan karena seperti di-push untuk nyanyi. Tapi begitu saya kenal Joshua, sudah bergaul, saya ketemu orang tuanya, Joshua itu kalau enggak manggung, sakit. Dia jadi sedih. Karena itulah hidup dia. Nyanyi, manggung. Mengganggu sekolah? Enggak. Capek? Enggak tuh. Karena dia melakukannya dengan senang hati. Jadi saya bisa bilang Joshua saat itu tidak dikomersialisasikan oleh orang tuanya.Tapi ada orang lain melihat kesuksesan joshua, anaknya dibujuk-bujuk untuk jadi penyanyi. Apa yang terjadi? Setiap mau rekaman terjadi transaksi dengan orang tuanya. Dia enggak mau nyanyi kalau setelah nyanyi enggak dibelikan smartphone. Setelah nyanyi satu lagu, dan orang tuanya mampu, dijanjikan. Pada waktu selesai dan rekaman yang kedua, dia pakai dengan bangga itu smartphone.Dan untuk nyanyi lagu kedua, dia transaksi lagi. Orang tuanya bilang, 'Kan kamu waktu itu sudah dibelikan smartphone'. Dia mau Barbie satu set yang harganya jutaan. Orang tuanya bilang, 'Kamu nyanyi dulu'. Anaknya marah, HP-nya dibanting, yang baru dibeli dua minggu sebelumnya. Berantakan itu HP. Itu saya bisa mengatakan dia nyanyi karena dikomersialisasikan orang tuanya. Anaknya memanfaatkan itu untuk mendapatkan keuntungan pribadi, mendapatkan apa yang dia inginkan.Saya tanya, 'Kamu suka nyanyi enggak? Enggak'. 'Terus kenapa mau nyanyi? Biar dapat barang yang saya mau'. Itu umur enam tahun.Saya bilang sama orang tuanya, kalau anaknya nyanyi dengan imbalan, saya sebagai pendidik enggak setuju. Jadi tolong anak itu diberi pengertian dulu, kalau sudah tahu dan dari hati untuk nyanyi, datang ke sini lagi enggak apa-apa.

Dilema seperti itu dialami orang lain juga enggak sih?Pasti. Pasti mereka mengalami. Dan mungkin justru itu menjadi lahan subur untuk mendapatkan uang dari pencipta-pencipta lagu, mungkin. Mereka menjaring orang tua yang seperti itu. Kembali orang tua dan ke pencipta lagunya. Apakah dia punya jiwa yang mendidik.

Tanggapan artis cilik masa lalu dengan keadaan saat ini bagaimana?Karena mereka adalah pelaku lagu anak-anak, hampir semuanya sedih melihat anak-anak zaman sekarang dengerin lagu-lagu yang bukan untuk usianya. Sehingga mereka memutar kembali koleksi yang dia punya untuk anak-anak mereka. Mereka cari di Internet. Karena mereka merasakan dampak mendengarkan lagu anak-anak.

Rekomendasi