Piero: Kita Tak Mungkin Bersaing dengan Nike dan Adidas

Jumat, 15 November 2019 08:58 Reporter : Dedi Rahmadi, Angga Yudha Pratomo
Piero: Kita Tak Mungkin Bersaing dengan Nike dan Adidas Sepatu Piero. www.pieroindonesia.com

Merdeka.com - "Piero diambil dari katanya urip," ucap Adrian Riyadi menjawab pertanyaan kami tentang tulisan 'OREIP' dalam stan Piero ketika ikut gelaran Urban Sneaker Society di SCBD Jakarta Selatan pada Jumat, 8 November 2019 lalu.

Kata Piero didapatkan sang ayah sekaligus pemilik perusahaan, Harijanto. Arti sederhana 'Urip' dalam bahasa adalah hidup. Bila ada istilah nama adalah doa, harapan itu yang masih terlihat selama 20 tahun ini.

Sejak tahun 1999, pabrikan sepatu ini muncul di tanah air. Beragam model sudah dikeluarkan untuk menarik perhatian. Sempat berada merasakan masa puncak pada awal 2000-an, banyak upaya sedang dilakukan Piero untuk mempertahankan eksistensi.

Dua tahun terakhir merupakan masa berat bagi Piero dalam menghadapi tantangan industri. Baru memasuki tahun 2019, banyak perbaikan dilakukan. Termasuk melakukan beragam inovasi. "Di internal banyak sekali yang kita perbaiki," kata dia.

Menjabat sebagai direktur kreatif Piero, Adrian merasa perlu membangkitkan kembali gairah di internal perusahaan. Sudah 10 tahun terakhir Jebolan Academy of Art University San Francisco, Amerika Serikat, diminta sang ayah untuk membangkitkan perusahaan sepatu asli buatan Indonesia ini di tengah banyak cobaan.

Berikut petikan wawancara jurnalis merdeka.com Angga Yudha Pratomo dan Dedi Rahmadi dengan Adrian Riyadi:

1 dari 2 halaman

Bisnis Sepatu Piero

Seperti apa kondisi ketika Anda diminta untuk ikut membesarkan Piero?

Sebenarnya kalau di Piero cukup profesional. Semua kerja sama tim. Jadi bukan hanya saya saja mendorong piero sampai sebesar ini.

Kalau untuk 20 tahun terakhir ada naik turun. Mungkin di dua tahun terakhir. Kita tahu bisnis retail mengalami goyang. kita masih stabil sih, tetap dengan inovasi, menjaga brand kita yang penting menjaga culture kita di dalam itu juga penting. Bukan hanya yang dilihat orang dari luar saja sebenarnya.

Bagaimana kondisi industri sepatu di Indonesia selama ini?

Perubahannya saya lihat dua tahun terakhir itu industri lokal lagi sangat berkembang, apalagi yang independent. Makanya di event ini bisa kita lihat banyak yang baru muncul. kita senang melihat daya tariknya itu ada.

Piero mau ikut terlibat, meskipun kita pabrikan massal tapi kita harus ikutin tren tersebut. Dipadukan dengan kualitas kita, bukannya sombong, tapi kualitasnya di atas home industri.

Bagaimana Piero bersaing dengan banyaknya merek sepatu asing terkenal di pasar Indonesia?

Kalau saya lihatnya bukan bersaing, karena seperti Nike dan Adidas, itu role model kita. Kita enggak mungkin menyaingi mereka, itu terlalu naif.

Tapi kita belajar banyak dari cara mereka melakukan marketing, menjaga kualitas, menerapkan teknologi mereka seperti apa, itu kita banyak belajar dari sana.

Kalau untuk indonesia, segmennya tentu beda. Sepatu Piero itu tentu lebih murah dari brand luar itu. Jadi segmennya lebih di bawah.

Nike maupun Adidas itu juga ada yang murah, tapi biasanya mereka dibanding dengan Piero, untuk di kelas yang murah itu, kualitasnya lebih baik kita. Jadi segmennya beda, ada sendiri. Marketnya big enough untuk semua brand sepatu.

Ada anggapan Piero itu satu pabrik dengan Nike di Indonesia?

Satu pabrikan sih enggak, tapi background kita juga pabrik sepatu yang pernah memproduksi untuk beberapa buyer internasional. Jadi makanya kita bisa belajar banyak dari mereka.

Kalau pun ada orang yang mempersepsikan kita dengan sebutan Nike dari Indonesia, saya merasa sebagai kebanggaan.

Memang ketika membantu produksi untuk buyer internasional itu, memakai pabrik yang sama. Dari situ kita bisa belajar bikin sepatu yang baik.

Piero itu harganya Rp 350 ribu sampai Rp 600 ribuan, Kualitasnya di harga itu sama. Mungkin bedanya hanya bahan dan teknologi. Karena kita belajar sebagai pabrik yang untuk ekspor maka kualitas menjadi sangat penting. Sampai sekarang itu kita menjadi kuncian penting.

Sekarang ini kami sudah memproduksi sehari sekitar 1.000-1.300 pasang sehari.

Menurut Anda apa alasan Piero juga dikenalnya sebagai sepatu bagi anak sekolah?

Sebenarnya kalau dari branding, bukan untuk sepatu sekolah. Tapi kan di indonesia maupun di negara mana saja, itu 'session back to school' pasar yang besar.

Sepatu hitam se-dunia dinikmati. Kebetulan di Indonesia sepatu sekolah itu harus hitam kan, terjadilah image 'sepatu sekolah'. Tapi di awal Piero berdiri, sebenarnya banyak sekali yang warna-warni.

Memang kalau omongin tahun kejayaan, itu di tahun 2000-an.

Anda diminta bantu Piero tahun 2010, bagaimana tren sepatu di Indonesia selama satu dekade terakhir?

Kita membacanya itu tergantung dari tim di brand, tergantung membawa style sepatu ke mana. Karena banyak sekali publik suka sepatu simple, ada juga yang suka sepatu norak yang colourfull. Ada orang yang suka sepatu empuk, keras dan berbagai macam.

Kita sebagai footwear brand, menurut saya, harus mengisi di tiap segmen tersebut. Kalau ada yang suka running kita harus punya, kalau ada yang suka sepatu boots kita juga harus punya, paling enggak mirip.

Untuk di Piero, yang paling laku itu model kita yang namanya Jogger. Selama 6-7 tahun terakhir paling legendaris, karena demand-nya enggak pernah turun.

Kapan masa terpuruk yang dirasakan perusahaan Anda?

Masa terpuruknya, belum lama juga. Di tahun 2017-2018 itu sangat berat.

Itu sebenarnya menurut saya, kita harus intropeksi. Tidak bisa hanya melihat pasar sepi. Di internal banyak sekali yang kita perbaiki. Harus kita akui, mungkin ada beberapa dari kita sendiri merasa berada di zona nyaman. Mungkin jadi inovasinya kurang, product priority-nya kurang.

Bukan hanya produk, terkadang marketingnya enggak kena, menjadi malas. Mungkin sudah mulai menganggap remeh. Untungnya kita masih bisa survive dan stabil.

Untuk sekarang sudah merangkak naik, itu bisa dibilang melihat strateginya secara dari keseluruhan ya. Mulai dari internal, pasar dan berbagai macam. Karena keseluruhan bisa dibilang.

Yang menyentuh keluar itu, dari marketing, produk dan distribusi. Tetapi, kalo di internal bagaimana kita membuat strategi ke depan, melakukan efisiensi, bagaimana kita melakukan quality control yang lebih baik sehingga produk reject-nya tidak terlalu banyak.

2 dari 2 halaman

Manfaatkan Digital

Sejauh ini berapa pertumbuhan perusahaan tiap tahunnya?

Tahun 2018 itu sangat perjuangan bagi kita. Kita hampir flat. Tapi kita lihat banyak pemain di sepatu turun. Jadi saya lihat sebenarnya kita bersyukur, kita flat. Tapi itu bukan sesuatu yang memuaskan juga bagi kita.

Untuk pertumbuhan kita tahun ini diperkirakan mencapai 12-15 persen. Sedangkan di tahun depan, kita prediksi mencapai 20 persen.

Sebenarnya itu kembali tergantung strateginya. Misalnya, sekarang digital sedang booming, di mana kita bisa ikut tampil di digital. Sehingga kita dan para retailer sepatu Piero juga kita dorong untuk jualan di online.

Jadi kita coba di sana. Jadi pedagang sepatu piero kita dorong ke sana, sehingga itu bisa sebagai salah satu faktor pendorong untuk pertumbuhan kita.

Bagaimana pemanfaatan digital yang dilakukan Piero?

Itu sekarang menjadi paling penting, paling cost effective juga. Mungkin dari Instagram, Piero saja bisa cukup mencapai 40 persen market kita. Itu sangat penting, terutama kerapian konten, integritas, karena kita berbicara dengan konsumen di media sosial.

Piero itu kita banyak jual di store offline. Tapi kita memang sedang menggalakkan mereka untuk juga buka store online. Apalagi penyebaran sepatu kita itu seluruh indonesia, tentu paling banyak market di daerah Jawa dan Sumatera. [ang]

Baca juga:
Tangan Dingin Lulusan SD Bangun Kerajaan Warteg
Eiger Kenalkan Produk Baru 'Eiger Moto' Bagi Penggemar Adventure
Eiger: Produk Kami Lebih Mahal Tapi Punya Nilai Lebih

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini