Bagi Wahyu Vian Nugroho (23), PSIM Yogyakarta bukan sekadar klub sepak bola, tetapi bagian dari hidupnya. Pria ini bukan orang Yogyakarta, ia lahir dan besar di Magelang. Namun, hatinya justru tertambat pada PSIM.
Ketertarikannya pada PSIM bahkan bermula sejak ia masih duduk di bangku SD. Saat liburan ke Yogyakarta, Vian diajak pamannya menonton PSIM. Sejak saat itu, ia jatuh cinta dengan PSIM hingga kini.
"Dulu saya diajak Pakde nonton PSIM sekitar tahun 2013 saat liburan," kenang Vian saat ditemui merdeka.com pada Sabtu (9/3/2025).
Suara sorakan suporter, atmosfer stadion, dan kebanggaan akan klub ini membuatnya jatuh cinta pada Laskar Mataram sejak pandangan pertama. Seiring bertambahnya usia, kecintaannya terhadap PSIM semakin kuat.
Pada 2016, ia bergabung dengan komunitas suporter Brajamusti, khususnya Brijams (Brigade Jalan Magelang Bersatu) yang menjadi wadah bagi pendukung PSIM di Magelang.
Advertisement
Awal Mula Nazar Terucap
Cinta Vian terhadap PSIM tak hanya tentang sorak-sorai kemenangan, tetapi juga kesetiaan di saat terpuruk. Tahun 2018 menjadi ujian terberat bagi Laskar Mataram, ketika klub kebanggaannya dihukum pengurangan sembilan poin akibat kasus tunggakan gaji tiga pemain asing asal Belanda—Kristian Adelmund, Emile Linkers, dan Lorenzo Rimkus.
Sanksi berat dari FIFA itu membuat PSIM terpuruk di papan bawah dan terancam turun kasta ke Liga 3.Bagi Vian, situasi ini seperti mimpi buruk. Setiap pertandingan terasa seperti pertaruhan terakhir.
Namun, di tengah ketidakpastian, ia tetap hadir di tribun, menyanyikan lagu-lagu dukungan dengan suara serak dan hati yang penuh harap. Hingga akhirnya, momen penuh haru itu tiba.
Pada 16 Oktober 2018, di Stadion Sultan Agung, Bantul, PSIM menutup musim dengan kemenangan dramatis 3-2 atas Madura FC. Kemenangan yang bukan sekadar tiga poin, tetapi simbol dari perjuangan tak kenal lelah.
Saat wasit meniup peluit panjang, Vian tak mampu menahan air mata. "Waktu itu saya nangis di stadion, saking senengnya PSIM bisa bertahan," kenangnya.
Dalam suasana bahagia dan dengan hati yang dipenuhi rasa syukur, Vian mengucapkan nazarnya. "Sesok nek Liga 1, aku jalan kaki seko Mandala ning Muntilan (Besok kalau masuk Liga 1, aku jalan kaki dari Mandala sampai Muntilan)" ujar Vian.
Advertisement
18 Tahun Penantian, Vian Jalan Kaki 30 Kilometer Tunaikan Nazar
Perjalanan panjang PSIM Yogyakarta akhirnya menemui ujung yang indah. Setelah 18 tahun menanti, Laskar Mataram itu resmi promosi ke Liga 1. Kepastian ini datang setelah PSIM mengalahkan PSPS Pekanbaru dengan skor 2-1 dalam matchday terakhir Grup X babak delapan besar Pegadaian Liga 2 2024/2025.
Bagi Vian, momen ini bukan sekadar kemenangan. Ini adalah jawaban atas penantian panjang, harapan yang tak pernah padam, dan bukti bahwa cinta untuk PSIM tak hanya diucapkan, tapi juga diperjuangkan.
Di tengah kebahagiaan, Vian tahu ia harus menepati janjinya. Meskipun tidak bisa menyaksikan langsung final di Solo karena pekerjaan, Vian tetap teguh pada nazarnya. Tiga hari setelah kemenangan bersejarah itu, tepat pukul 22.30 WIB, ia memulai perjalanan dari Stadion Mandala Krida, Yogyakarta. Ia berjalan sambil membawa bendera komunitas kebanggannya.
"Kemarin pas di Solo, saya enggak bisa berangkat karena kerja. Saya terus melakukan nazar tiga hari setelah tim juara. Mulai dari Mandala jam setengah 11 malam, yaa perjalanan sekitar 30 km lebih" ujar Vian.
Awalnya, ia ditemani banyak rekan dari komunitas suporter. Namun, seiring berjalannya waktu, di perbatasan Jombor hanya tersisa empat orang. Udara malam semakin dingin, kaki mulai terasa lelah, tapi semangatnya tak surut.
Advertisement
Dapat Dukungan dari Brigata Curva Sud
Ada momen tak terduga yang membekas di hati Vian saat ia sampai di Sleman. Tak disangka, sejumlah suporter PSS Sleman dari komunitas Brigata Curva Sud (BCS) menyambutnya. Mereka memberikan air minum dan makanan sebagai bentuk solidaritas.
"Ternyata ada juga anak BCS yang nyimak. Dulu, PSIM dan PSS sering bentrok, tapi sekarang sudah damai, karena tragedi Kanjuruhan. Sekarang pakai jersey, atribut sudah bebas, bahkan kalau ketemu anak BCS, bisa saling sapa dan dadah-dadah." kata Vian.
Saat matahari mulai menampakkan sinarnya, Vian akhirnya tiba di Muntilan pada pukul 06.00 pagi. Tubuhnya lelah, tapi hatinya penuh kebahagiaan.
"Capek, tapi bahagia. Ini nazar" ucapnya penuh haru.
Bagi Vian, perjalanan ini bukan sekadar menempuh jarak 30 kilometer. Nazar ini juga menjadi bukti bahwa cintanya untuk PSIM bukan sekadar kata-kata, melainkan komitmen yang dipegang teguh.
Advertisement
Pernah Jual HP hingga Membuat Tato
Dukungan Vian untuk PSIM tak berhenti sampai di situ. Ia bahkan memiliki tato bertuliskan "1929", tahun berdirinya PSIM di lengan kirinya.
"Saking cintanya, sampai bikin tato. Enggak tahu juga kenapa suka banget sama bola," ucapnya sambil tertawa.
Ia juga rela menjual HP demi menonton pertandingan PSIM ke Kediri. "Dulu waktu away ke Kediri, aku jual HP seharga Rp 550 ribu buat biaya akomodasi dan uang saku," kenangnya.
Away ke Kediri adalah pengalaman berharga, meskipun harus berhadapan dengan situasi mencekam akibat bentrokan suporter. Selain itu, Vian juga aktif mengelola komunitas suporter di wilayah Muntilan.
Ia bertanggung jawab atas tiket dan koordinasi keberangkatan suporter. "Banyak yang taunya Brajamusti aja, padahal ada banyak komunitas kecil di dalamnya," jelasnya.
Bagi Vian, menjadi suporter bukan hanya tentang datang ke stadion, tetapi juga menjaga solidaritas dan persaudaraan antaranggota komunitas.
Advertisement
Ungkapan Terimakasih Rafinha pada Suporter PSIM
Di antara banyak sosok yang berjuang membawa Laskar Mataram kembali ke kasta tertinggi, satu nama bersinar terang, Rafael Rodrigues, atau yang lebih akrab disapa Rafinha. Rafinha, memiliki peran besar dalam keberhasilan PSIM Yogyakarta menjuarai Pegadaian Liga 2 2024/25.
Konsistensi dan performa impresifnya menjadi salah satu kunci kesuksesan Laskar Mataram dalam meraih gelar juara musim ini.Tak hanya itu, Rafinha juga dinobatkan sebagai pemain terbaik di kompetisi kasta kedua Indonesia musim ini. Striker asal Brasil tersebut menunjukkan performa luar biasa dengan mencetak 20 gol dari total 22 pertandingan bersama PSIM.
Tak lupa, Rafinha pun mengapresiasi dukungan luar biasa yang diberikan suporter PSIM sepanjang musim. Ia memahami betapa besar arti kemenangan ini bagi mereka yang selalu setia mendukung, baik dalam suka maupun duka.
"Untuk suporter PSIM, kalian luar biasa. Penuh semangat, saat-saat baik dan ada saat-saat buruk, kalian selalu mendukung kami. Semangat kalian, atmosfer kalian, energi kalian membuat para pemain memberikan lebih dari 100 persen. Terus dukung dan tampilkan cara yang kalian tampilkan di setiap pertandingan," ujarnya pada Senin (3/3) dikutip dari ligaindonesiabaru.com.
Advertisement
Peran Suporter dan Pegadaian Liga 2
Sepak bola bukan sekadar permainan selama 90 menit di atas lapangan. Suporter adalah nyawa setiap klub, pemain ke-12 yang selalu hadir untuk memberikan energi dan semangat. Mereka datang bukan hanya untuk menyanyikan lagu kebanggaan atau mengibarkan bendera, tetapi juga sebagai penjaga identitas klub.
Dukungan mereka tidak terbatas di stadion, tetapi juga terasa dalam kehidupan sehari-hari, dari menempuh perjalanan jauh, mengorbankan waktu, hingga merelakan materi demi tim kebanggaan.
Pada Pegadaian Liga 2, kesetiaan suporter menjadi pemandangan yang tak pernah pudar. Mereka selalu ada, membuktikan bahwa sepak bola lebih dari sekadar angka di papan skor. Suara yang menggema di tribun menjadi dorongan tak ternilai bagi para pemain di lapangan.
Tapi di era sekarang, sepak bola juga butuh dukungan finansial yang kuat. Di sinilah peran sponsor seperti Pegadaian dan BRI menjadi penting, membantu klub berkembang, menggaji pemain, dan menjaga kualitas kompetisi.
Pegadaian Liga 2 bukan sekadar kompetisi, tetapi juga upaya membangun ekosistem sepak bola yang lebih profesional. Dengan dukungan finansial yang stabil, klub dapat berkembang, menggaji pemain secara layak, dan meningkatkan kualitas pertandingan. Sponsorship ini menciptakan liga yang lebih sehat dan kompetitif, memberi kesempatan bagi klub-klub bersejarah untuk kembali bersaing di level tertinggi.
Bagi suporter, promosi klub ke Liga 1 adalah puncak dari segala perjuangan. Lihat saja euforia Brajamusti saat PSIM akhirnya berhasil naik kasta setelah 18 tahun penantian. Air mata bahagia, pelukan hangat, dan konvoi kemenangan menjadi bukti bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga, tetapi juga tentang jiwa dan kebersamaan.
Pegadaian Liga 2 bukan hanya tentang persaingan, tetapi juga bagian dari perjalanan panjang klub dan suporter dalam membangun identitas serta mimpi mereka di sepak bola Indonesia.
Advertisement
Harapan untuk PSIM di Liga 1
Kini, PSIM bersiap menghadapi tantangan baru di Liga 1. Bagi Vian, bertahan di kasta tertinggi adalah prioritas utama.
"Aku enggak mikir juara, yang penting bertahan dulu. Karena bertahan di Liga 1 juga penuh tantangan," katanya.
Ia juga berharap manajemen PSIM bisa mempertahankan skuad yang sudah terbentuk, terutama tiga pemain asing, Rafael Rodrigues (Rafinha), Omid Popalzay, dan Yusaku Yamadera.
"Kalau beli pemain, jangan sampai salah pilih lagi. Terus untuk trio asing dipertahankan semua. Soalnya kalau diganti, membangun chemistry-nya bakal sulit lagi. Harapanku di Liga 1 nanti, banyak pemain yang dipertahankan aja. Musim ini mereka bagus semua, menurutku di Liga 1 juga mampu bersaing," ujarnya.
Bagi Vian, PSIM lebih dari sekadar klub sepak bola. "Arti PSIM lebih dari sekedar sepakbola. Kalau saya mengartikan, di dalam sepak bola ada cinta, kekecewaan, tapi tetap bertahan di situ, enggak bisa ke lain hati," katanya.
Perjalanan PSIM ke Liga 1 bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan baru. Seperti kata Vian dan pendukung setia PSIM lainnya, "Kulonuwun Liga 1!"