Terkenal Ulet dan Bermartabat, Filosofi Hidup Orang Madura Ini Patut Diteladani
Merdeka.com - Karakteristik masyarakat dibentuk oleh kondisi geografis dan topografis daerah tempat tinggalnya. Hal ini terjadi pula dengan orang Madura. Dikutip dari laman resmi Disbudpar Provinsi Jawa Timur (24/2/2021), kondisi geografis dan topografis Pulau Madura menghasilkan budaya masyarakat hidraulis (air).
Secara umum, kondisi lahan di Pulau Madura tandus. Maka, masyarakat lebih banyak menggantungkan hidup pada laut dengan pola kehidupan yang penuh tantangan.
Karakteristik Orang Madura

©2021 Merdeka.com/disbudpar.jatimprov.go.id
Pola kehidupan bahari itu akhirnya melahirkan perilaku sosial orang Madura yang pemberani, menjunjung tinggi martabat dan harga diri, berjiwa keras, dan ulet menjalani hidup.
Selain menggantungkan hidup pada laut, tak sedikit pula orang Madura yang mencoba peruntungan pertanian dengan memanfaatkan iklim yang cenderung panas. Hasil pertaniannya antara lain tembakau, ubi jalar, dan padi. Sebelum ada Jembatan Suramadu, masyarakat Pulau Garam sangat bergantung kepada hasil pertanian dan hasil laut.
Disegani
Keuletan mempertahankan hidup dan menjaga martabat membuat orang Madura cukup disegani dalam pergaulan dengan masyarakat suku bangsa lain. Islam yang diidentikkan dengan masyarakat Madura telah merasuk kuat menjadi inti kebudayaan yang memuat ajaran moral dan etika.
Di sisi lain, kadang kala harga diri berlebihan yang dipegang teguh orang Madura bisa mengundang konflik. Dengan demikian, ada kalanya tindakan kekerasan juga dilekatkan dengan pribadi orang Madura.
Pola Pemukiman

©2021 Merdeka.com/disbudpar.jatimprov.go.id
Masyarakat Madura membangun pemukiman dengan pola khusus untuk membentuk karakter masyarakat yang madani dan menjunjung tinggi kekerabatan antara satu dengan yang lain.
Pola pemukiman tradisional Madura (Tanean Lanjhang) adalah kumpulan rumah yang terdiri dari keluarga-keluarga yang memiliki hubungan kekerabatan. Letak pemukiman ini berdekatan dengan lahan garapan dan mata air atau sungai.
Pemukiman dan lahan garapan biasanya hanya dibatasi tanaman hidup atau gundukan tanah yang disebut galengan/tabun. Masing-masing kelompok Tanean Lanjhang terpisah oleh lahan garapan.
Dalam satu kelompok Tanean Lanjhang biasanya terdiri dari dua hingga sepuluh rumah, atau dihuni keluarga batih yang terdiri dari orang tua, anak, cucu, cicit dan seterusnya. Hubungan keluarga kandung merupakan ciri khas dari kelompok ini.
(mdk/rka)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya