Telepon seluler Kosman berdering. Di ujung bibir telepon, seorang petugas Kepolisian menyuruhnya bergegas mendatangi tempat kejadian perkara. Kebetulan tugas itu ialah menjemput mayat korban kecelakaan. Kosman bergegas. Bersama dengan Sherman, teman satu timnya, dia segera meluncur lokasi kejadian.
Begitu kira-kira pekerjaan Kosman dan Sherman saban hari. Dua lelaki itu merupakan sopir pengangkut jenazah dari Palang Hitam Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta. Keduanya sudah mahfum betul jika di telepon petugas Kepolisian. Jika bukan korban pembunuhan, kecelakaan pasti orang bunuh diri. Begitu Kosman dan Sherman menduga tugasnya.
Kehidupan dua orang itu memang tak lepas dari Mayat. "Dari mulai jenazah yang setengah hancur karena ditabrak kereta, atau bahkan jenazah yang sudah sepuluh hari membusuk dan telah dipenuhi dengan belatung," ujar Sherman saat berbincang dengan merdeka.com di pelataran parkir Kantor Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Rabu pekan kemarin.
Buat mengangkat mayat, Sherman dan timnya punya cara agar jasad korban tidak hancur. Misal, jika jasad tersebut merupakan korban gantung diri. Agar kondisi jenazah tetap dalam kondisi ditemukan, Sherman dan timnya terlebih dulu memasukkan jasad ke dalam kantong mayat. Setelah itu barulah tali yang digunakan untuk bunuh diri dipotong.
Bukan tanpa sebab mereka menjaga mayat agar dalam kondisi utuh. Meski mayat tersebut sudah dua minggu meninggal, tugas mereka ialah membawanya ke RSCM dalam kondisi yang sama ketika ditemukan. Tujuannya ialah untuk mempermudah identifikasi penyebab kematian saat dokter melakukan autopsi pada tubuh korban.
"Jenazah itu kan harus dibawa hati-hati. Enggak boleh rusak, karena itu demi kepentingan visum dari pihak RSCM," ujar Sherman.
Kosman dan Sherman memang bukan dua orang yang bekerja di Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta sebagai petugas penjemput mayat. Saban bertugas, biasanya dia berangkat bersama satu tim. Isinya terdiri dari lima orang. Seorang sopir dan empat orang yang bertugas mengangkat mayat.
Dalam melakukan tugasnya, para penjemput mayat dari Palang Hitam ini menunggu instruksi dari Kepolisian. Setelah Polisi melakukan olah Tempat Kejadian Perkara, barulah mereka boleh mengangkat jasad koban untuk kemudian dibawa ke RSCM.
Jika nantinya pihak RSCM menyatakan mayat tersebut tidak dikenali dan diakui pihak keluarga, barulah para penjemput mayat ini kembali melakukan tugasnya. Biasanya mereka menunggu instruksi dari Dinas Pemakaman untuk mengambil jenazah tersebut kemudian di kuburkan di Tempat Pemakaman Umum milik Pemerintah Provinsi DKI.
Ada sejumlah TPU yang biasanya dijadikan tujuan penguburan jenazah-jenazah tanpa identitas. Biasanya Pemprov DKI membawa jasad mayat buat kuburkan di TPU Semper (Manggar), Tanah Kusir, Kampung Kandang, dan di TPU Srengseng Sawah. Namun sejak tahun 2014 hingga kini, lokasi yang ditetapkan sebagai pusara Mister X adalah TPU Tegal Alur, di wilayah Jakarta Barat.