Sejarah Rumah Pesik Kotagede, Bangunan Eksotis Berwarna Hijau yang Tersembunyi di Kawasan Padat Penduduk

Bangunan mewah ini memiliki arsitektur perpaduan Jawa-Eropa dan dibangun pada abad ke-19.

Shani Rasyid
Oleh Shani Rasyid - Reporter
Sejarah Rumah Pesik Kotagede, Bangunan Eksotis Berwarna Hijau yang Tersembunyi di Kawasan Padat Penduduk
Sejarah Rumah Pesik Kotagede, Bangunan Eksotis Berwarna Hijau yang Tersembunyi di Kawasan Padat Penduduk (Merdeka.com)

Kawasan Kotagede di Kota Yogyakarta memiliki banyak peninggalan rumah kuno yang punya arsitektur unik. Salah satunya adalah Rumah Pesik.

Rumah ini berwarna hijau menyala. Tersembunyi di kawasan padat penduduk di Kotagede, cat warna hijau yang mewarnai rumah itu seakan tidak pernah pudar.

Padukan Arsitektur Jawa Eropa

Rumah Pesik hanya berjarak 350 meter dari Pasar Legi Kotagede. Bangunan mewah ini memiliki arsitektur perpaduan Jawa-Eropa. Mengutip Brilio.net pada 11 November 2022, pemilik rumah ini dulunya bernama Rudy Pesik, seorang pengusaha sukses Indonesia di bidang logistik. Kemudian oleh pemiliknya Rumah Pesik dijadikan sebagai galeri seni dan penginapan.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Bangunan Rumah Pesik memiliki tembok bercat hijau terang dengan ornamen khas Jawa dan sentuhan budaya Barat di sepanjang sisinya. Di tembok depan terdapat plakat berisi informasi bahwa tokoh dunia pernah menginap di sana.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Tokoh dunia yang dimaksud adalah seorang mantan presiden dari Polandia tahun 1990-1995 dan peraih Nobel Perdamaian tahun 1993, Lech Walesa. Ia menginap di rumah itu pada tahun 2010 lalu.

Pemilik Pertama

Pemilik Pertama Rumah Persik adalah R. Ng. Bahoewinangun. Bangunan itu pertama kali didirikan pada tahun 1840 oleh Bahoewinangun yang merupakan seorang Penewu, Abdi Dalem Kasultanan Yogyakarta.

Di samping seorang abdi dalem, Bahoewinangun juga merupakan seorang saudagar yang punya bisnis di bidang kain mori. Ia juga merupakan saudagar emas kaya raya pada masa itu. 

Setelah Bahoewinangun meninggal dunia, rumah itu menjadi warisan anak cicitnya. Karena berbagai macam perbedaan ekonomi keluarga, mereka tidak mampu mempertahankan warisan pendahulunya.

Mereka bersepakat untuk menjual rumah itu agar tidak menjadi permasalahan di kemudian hari.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Orang pertama yang pernah membeli rumah itu adalah orang berkebangsaan Eropa. Tapi kemudian rumah itu dijual lagi karena istrinya meninggal karena kecelakaan. Hingga akhirnya Rudi Pesik yang membeli rumah itu.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Sempat ditutup selama berpuluh-puluh tahun, kini wisatawan dapat menikmati arsitektur bangunan Rumah Pesik. Wisatawan akan disuguhkan dengan sejumlah patung-patung besar yang menjadi koleksi rumah.

Di bagian halaman tengah rumah itu terdapat sebuah taman yang di tengahnya terdapat sebuah air mancur.

Tak jauh dari sana terdapat sebuah kereta kuno yang digunakan pada masa pemerintahan Pakubuwono X. Pada dinding-dinding lorong terdapat patung-patung arca yang disematkan pada jarak tertentu.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Sebagai pemilik rumah, Rudy Pesik juga menyimpan beberapa benda koleksi antiknya di rumah itu di antaranya koleksi patung, keris, wayang, meja, kursi kuno panjang, lemari, dan perabot lainnya.

Untuk memberi kesan mewah, digantungkan lampu-lampu kristal besar yang ditempatkan di atas langit-langit ruangan berada bersama barang-barang antik lainnya.

Menuju lantai dua, pengunjung akan meniti tiap-tiap anak tangga berukuran besar dengan desain yang cantik.

Setelah puas menjelajahi bangunan itu, pengunjung dapat beristirahat dan bersantai di sebuah kafe bernama Kafe Kamu.

Letaknya tepat berada di samping taman dekat pintu masuk. Berbagai jenis kopi, hidangan, dan camilan tersedia di sana.

Sama seperti bangunan rumah, kafe tersebut juga memiliki desain yang serupa dengan tempat duduk dan mejanya yang memiliki detail ukuran serupa.

Rekomendasi