Janggelan, Minuman Andalan untuk Buka Puasa Asal Magetan
Merdeka.com - Janggelan atau cincau hitam menjadi salah satu minuman populer saat Ramadan. Pada umumnya, janggelan dinikmati dengan santan dan gula aren. Untuk menambah kesegarannya sering pula ditambahkan dengan es.
Terbayang sudah kesegaran es janggelan sebagai menu berbuka puasa. Nah, Kabupaten Magetan, Jawa Timur terkenal dengan sentra industri janggelannya. Janggelan buatan Magetan tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat setempat. Tetapi juga dikirim ke berbagai kota lain.
Menengok Industri Janggelan

©2020 Merdeka.com/Youtube SAKTI TV Official
Salah satu pembuat janggelan yang terkenal di Kabupaten Magetan adalah Sumarni. Ia merupakan warga Dusun Jetak, Desa Tanjung Sari, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Janggelan yang diproduksinya rutin dikirim ke Ponorogo, Madiun, Ngawi, Solo, bahkan Yogyakarta.
Setiap kali bulan Ramadan datang, permintaan janggelan meningkat drastis. Jumlah pekerja di pabrik janggelan pun bisa naik dua kali lipat dibanding hari-hari biasa.
Proses Pembuatan Janggelan

©2020 Merdeka.com/Youtube SAKTI TV Official
Dalam proses pembuatannya, janggelan yang masih cair dimasak menggunakan tungku api. Cairan berwarna hitam dan masih panas yang mengucur dari keran yang terhubung dengan panci besar itu dituang ke dalam ember-ember.
Ember yang sudah penuh dengan cairan berwarna hitam kemudian dipindahkan ke ruangan lain untuk didinginkan.
Butuh Waktu Lama

©2020 Merdeka.com/Youtube SAKTI TV Official
Pembuatan janggelan membutuhkan waktu yang relatif lama. Pertama, memotong bahan baku utama yaitu daun janggelan yang telah dikeringkan. Potongan-potongan daun janggelan tersebut selanjutnya dimasak di tungku bejana besar yang bisa menampung sekitar 100 kilogram daun janggelan.
Tahap pertama memasak janggelan membutuhkan waktu sekitar lima jam. Selanjutnya, air rebusan janggelan disaring dan ditiriskan. Air rebusan tersebut dimasak lagi di dalam bejana yang berukuran lebih kecil, namun dengan suhu yang lebih tinggi.
Di tungku kedua ini, waktu yang digunakan untuk memasak janggelan sekitar setengah jam. Setelah masak, cairan janggelan akan dipindahkan ke tungku ketiga. Di tungku inilah, cairan janggelan diaduk dengan campuran tepung terigu dan dimasak dengan suhu sampai 100 derajat celcius.
Harga Janggelan

©2020 Merdeka.com/Youtube SAKTI TV Official
Apabila janggelan sudah tercampur rata dengan campuran tepung terigu, selanjutnya cairan janggelan akan dicetak ke dalam ember besar dan kecil.
Ember besar mampu memuat 23 kilogram cairan janggelan. Sementara ember kecil berukuran 10 kilogram.
Satu ember besar janggelan dibanderol dengan harga Rp40.000. Sementara untuk janggelan dengan ember kecil dibanderol seharga Rp20.000.
Produksi Janggelan di Bulan Puasa

©2020 Merdeka.com/Youtube SAKTI TV Official
Permintaan janggelan pada bulan puasa meningkat drastis. Jika pada hari biasa, industri janggelan di Magetan mengolah 50 kilogram bahan baku.
Pada bulan puasa, bahan baku yang diolah per harinya mencapai 300 kilogram. Dari bahan baku tersebut, dihasilkan sedikitnya 400 ember janggelan setiap hari.
Usaha produksi janggelan dimulai Sumarni sejak tahun 2001 lalu. Dahulu, desa tempatnya tinggal merupakan tempat budidaya tanaman janggelan.
Warga desa menanam janggelan sebagai tanaman sela ketika musim kemarau. Tetapi budidaya itu tidak lagi berjalan karena pada suatu masa harga daun janggelan kering relatif murah di pasaran.
(mdk/rka)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya