Deti Kurnia Sang Srikandi Penjaga Hutan Perbatasan

Jumat, 8 Mei 2020 09:05 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
Deti Kurnia Sang Srikandi Penjaga Hutan Perbatasan Deti Kurnia Srikandi Penjaga Hutan Perbatasan. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Dari atas perahu bermesin motor, Deti Kurnia dan rekannya mengarungi sungai yang membelah Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum. Sorot matanya tajam. Mengamati pepohonan rimbun yang dilewatinya. Ditemani kicauan burung dan deru mesin mesin motor serta derasnya air sungai. Patroli semacam ini rutin dilakukan.

Deti Kurnia menjauh dari keramaian dan hingar bingar kota. Dia memilih bercengkrama dengan alam. Hutan, sungai, dan seisinya. Hari-harinya dihabiskan di bawah rimbunnya pohon-pohon besar dan derasnya air sungai.

Hutan adalah dunianya. Kecintaannya pada hutan memantapkan langkah kakinya untuk menjaga kelestariannya. Hidupnya diabdikan untuk Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum. Letaknya di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.

"Kabupaten paling ujung, berbatasan dengan Malaysia. Makanya sering dari kami itu menyebut Taman Nasional di ujung batas negeri," ujar Deti saat berbincang dengan merdeka.com, pekan lalu.

Deti, satu dari sekian banyak perempuan yang menyukai kegiatan di alam terbuka. Tapi tidak sekadar slogan. Dia membuktikan dengan kesungguhan hati. Sudah dua tahun terakhir Deti bertugas sebagai penjaga hutan perbatasan Indonesia dan Malaysia.

Pada 2018, Deti memulainya dengan menjadi pengendali ekosistem hutan di Resort Nanga Potan yang merupakan bagian dari Taman Nasional Betung Kerihun. Tugas dan tanggung jawabnya tidak main-main. Deti bersama timnya harus memberi perlindungan dan pengamanan kawasan taman nasional dan ekosistem di dalamnya.

"Juga dalam hal pemerataan atau identifikasi berbagai jenis keanekaragaman yang ada di dalam kawasan," tambah Deti.

Tidak pernah terbayang dalam benak Deti, bakal mengemban tugas di pedalaman Kalimantan. Dengan hutan yang masih asri dan pohonnya lebat. Ada yang menyebut Hutan Kalimantan sebagai salah satu paru-paru dunia.

"Waktu itu pertama kali bergabung di sini tidak terlalu punya gambaran banyak ya. Seperti apa sih hutan Kalimantan. Soalnya kan tahunya hutan di Jawa. Luas banget hutannya ya ternyata," kata Deti.

deti kurnia srikandi penjaga hutan perbatasan

Kondisi hutan Kalimantan membuat Deti tak berhenti berdecak kagum. Tak terbesit rasa bosan ketika berada di dalamnya. Justru kecintaannya yang semakin mendalam. "Menurut saya itu luar biasa."

Karena kemampuan dan jiwa kepemimpinan yang ada dalam dirinya, tahun ini Deti dipercaya menjadi Kepala Resor Nanga Potan. Tanggung jawabnya pun semakin besar.

Sejumlah masalah kerap menyapanya. Utamanya soal luas hutan yang mencapai lebih dari 1 juta hektare. Tidak mungkin dijaga hanya oleh segelintir orang. Tapi Deti dan timnya bukan orang-orang yang mudah menyerah pada persoalan. Dia merawatnya dengan maksimal meski dalam keterbatasan.

"Kawasan hutan di Kalimantan itu kan salah satu yang masih terjaga. Karena luasnya itu sulit buat kita untuk bekerja secara luas. Karena jumlah sumber daya manusianya tidak banyak, sumber daya untuk kegiatan pendukung juga kadang sulit. Jadi kita harus pintar-pintar harus banyak belajar," kata Deti.

Baca Selanjutnya: Hutan Milik Bersama...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini