Melempar harap di pundak para jenderal

Perubahan PSSI tak bisa ditunda lagi. Rakyat sudah jemu dengan terpuruknya sepakbola Indonesia.

Aryo Putranto Saptohutomo
Melempar harap di pundak para jenderal
Jakmania demo di Istana Negara. ©2015 merdeka.com/arie basuki

"Namun kini zamannya telah berganti

Pemain seringnya malah berkelahi

Permainan sudah tidak fair lagi

Hanya jadi ajang bela diri"

22 Tahun silam kritik terhadap kondisi sepakbola Indonesia sudah disuarakan. Namun hingga kini, kemelut masih menggelayut.Tembang parodi 'Kop dan Headen' dikemas dalam album 'Jilid II' kelompok musik Padhyangan Project asal Bandung menyentil banyak pihak terkait sepakbola. Mereka menyorot bobroknya kompetisi di liga nasional. Judul aslinya adalah Close to Heaven dinyanyikan grup Color Me Badd.Menurut lirik mereka, saat itu pertandingan sepakbola sekaligus menjadi ajang unjuk ilmu kanuragan. Tak puas menyepak bola, para pemain lantas mengarahkan tendangan dan tinju ke sesamanya, atau wasit. Para suporter juga larut dalam perhelatan mempertontonkan kebengisan. Seolah hal itu menjadi kelaziman. Prestasi tim Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia di ajang dunia juga mulai meredup mulai 1990-an.Keresahan semakin menjadi lantaran hingga 2016 kondisi sepakbola Indonesia malah terseok-seok. Liga dibekukan karena pemerintah dan PSSI bersengketa. Tarik-menarik kepentingan antargolongan di dalam tubuh lembaga sepakbola itu malah semakin membikin mereka terbenam dalam pusaran konflik. Pemain dan klub pun gigit jari. Jeritan para pendukung cinta mati dengan bola kaki sudah jengkel dengan perseteruan para elit tak kunjung membuat sadar.Persoalan juga masih panjang. Dua orang pernah menjabat Ketua PSSI, Nurdin Halid dan La Nyalla Mahmud Mattalitti, terbelit perkara korupsi. Maka tak heran banyak pihak sudah jengah dengan gaya kepemimpinan saat ini.Menjelang pergantian kepemimpinan PSSI, persaingan semakin memanas. Tercatat ada tiga orang calon ketua berlatar militer. Mereka adalah Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko, dan Brigjen (Purn) Bernard Limbong. Mereka bakal bersaing dengan kandidat lain, yakni Kurniawan Dwi Yulianto, Djohar Arifin Husin, Eddy Rumpoko, Erwin Aksa, dan Toni Aprilani.Mengenai suksesi, Ketua Save Our Soccer, Akmal Marhali, angkat bicara. Menurut dia, kini sudah bukan saatnya lagi membedakan latar belakang calon ketua PSSI. Namun, dia menyatakan sejumlah sipil sempat bercokol di puncak kekuasaan lembaga itu tak kunjung memberikan manfaat."Yang ada kasus terus," kata Akmal kepada merdeka.com beberapa waktu lalu.Menurut Akmal, bukan saatnya PSSI seperti lepas dari mulut harimau lantas diterkam buaya. Jika tak mau sepakbola Indonesia terus terpuruk, dia mensyaratkan sederet kriteria buat pemimpin institusi itu. Yaitu mesti tegas, berwibawa, berani, adil, dan bersih. Jadi bukan soal sipil-militer. Hanya saja dia mengisyaratkan kerinduan akan sosok tentara. Sebab, dia merasa pertikaian seperti apapun bisa diredam.Hanya saja Akmal mengaku risih jika masih ada pengurus PSSI masa mendatang masih berhubungan erat dengan partai politik. Termasuk mereka yang terkait kekuatan bisnis tertentu. Dia merasa mereka tidak memberikan perubahan buat sepakbola Indonesia."Cuma bikin kegaduhan. Kalau mau urus bola, keluar (dari parpol). Pilih salah satu," ujar Akmal.Sebagai organisasi berdiri sejak 1930, atau saat negara ini masih bernama Hindia-Belanda, Akmal berharap ada regenerasi. Sebab jika tidak berpikir demikian, toh permasalahan membelit dunia 'bal-balan' Indonesia seakan tak mau minggat.Akmal wajar berharap ada sosok 'Ratu Adil' datang menyelamatkan PSSI dari sengkarut berkepanjangan. Sebab imbasnya juga mesti membikin pemain, wasit, dan masyarakat penikmat sepakbola harus sejahtera dan bangga. Bukannya terus menerus menelan kekecewaan.Pemerintah juga berharap reformasi PSSI benar-benar terjadi. Tak sekedar janji manis menggaet pemilih."Semoga prestasi lebih baik, dan tata kelola dan serta manajemen organisasi tambah baik. Ada sinergitas lebih baik," kata Deputi IV Bidang Olah Raga Prestasi Kementerian Pemuda dan Olahraga, Gatot Sulistiantoro Dewa Broto.

Rekomendasi