Wawancara Asvi Warman Adam 1

Perlu memeriksa Rumah Cendana untuk mencari Supersemar

Jumat, 11 Maret 2016 06:11 Reporter : Arbi Sumandoyo
Perlu memeriksa Rumah Cendana untuk mencari Supersemar buku bung karno. ©2012 Merdeka.com/dwi narwoko

Merdeka.com - Hari ini peristiwa bersejarah itu terjadi. Tepat 5O tahun sudah, Surat Perintah Sebelas Maret itu dibuat. Namun hingga kini keberadaan naskah aslinya masih menjadi misteri. Sementara, tiga versi naskah dipegang oleh Arsip Nasional Republik Indonesia dipastikan palsu. Saksi kunci pun sudah banyak dimintai keterangannya mengenai surat dianggap pengalihan kekuasaan ini. Namun tak kunjung ditemukan.

Sayang semua saksi mata mengetahui peristiwa bersejarah ini dipastikan sudah menghadap sang khalik. Lalu bagaimana cara menelusuri keberadaan surat membuat Presiden Soekarno itu harus turun dari tampuk kekuasaan kemudian digantikan Soeharto? Menurut sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, ada baiknya jika Peraturan Pemerintah memperkuat Undang-Undang Kearsipan tahun 2009 untuk mencari surat itu terbit, perlu juga memeriksa kediaman Soeharto di Jalan Cendana.

"Saya berharap dengan adanya DPA itu, nah Arsip Nasional itu melacaknya antara lain di rumah Pak Soeharto. Di rumah Pak Soeharto, misalnya di Jalan Cendana itu. Siapa tahu masih tersimpan di situ," ujar Asvi melalui sambungan seluler semalam.

Berikut petikan wawancara Asvi Warman Adam kepada Arbi Sumandoyo mengenai misteri Surat Perintah Sebelas Maret.

Sampai saat ini Supersemar masih jadi misteri, apakah masih ada lagi saksi hidup lain yang tahu proses pembuatan surat itu?

Saya kira sudah pada meninggal semua. Tetapi kan surat itu kan, mudah-mudahan masih bisa ditemukan, karena sekarang ini sudah ada Undang-Undang Kearsipan yang baru. Itu Undang-Undang tahun 2009, itu kan sudah ada ketentuan mengenai DPA (Daftar Pencarian Arsip). Nah masalahnya, harusnya Supersemar harus masuk dalam daftar pencarian arsip. Sekarang permasalahannya yang belum keluar itu peraturan pemerintahnya, yang mengatur ketentuan itu. Kalau sudah ada peraturan pemerintah, sudah ada anggarannya dan lain-lain bisa dicari lagi.

Ada kesaksian dari Ali Ebram soal versi berbeda peristiwa Supersemar?

Saya kira beliau sudah meninggal, tetapi kan masalahnya apa. Dari dia kan cuma bedanya hanya siapa yang mengetiknya, ada yang mengetiknya, satu mengatakan Sabur. Kemudian Ali Ebram mengatakan dia yang mengetiknya. Itu tidak jadi soal siapa yang mengetiknya, Sabur atau dia, tetapi surat itu memang diketik.

Artinya tiga surat yang dipegang Arsip Nasional itu dipastikan bukan yang asli?

Bukan yang autentik.

Dari sepengetahuan Anda, seperti apa versi surat yang asli, apakah menggunakan kop surat Kepresidenan?

Ya itu yang dilampirkan dalam buku Jenderal Yusuf itu, itu kan kop suratnya berlambang Garuda. Jadi bukan kop presiden, kalau presiden kan lambangnya bintang, padi dan kapas.

Karena dulu kop surat Istana memang belum ada lambang padi dan kapasnya?

Jadi, itu juga, maksud saya kalau surat itu memang dibuat di Bogor, kop suratnya tersedia enggak di Istana Bogor. Karena kan, kegiatan sehari-hari presiden kan di Jakarta. Pertanyaannya, apakah benar surat dan kop itu tersedia atau tidak di Istana Bogor.

ANRI sudah berupaya mengejar beberapa saksi kunci Supersemar, termasuk pengakuan Jenderal Yusuf?

Ia kan apa namanya, dalam wawancara Jenderal Yusuf dengan Atmaji, penulis buku biografinya, Yusuf itu mengatakan dia mempunyai tiga macam Supersemar. Kemudian Supersemar draf pertama, kemudian Supersemar draf telah di corat-coret dan yang ketiga adalah yang diketik. Tetapi semuanya dalam bentuk tembusan. Nah kemudian, Arsip Nasional itu kan kepalanya Muklis Faini, dia sudah mencoba menanyakan kepada istri Jenderal Yusuf, tetapi kan tidak ada, tidak berhasil begitu. Dan Evi Saelan juga sudah meninggal beberapa waktu lalu.

Ada pengakuan dari pendiri Ponpes Tebu Ireng, Supersemar dipegang oleh seseorang ?

Iya itu kan, kalo enggak salah dari Mas Agung katanya juga disimpan di sebuah Bank di Singapura tetapi tidak bisa diverifikasi pernyataan itu.

Karena memang saksi-saksinya tidak ada?

Karena memang semua yang ngomong itu sudah meninggal. Yang ngomong itu adalah Pamannya Gus Dur, bapaknya Syaifullah Yusuf dan Mas Agungnya juga sudah meninggal, begitu. Saya juga tidak tahu kemudian harus kepada Mas Agung yang aslinya begitu, dan dipegang oleh Mas Agung. Dari mana dia dapat.

Apakah ada kemungkinan naskah asli Supersemar dipegang oleh Pak Harto?

Ya makanya harus diperiksa, jadi saya kira dengan adanya Daftar Pencarian Arsip (DPA) itu. Saya berharap dengan adanya DPA itu, nah Arsip Nasional itu melacaknya antara lain di rumah Pak Soeharto. Di rumah Pak Soeharto, misalnya di Jalan Cendana itu. Siapa tahu masih tersimpan di situ.

Sejauh ini belum ada yang memeriksa rumah Pak Harto?

Belum ada barang kali, belum berani juga. Mungkin kalau sudah ada dasar resmi, masuk dalam Daftar Pencarian Arsip (DPA), sudah ada Peraturan Pemerintahnya, mereka baru berani melakukan itu.

Karena sudah ada dasarnya?

Karena sudah ada dasar hukumnya. Karena nanti kalau tidak bisa dipersoalkan. Kenapa melakukan pemeriksaan. Tetapi ini kan ada Undang-Undangnya, ada Peraturan Pemerintahan.

Masih mungkin Supersemar ditemukan?

Ya masih mungkin, masih bisa dicari. Katakan karena misalnya proklamasi, itu kan baru ditemukan beberapa waktu kemudian. Bahkan teks berupa drafnya itu baru ditemukan belakangan. Jadi artinya, ada naskah-naskah baru ditemukan dan diserahkan ke Arsip Nasional belakangan.

Banyak versi mengatakan isi tiga Supersemar adalah sama, tetapi dari pernyataan Ali Ebram ada yang beda?

Tidak, pada intinya itu semua sama hanya soal kotanya, Jakarta atau Bogor. Atau satu halaman atau dua halaman. Kemudian yang ketiga adalah poinnya itu tiga atau empat, tetapi poin ketiga dan keempatnya itu terpisah atau selesai, atau enggak. Jadi pada intinya versi yang beredar itu intinya sama, ditafsirkan oleh Suharto sesuai kemauan dia. Ini untuk membubarkan PKI, menangkap Menteri dan lain-lain, kan begitu.

Karena sebelumnya ada rapat juga dengan Moerdiono soal pembubaran PKI?

Memang sudah direncanakan pembubaran itu, mereka kan belum punya dasar hukumnya, Sudharmono itu kan sudah membuat konsepnya. Ada Supersemar baru itu ada dasar hukumnya.

Artinya Supersemar hanya legalitas untuk mengambil alih kekuasaan dan membubarkan PKI?

Membubarkan PKI itu adalah bagian dari mengambil alih kekuasaan. Karena bukan hanya PKI di bubarkan, karena PKI di bubarkan tanggal 12 Maret. Dan kemudian dibubarkan juga Tjakrabirawa, Pasukan Pengawal Presiden. Itu kan 3000 orang dibubarkan. Kemudian 15 orang Menteri di tangkap. Itu juga dalam rangka, mengurangi kekuasaan Soekarno. Pers juga dikuasai, semuanya harus seizin Pusat Penerangan Angkatan Darat. Jadi itu semuanya rangkaian untuk mengambil alih kekuasaan.

Mungkin Supersemar tidak disimpan di Jakarta?

Mungkin saja begitu. Karena itu kalau dianggap penting, itu disimpan oleh Soeharto karena itu sangat berharga. Karena dengan surat itu dia memperoleh kekuasaan.

Kalau dilihat dari tahun, mulai dari ukuran dan ketebalan kertas, Supersemar diketik satu atau dua lembar?

Kalau dari kesaksian beberapa orang yang membaca, itu dua lembar. Dan menjadi satu lembar itu karena diketik ulang. Itu digandakan oleh Sudharmono, karena digandakan itu kemudian tandatangan Soekarno jadi berbeda karena baru dibuat kemudian, pada ketikan ulang itu. Karena tidak mungkin minta tanda tangan lagi.

Seandainya Supersemar ditemukan, artinya maksud dari Supersemar selesai?

Dengan atau tanpa ditemukan yang asli, kan bisa diberi penjelasan seperti itu. Kepada siswa atau mahasiswa.

Artinya Supersemar sudah selesai?

Tentunya lebih baik aslinya juga ditemukan, karena yang sekarang inikan ada beberapa versi. Kemudian juga untuk, bukan hanya penulisan sejarah, tetapi juga untuk sejarah Indonesia itu perlu ada yang aslinya. Tetapi seandainya belum juga ditemukan, penjelasan soal pengambilalihan kekuasaan tadi bisa disampaikan dalam pengajaran. Itu kan soal makna dari Supersemar itu. Persoalannya kan ada tiga, kalau kita bicara asli atau tidak itu kan soal teksnya. Tetapi kemudian yang kedua juga bisa dilihat soal prosesnya dengan penekanan. Bukan diserahkan secara sukarela. Kemudian tadi penafsiran itu timbul.

Dengan begini artinya ini menjadi pekerjaan rumah bersama-sama?

Iya akan lebih baik jika masih bisa dicari, diupayakan.

Apakah perlu juga meminta keterangan anak-anak Pak Harto?

Untuk apa begitu. Kecuali mereka memang ikut di proses pembuatan itu. Misal istri Soekarno di Bogor, Hartini. Dia kan ada di istana Bogor saat itu. Tetapi masalahnya dia kan juga sudah meninggal. Jadi lebih kepada yang terlibat dalam proses pembuatan surat itu. Atau pun orang yang pernah membaca pertama seperti, Sudharmono, tetapi dia juga sudah meninggal.

Versi sebenarnya, Supersemar itu atas inisiasi Soekarno atau paksaan?

Jadi saya ingin memilih istilah yang lebih tepat itu, bukan dipaksa tetapi ada penekanan.

Karena sebelumya sudah ada tanda-tanda itu?

Iya, jadi mungkin istilahnya bukan memaksa tetapi menekan. Ya beda-beda tipis lah, tetapi menurut saya di situ subtansinya. Artinya dengan penodongan senjata. Tetapi kalau menekan kan itu dengan demonstrasi, dengan bermacam-macam tindakan lain seperti menekan.

Karena memang ada proses yang alot ketika tiga jenderal mendatangi Istana?

Ya itu tidak dengan sukarela diberikan, tetapi tadi dengan penekanan. Dengan adanya tekanan terhadap Soekarno. [arb]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini