Ribut-ribut Mobil Nasional 2

Garis tangan guru telik sandi

Rabu, 11 Februari 2015 07:01 Reporter : Arbi Sumandoyo
Garis tangan guru telik sandi AM Hendropriyono. merdeka.com

Merdeka.com - Medio September 2000, Hendropriyono mendatangi kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai PDI Perjuangan (PDIP) di Jalan Pecenongan 40, Jakarta Pusat. Kedatangan Hendropriyono bukan tanpa sebab ke markas partai berlambang banteng moncong putih itu. Dia melamar menjadi anggota PDIP. Padahal sebelumnya, Hendro juga mendaftar menjadi anggota DPC PDIP Jakarta Timur.

Alasan Hendro terjun ke dunia politik sebetulnya biasa, dari beberapa partai saat itu dia meyakini PDIP salah satu yang mengedepankan kesatuan Tentara Nasional Indonesia. Kedekatannya dengan partai berlambang banteng moncong putih itu mulai terlihat sebelumnya, yaitu saat Kongres Luar Biasa di Surabaya, Jawa Timur. Saat menyatakan ingin bergabung dengan PDIP, Hendropriyono sedang memasuki masa pensiun dari dinas militer. Dua bulan sebelum dia pensiun pada 10 November 2000.

Sebulan setelah pensiun, Hendropriyono mendirikan Hendropriyono Law Office di Jalan Prof Dr Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, diresmikan oleh Megawati Soekarnoputri. Saat itu Megawati masih menjabat sebagai Wakil Presiden mendampingi Presiden Abdurrahman Wahid. Peresmian oleh Megawati itu ditegaskan dalam laman situs Hendropriyono Corporation Indonesia.

Kedekatan antara Hendro dengan Megawati kemudian berlanjut. Setelah Gus Dur lengser dan digantikan Megawati, Hendropriyono ditunjuk sebagai Kepala badan Intelejen Negara (BIN) menggantikan Letnan Jenderal Purnawirawan Arie J Kumaat. Hendro menduduki posisi setingkat menteri di Kabinet Gotong Royong bentukan Presiden Megawati dan Wakil Presiden Hamzah Haz.

Dalam laman situs pribadi Hendropriyono, alumni Akademi Militer Nasional Magelang 1967 itu memang memiliki pengalaman 'segudang' dalam dunia Intelijen. Hendropriyono mengawali karir dengan pangkat Letnan Dua Infantri Di Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha). Dia kemudian menjadi Komandan Detasemen Tempur Para-Komando.

Berikutnya pada 1985-1987, Hendro menjadi asisten intelijen Kodam V Jaya. Empat tahun setelahnya, Hendropriyono menjabat sebagai Direktur D Badan Intelijen Strategis ABRI, kemudian pindah dengan jabatan yang sama sebagai Direktur A Badan Intelijen Strategis ABRI hingga 1994.

Isu paling santer ketika dia menjadi tentara ialah saat Komandan Korem 043 Garuda Hitam Lampung. Hendropriyono disebut bertanggung jawab atas tragedi Talangsari. Sebelum menjadi Kepala BIN, Hendro juga pernah menduduki Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan pada Kabinet Pembangunan VII era Orde Baru dan Kabinet Reformasi Pembangunan. Puncak karirnya di pemerintahan sebagai Kepala BIN hingga masa jabatan Megawati berakhir pada 2004.

Pada 7 Mei 2014, Hendropriyono dikukuhkan sebagai guru besar di bidang ilmu intelijen dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN). Ia menjadi satu-satunya dan pertama di dunia yang menjadi Guru Besar Intelijen. Pemberian gelar itu juga tercatat masuk dalam Museum Rekor Indonesia. Pengukuhan ini sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 2576f/A4.3/KP/2014.

Namun nama Hendropriyono kembali diperbincangkan saat pemilihan presiden tahun lalu. Hendro menjadi relawan pendukung pasangan Joko Widodo- Jusuf Kalla (Jokowi-JK). Kedekatannya dengan PDIP menjadi bahan pergunjingan. Dia dituding mencari jalan untuk mendapatkan posisi. Namun saat datang ke Istana Negara awal bulan lalu Hendropriyono menampik jika pertemuan selama dua jam dengan Jokowi untuk meminta posisi di pemerintahan.

"Banyak sekarang ini kaum muda yang potensial dan lebih bagus daripada saya. Jadi sudah waktunya orang-orang muda ini ikut dalam barisannya Pak Jokowi, pak presiden supaya sukses memimpin negeri kita. Begitu, jangan pakai saya yang tua," kata Hendropriyono.

Pertemuan dengan Jokowi itu dipaparkan Hendro sebagai pertemuan biasa dan hanya bicara soal kesehatan. Kepada Hendro, Jokowi pun berpesan untuk selalu jaga kesehatan. "Enggak permintaan (khusus) cuman nasihat dari pak presiden supaya jaga kesehatan karena saya bilang umur saya sudah 70 tahun jadi ya sakit-sakit kan biasa," ujarnya.

Kini nama Hendropriyono kembali mencuat, sejak perusahaannya melakukan penandatangan kerja sama dengan pabrikan otomotif asal Malaysia namanya kembali dipergunjingkan. Hendropriyono dituding memanfaatkan jalan lapang mengembangkan bisnisnya. [mtf]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini