4 Keunikan Jaranan Butho Milenial di Banyuwangi, Selalu Ada yang Kesurupan
Merdeka.com - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur merilis kalender wisata Jawa Timur edisi Maret 2020. Melalui akun instagramnya @disbudparjatimprov, ada 18 kegiatan di berbagai daerah di Jawa Timur yang akan dihelat pada Maret ini. Salah satu kabupaten yang mempunyai agenda di Bulan Maret adalah Banyuwangi.
Di Banyuwangi akan digelar festival kebudayaan bernama Jaranan Butho Milenial. Sebagai informasi, gelaran Jaranan Butho Milenial akan dilaksanakan pada 8 Maret 2020.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut 4 keunikan Jaranan Butho Milenial:
Para Penari adalah Generasi Milenial

2020 Merdeka.com/Instagram @kidul_channel
Berbeda dengan festival-festival sebelumnya yang didominasi oleh orang dewasa. Dalam gelaran Jaranan Butho Milenial ini para penari yang akan menampilkan tarian kuda lumping merupakan anak-anak muda Banyuwangi. Hal tersebut sebagai wujud regenerasi sekaligus menunjukkan bahwa anak-anak muda senantiasa peduli dengan kesenian tradisi daerahnya.
Gelaran budaya yang digelar pada Minggu, 8 Maret 2020 nanti akan dilaksanakan di lapangan Karetan, Purwoharjo, Banyuwangi. Acara akan dimulai pukul 14.30 WIB. Selain warga Banyuwangi, acara ini juga bisa dihadiri masyarakat umum. Untuk menyaksikan Jaranan Butho Milenial, para pengunjung tidak dikenai biaya alias gratis.
Cerita di Balik Tari Jaranan Butho

2020 Merdeka.com/Instagram @kidul_channel
Tari Jaranan Butho yang ada di Banyuwangi sekilas tampak mirip dengan kesenian Kuda Lumping, Jaran Kepang atau Tari Jathilan. Kesenian tersebut sama-sama menggunakan properti kuda buatan. Bedanya, dalam Tari Jaranan Butho properti yang digunakan tidak menyerupai bentuk kuda yang nyata, melainkan kuda berwajah raksasa atau butho.
Hal ini juga diikuti dengan tata rias para penarinya. Para penari menggunakan tata rias wajah yang seram. Layaknya seorang raksasa atau butho, muka para penari diberi warna merah dengan mata yang besar. Mereka juga diberi taring yang tajam, rambutnya panjang dan gimbal.
Properti kuda buatan berwajah raksasa dibuat dari kulit lembu yang dipahat. Dalam pementasannya, Tari Jaranan Butho diiringi alunan musik seperti kendang, dua bonang, dua gong besar, kempul terompet, kecer (seperti penutup cangkir) yang terbuat dari bahan tembaga dan seperangkat gamelan.
Berbeda Setiap Tahun

2020 Merdeka.com/Instagram @banyuwangi_hitss
Gelaran budaya Tari Jaranan Butho memiliki variasi yang berbeda setiap tahunnya. Variasi itu di antaranya terjadi pada musik pengiring dan tata rias para penari. Tidak ketinggalan, kostum yang dikenakan penari juga menunjukkan inovasi yang pesat setiap tahunnya.
Puncak Tari Jaranan Butho

2020 Merdeka.com/Instagram @hapizz_kupret
Puncak dari pementasan Tari Jaranan Butho adalah kesurupan. Aksi magis kesurupan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang menyaksikan. Ketika seorang penari kesurupan, Ia akan mengejar orang lain yang menggodanya dengan bunyi siulan.
Penari yang kesurupan juga bisa bertingkah agresif seperti memakan pecahan kaca, ayam hidup, api, dan lain sebagainya. Penari yang kesurupan itu memang tidak dalam keadaan sadar.
Bahkan tidak hanya penari, pengunjung yang menonton pun bisa ikut kesurupan. Peristiwa magis kesurupan ini merupakan salah satu keunikan dari gelaran budaya Tari Jaranan Butho di Banyuwangi.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kejadian kesurupan di gelaran budaya ini. Pasalnya, ada pawang yang bertanggung jawab untuk menyadarkan para penari atau penonton dari peristiwa kesurupan.
(mdk/rka)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya